-->

Kronik Toggle

Perguruan Tinggi Lawan Plagiarisme

JAKARTA – Perguruan tinggi negeri dan swasta mendukung sejumlah upaya internal kampus dan pemerintah untuk melawan plagiarisme. Ajakan untuk menindak tegas pelaku dan meng-online-kan karya ilmiah terus didorong.

Idrus Paturusi, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), yang dihubungi dari Jakarta, Jumat (8/6), mengatakan, tiap perguruan tinggi perlu mengembangkan sistem sendiri untuk memerangi plagiarisme, baik untuk kalangan mahasiswa maupun dosen. Dalam pembuatan tugas akhir, misalnya, dosen pembimbing mesti cermat dalam memeriksa karya ilmiah mahasiswa yang dibimbingnya.

”Di kalangan dosen pun, plagiarisme tetap bisa terjadi. Kampus harus bertindak tegas terhadap dosen seperti ini,” kata Idrus.

Menurut dia, dorongan untuk memublikasikan karya ilmiah mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 secara online mesti didorong. Jika publikasi ilmiah di tiap kampus dilakukan secara terbuka, pelacakan atas plagiarisme bisa lebih mudah dilakukan.

Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTSI) Edy Suandi Hamid mengatakan, dalam tiap kesempatan, APTSI mendorong semua PTS agar bersikap tegas kepada pelaku plagiarisme. Ajakan untuk meng-online-kan skripsi, tesis, dan disertasi mahasiswa di tiap kampus terus dilakukan.

”Pemanfaatan portal Garuda milik Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi juga kami lakukan. Cara ini mungkin lebih mudah karena sistemnya sudah ada,” kata Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini.

Seperti diketahui, pemerintah telah membuat situs jurnal Garba Rujukan Digital Nusantara (Garuda) sejak dua tahun lalu. Situs ini untuk memublikasikan karya ilmiah di Indonesia.

Dari penelusuran di laman http://garuda.dikti.go.id, terdata sebanyak 254 kontributor, terdiri dari perguruan tinggi dan jurnal. Padahal, jumlah PT di Indonesia lebih dari 3.000 universitas dan 250 jurnal ilmiah perguruan tinggi yang terakreditasi.

”Sistem Garuda tidak stabil, datanya sering hilang. Biasanya kalau itu terjadi, unit sistem informasi UII mengontak pengelolanya,” kata Edy.

Guna mengembangkan kualitas penelitian dan karya ilmiah kalangan PT di Indonesia, Idrus mengatakan, MRPTNI akan membuat jurnal ilmiah berkelas internasional. Pada Juli ini, rencananya akan diluncurkan tiga jurnal, yakni bidang sosial, sains dan teknologi, serta kesehatan.

Idrus menjelaskan, penerbitan jurnal internasional ini dibutuhkan karena peneliti Indonesia kesulitan memublikasikan tulisan di jurnal ilmiah internasional di luar negeri. Padahal, kum atau angka kredit di jurnal internasional 40, sedangkan jurnal nasional 25.

Sumber: Kompas, 9 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan