-->

Lainnya Toggle

Penulis Ini Ogah Bukunya Diterjemahkan ke Ibrani

New York: Penulis buku The Color Purple Alice Walker membuat keputusan mencengangkan. Pada surat yang dilayangkan ke Yediot Books, 9 Juni 2012, Walker menolak buku tentang kisah perbudakan kaum kulit hitam di Amerika itu diterjemahkan ke bahasa Ibrani. Alasannya Israel adalah negara modern yang menganut apartheid (perlakuan berbeda karena warna kulit).

Dalam suratnya, Walker secara tegas menyebut Israel bertanggung jawab dalam politik apartheid dan penganiayaan warga Palestina, baik di dalam negara Israel atau di kawasan permukiman. Surat Walker tersebut kemudian muncul di situs Kampanye Palestina untuk Boikot Produk Budaya dan Akademi Israel, pada 17 Juni 2012.

Walker menyatakan dukungan terhadap boikot, divestasi, dan sanksi terhadap Israel. Ia bahkan menawarkan bantuan untuk membantu gerakan tersebut. “Supaya bisa memberikan dampak kuat bagi penduduk Israel agar bisa mengubah situasi yang ada,” tulis dia.

Tidak begitu jelas cerita tentang pemberhentian penerjemahan “The Color Purple”. Apakah memang Yediot meminta izin menerjemahkan buku Walker atau perempuan 68 tahun itu meminta menghentikan proses penerjemahan. Sebab di Israel sudah beredar satu versi dalam terjemahan bahasa Ibrani.

Walker menyebut kebijakan Israel lebih buruk daripada segregasi kulit hitam dan kulit putih yang ia alami. Bahkan menurut Walker, sejumlah warga Afrika Selatan yang mengalami apartheid pun mengakui bahwa politik Israel jauh lebih mengerikan.

The Color Purple adalah buku yang berhasil meraih Pulitzer untuk kategori Fiksi pada 1983. Buku ini pun sudah dibuat menjadi film pada 1985 oleh sutradara berdarah Yahudi, Steven Spielberg. Pemain utama dalam film ini adalah pembawa acara ternama Oprah Winfrey dan artis Whoopi Goldberg.

Film itu berhasil mendapat 11 nominasi Oscar. Kisah kakak beradik berkulit hitam itu juga menjadi obat perlakuan rasisme di Amerika Selatan pada awal abad 20. Walker kini telah semakin terbuka menyatakan sikapnya sebagai aktivis anti-Israel. Ia mengunjungi Gaza dan melakukan advokasi atas nama Palestina.

*)Tempo.co, 20 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan