-->

Kronik Toggle

Peluncuran Biografi Hartarto Sastrosoenarto

Dari kiri, Redaktur Senior Kompas August Parengkuan, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar, mantan Menteri Perindustrian 1983-1993 dan mantan menteri koordinator sejumlah bidang 1993-1999 Hartarto, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, dan mantan Wakil Presiden Try Sutrisno.

Dari kiri, Redaktur Senior Kompas August Parengkuan, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar, mantan Menteri Perindustrian 1983-1993 dan mantan menteri koordinator sejumlah bidang 1993-1999 Hartarto, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, dan mantan Wakil Presiden Try Sutrisno.

JAKARTA–Hartarto Sastrosoenarto, pemegang jabatan empat jabatan menteri masa pemerintahan Orde Baru, sepanjang tahun 1983 sampai dengan tahun 1993. Sabtu (9/6) malam lalu, Hartato merayakan ulang tahunnya yang ke-80 dengan meluncurkan sebuah buku karyanya, pada sebuah perhelatan di Jakarta.

Sejumlah tokoh hadir, yang menunjukkan pergaulan luas Hartarto di masa lalu hingga masa kini. Mereka, antara lain, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakri, dan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution.

Hartarto mengaku masih mengikuti perkembangan Indonesia mutakhir, terutama di sektor ekonomi. Pria yang dikenal dengan suara bariton yang berat dan masih tegap berjalan di usia delapan dekade ini, meski terkesan lamban. Namun, pikiran Hartarto tetap jernih. Dia menilai Indonesia masa kini beruntung oleh pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.

Indonesia cepat beradaptasi dengan perubahan lanskap ekonomi dan politik dunia. Ketika ekonomi Eropa dan Amerika Serikat merosot, serta politik Timur Tengah mengalami pancaroba, Indonesia mampu mencari mitra ekonomi alternatif ke belahan dunia lain.

Jika ada yang perlu dipesankan, katanya, adalah infrastruktur dan konektivitas. Pemerintah harus berkonsentrasi menyediakan infrastruktur dan konektivitas terbaik demi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan akses masyarakat pada ekonomi. Buku yang diluncurkan ditulis oleh sebuah tim berjudul Perjalanan Pemikiran dan Karya Hartarto, dengan subjudul ”Menteri Perindustrian 1983-1993, Menteri Koordinator 1993-1999”. Hartarto menyatakan dalam sambutan, demi menyebarluaskan pemikirannya, bukunya boleh difotokopi.

Istri Hartarto, R Hartini Soekardi, mengisahkan, semasa muda ia ditinggal Hartarto ke Australia untuk kuliah. Hanya berhubungan melalui surat-menyurat pos. Hartarto menulis surat kepada Hartini setiap minggu. Wartawan senior August Parengkuan mengungkapkan, Hartarto seorang yang mengikuti pemikiran Bung Karno, jangan sekali-sekali melupakan sejarah (jas merah).

Seperti Bung Karno yang mengingatkan bahwa VOC memiskinkan Indonesia dengan mengekspor bahan mentah, pada masa tugasnya sebagai menteri perindustrian, Hartarto juga demikian. Penerima lima gelar doktor honoris causa yang selama 40 tahun bekerja di lingkungan pemerintah ini menolak ekspor bahan mentah dan mendesak agar Indonesia hanya boleh mengekspor hasil olahan.

”Hartarto seorang yang get well done. Ia sendiri ingin memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan sebagaimana gagasannya,” ungkap August.

Hartarto lahir 30 Mei 1932 di Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Ia kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung dan bertemu calon istrinya saat Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA). Hasil KAA, Hartarto mendapat beasiswa kuliah di Sydney.

Ia sempat mendapat tawaran bekerja oleh Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan Chairul Saleh sebagai Direktur Permigan (Perusahaan Minyak dan Gas Negara) yang ditolaknya karena sambutan direksi yang dingin saat itu. Hartarto memilih bekerja di Pabrik Kertas Padalarang Leces. Karier pemerintahnya dimulai sebagai Dirjen Industri Kimia Dasar (1979-1983) dan berlanjut hingga 1999 sebagai Menteri Koordinator Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara. (ODY)

Sumber: Kompas, 10 & 11 Juni 2012, “Konsisten Menolak Ekspor Bahan Baku”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan