-->

Ruang Toggle

Sastra Luar Pagar

huri-pagarKomunitas sastra di Surabaya merupakan barang langka. Jumlah komunitas ini bisa dihitung dengan jari. Eksitensi komunitas pun terbatas di kampus- kampus besar.

Mereka seolah menjadi benteng terakhir tempat berlindung dan berkembangnya para pegiat sastra Kota Pahlawan. Berikut komunitas sastra yang masih bertahan. Forum Studi Seni dan Sastra Luar Pagar (FS3LP) Surabaya adalah gerombolan manusia yang gandrung berpikir kelewat keras kepala perihal sastra dan seni.Komunitas ini didirikan 1998 sebagai sebuah tindakan subversif terhadap pengajaran sastra yang terkungkung tembok akademis dan terkesan statis.

Lahir dari rahim bernama Komunitas Gapus (Gardu Puisi) yang sudah ada sejak 1989, oleh sekawanan mahasisiwa Sastra Indonesia Unair yang gemar pada sastra dengan melakukan kegiatan diskusi,baca dan tulis karya sastra, serta beberapa pentas yang sifatnya lebih insidental. Pada tahun 1994,komunitas ini mulai melakukan latihanlatihan rutin teater, dan mengubah nama menjadi Teater Gapus Surabaya. Dan kini Gapus menjadi sebuah badan semi otonom di bawah naungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair.

Sedangkan anggotanya yang sudah lulus kuliah atau semester akhir yang mendalami sastra bergerak di Luar Pagar. Anggota komunitas ini awalnya lebih banya melakukan diskusi di sebuah warung kopi. Segerombolan orang ini sebenarnya juga mahasiswa Unair, kebanyakan Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra yang kini telah berubah menjadi Fakultas Ilmu Budaya (FIB).Kebiasaan cangkruk di warung itu mendapat sorotan negatif dari para dosen.Mereka dianggap mahasiswa pemalas yang tidak berprestasi. ”Seharusnya mahasiswa tidak menghabiskan waktunya di warung.

Pulang kuliah kan sebaiknya belajar,” begitulah ucapan salah satu ucapan dosen kolot.Tapi dosen tersebut pastilah harus menarik kembali ucapannya yang sembrono itu. Sebab dari trotoar itu banyak lahir para penulis-penulis besar dalam bidang seni,budaya, dan sastra. Siapa kini yang tidak kenal Mashuri,juara pertama lomba penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2007.

Selain itu beberapa nama lain di antaranya Ribut Wijoto juara pertama dan harapan satu lomba esai nasional Balai Bahasa Pusat 2001, Indra Tjahyadi juara pertama antologi puisi UI 1999,Deny Tri Aryanti juara III Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) 2002, Dheny Jatmiko juara III 2006, masih ada lagi F Aziz Manna, Imam Muhtarum,Ahmad Faishal dan masih banyak lainnya. Karya-karya tulis mereka juga sudah membombardir berbagai media lokal,nasional,hingga luar negeri. Embrio lahirnya FS3LP adalah anak-anak Teater Gapus yang sedang ngangsu kaweruh di Universitas Airlangga.

Anggota komunitas ini juga terlanjur percaya,Tuhan bersama orang-orang yang nekat. Namun seiring waktu dan pendewasaan pemikiran FS3LP berbenah menjadi sebuah perkumpulan resmi yang telah didaftarkan dalam akta notaris. Dengan perubahan ini diharapkan bisa lebih serius dalam gerak dan menggerakkan sastra dan seni. Kini anggota FS3LP tidak semuanya berdomisili di Surabaya. Usai kuliah mereka pun dituntut olah persoalan masing- masing,pekerjaan, pendidikan, hingga urusan rumah tangga. Mereka ”tercecer” di Jakarta,Probolinggo,Sidoarjo, Lamongan, Bangkalan, hingga ke luar negeri.

Tapi hanya dengan satu komando mereka akan berkumpul di sebuah warung atau juga sebuah resto untuk membicarakan segala hal tentang sastra. Komunitas Rabo Sore (KRS) berdiri pada tahun 2003 di FBS Unesa.KRS digagas oleh beberapa mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu (jurusan). Mengingat minimnya perkumpulan yang menggeluti sastra pada waktu itu,maka tumbuhlah pemikiran untuk membuat semacam wadah agar gagasan kreatif dapat tersalurkan dengan baik.Pertemuan itu dilakukan setiap hari Rabu sore di pelataran kampus FBS Unesa. Mereka membahas karya secara bergiliran, menuang kopi, bercerita tentang proses kreatif dalam suasana yang rileks.

Lalu jumlah mereka semakin bertambah, dan terus bertambah. “Lalu beri nama komunitas ini Komunitas Rabo Sore (KRS),” ungkap Alek Subairi, salah satu pendiri KRS bersama Didik Wahyudi dan A Muttaqin. Dalam perjalanannya,KRS mengalami jatuh bangun.Benturan- benturan yang lazim terjadi baik dari luar komunitas maupun intern. Beberapa nama yang semula gigih melakukan aktivitas, satu-satu mulai menyusut dengan menyisakan problem yang agak rumit dan sulit dimaklumi. “Hal ini memang kami anggap sebagai seleksi alam,”terangnya.

Dari komunitas ini lahirlah berbagai buletin dan jurnal sastra yang cukup berpengaruh. Sayangnya keberadaan media cetak independen itu tak bisa bertahan lama. Beberapa karya dari anggota KRS kemudian diterbitkan dalam antologi bersama dan antologi tunggal. Buku-buku yang sudah diterbitkan di antaranya, “Album Tanah Logam” 2005(kumpulan puisi bersama),“Duka Muara” 2007 (kumpulan puisi bersama), ”Kusir Bulan Gunjai” 2011 (kumpulan puisi dan cerpen), “Kembang Pitutur” 2011 (kumpulan puisi tunggal Alek Subairi),“Pembuangan Phoenix”( kumpulan puisi tunggal A.Muttaqin).

Pada pertengahan 2010 Komunitas ini dan didukung oleh beberapa teman dari komunitas lain menggagas penerbitan sebuah jurnal puisi, yaitu Jurnal Puisi Amper”. Jurnal puisi Amper terbit pertama kali pada pertengahan Mei 2011, dengan judul “Di Bawah Gamelan Gatoloco Jalan ke Sumber” yang memuat karya 41 penyair empat penulis esai, serta satu manuskrip puisi. Komunitas sastra berikutnya adalah Cak Die Rezim (CDR). Komunitas ini berawal dari komunitas maya yang sama-sama menyukai tulis-menulis.Mereka berharap CDR melahirkan penulis- penulis berkualitas masa depandariSurabaya.

Komunitas ini memang masih sangat muda usianya dan masih butuh banyak belajar. Nama Cak Die diberikan dari sebuah nama warung kopi di mana komunitas maya itu digagas. Sedangkan, kata Rezim menjadi kata yang begitu saja dipilih agar mudah diingat dan diucapkan.Menurut salah satu penggagas CDR Wildansyah Bastomi,kata-kata tersebut seperti lubrikasi yang membantu agar Cak Die Rezim lebih enak diucapkan siapa saja.

”Supaya mendekati kata yang sudah dikenal oleh masyarakat umum, Cak Durasim. Kami menyepakati bahwa CDR berdiri pada 8 Agustus 2008,” katanya. zaki zubaidi

*)SIndo, 19 September 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan