-->

Kronik Toggle

Opini Tokoh tentang Pembakaran Buku Gramedia

“Saya heran dengan sikap polisi yang membiarkan pemusnahan itu terjadi, polisi adalah penegak hukum yang seharusnya bisa menyelesaikan kasus ini. Kalau ada laporan soal keberatan mengenai isi buku, ya harusnya lekas ditindak. Ormas sama seperti mengirimkan pesan berupa tekanan secara sepihak. Gramedia seperti membenarkan adanya tekanan secara sepihak dari pihak ormas tersebut. Ibaratnya, kalau ada maling lalu dihakimi ramai-ramai tanpa ada solusi lain. Ini kan mengerikan. Jika ada kasus serupa, sebaiknya masyarakat melaporkan langsung ke kejaksaan. Keputusan pengadilan jauh lebih bermanfaat ketimbang melakukan pemusnahan. Dalam keputusan pasti akan jelas apakah substansi dalam buku memang isinya berbahaya bagi masyarakat atau tidak.

(Indriaswati Dyah Saptaningrum-Direktur eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat -LSAM)

Saya baru mendengar tentang pemusnahan buku itu. Apa pun alasannya, sebaiknya selesaikanlah secara hukum. Dibandingkan dengan cara pemusnahan, lebih baik dilihat dari sisi substansinya terlebih dahulu.  Kalau benar sekiranya isi buku tersebut mengandung pelanggaran, ya harus dicari solusi lain.

(Anies Baswedan, Pengamat pendidikan)

“Ada cara selain pemusnahan untuk menangani buku kontroversial. Tanpa melihat dari sisi ekonomis, ada dua cara. Diedit atau diterbitkan buku bantahan lain. Saya tidak menyalahkan Gramedia atas tindakan pemusnahan buku itu. Namun, menurut saya, ketimbang dibakar, penerbit bisa saja menarik kembali buku-buku itu, mengeditnya, kemudian mendistribusikannya lagi. Apalagi yang bermasalah hanya satu halaman saja. Cara lain, penerbit itu bisa menerbitkan buku bantahan bagi yang kontra dengan buku itu.  Maka perang intelektual jadinya”.

(Bambang Trimansyah, Ketua Kompartemen Diklat Litbang dan Informasi Ikatan Penerbit Indonesia)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan