-->

Tokoh Toggle

Niduparas Erlang:Awalnya, Menulis karena Butuh Makan

Ketekunan Niduparas Erlang dalam menggeluti dunia cerpen mulai menunjukan buah manis. Dia dinobatkan sebagai 15 orang penulis muda berbakat dari seluruh Indonesia dan berhak mengikuti pertemuan penulis dan pembaca tingkat internasional di Ubud-Bali, 3-7 Oktober mendatang. Sebanyak 25 negara mewakilkan utusannya dalam forum bergengsi ini.

Rizal Fauzi – Kota Serang

Lelaki berkacamata minus dan bermuka tirus ini tak menyangka jika kumpulan cerpennya yang berjudul La Rangku yang diterbitkan Selasar Publishing dan Yayasan Seni Surabaya pada 2011 lalu itu, dapat membawanya ke Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Nidu menjadi satu-satunya wakil dari Banten yang berhak menjadi peserta sekaligus pembicara pada festival penulis dan pembaca tingkat dunia di Pulau Dewata tersebut.

“Aku satu-satunya yang berasal dari Banten. Sebanyak 14 lainnya berasal dari Jogja, Jakarta, Padang, Bandung dan daerah lainnya. Gak nyangka bisa terpilih. Soalnya ratusan orang dari seluruh Indonesia yang mendaftar sampai akhirnya hanya 15 orang yang dipilih,” ujarnya kepada BANTEN POS, Kamis (7/6).

Lelaki asal Kecamatan Petir ini mengatakan, dari data panitia seleksi tercatat sebanyak 279 penulis yang mengikuti seleksi. Namun, juri hanya menetapkan 15 penulis yang terpilih sebagai peserta. Komposinya terdiri dari lima penyair, lima cerpenis, empat novelis, dan satu esais. Mereka terdiri dari empat perempuan dan sebelas pria.

“Acaranya setahun sekali. Untuk UWRF 2012 ini yang menjadi kuratornya penulis-penulis senior. Ada Saut Poltak Tambunan, Acep Zamzam Noor, dan Cok Sawitri. Mendengar nama-nama kurator itu, awalnya sempat ragu juga untuk ikut. Tapi kapan lagi ada kesempatan,” ungkapnya.

Nidu menduga, cerpennya banyak berbicara tentang kelokalan Banten, termasuk setting dan budayanya. Maka, cerita inilah yang kemungkinan dia terpilih. Sebab, dari beberapa hasil karya UWRF tahun sebelumnya, para penulis muda Indonesia yang terpilih lebih banyak dari mereka yang berbicara soal kearifan lokal dalam tulisannya.

“Aku menunggu prosesnya juga lama. Dari mulai pengiriman naskah hingga pengumuman, sekitar satu tahun. Maret  tahun lalu dibuka, baru ada pengumuman Juni ini,” kata dia.

Untuk mencapai pada tahap seperti sekarang ini, bukan tanpa proses yang panjang. Pemuda kelahiran Serang 11 Oktober 1986 ini memulai belajar menulis saat jadi buruh pabrik di Kota Tangerang. Usai menamatkan belajar di Sekolah Teknik Menengah (STM, sekarang SMK) di Kota Rangkasbitung pada 2004 lalu dia menjadi buruh pabrik. Bosan menjadi buruh, akhirnya ia melanjutkan kuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang.

Awalnya, menulis bagi Nidu hanyalah upaya agar bisa bertahan hidup selama kuliah. Sebab, soal biaya pendidikan, Nidu memang tak bisa mengandalkan orangtuanya yang hanya tinggal ibunya.

“Aku bukan termasuk penulis produktif. Karena nulis juga hanya untuk menyambung hidup dan membayar uang kuliah. Makanya oleh teman-teman dikenal sebagai speasialis menulis untu lomba hehe..,” tuturnya terkekeh.

Memang, beberapa kali Nidu meraih juara lomba menulis baik tingkat lokal Banten, maupun nasional. Beberapa karya yang berhasil menjadi juara lomba itu kemudian dirangkum dalam antologi, diantaranya La Rangku (Selasar Publishing & Yayasan Seni Surabaya 2011) dan dinobatkan sebagai buku Cerpen Terbaik Festival Seni Surabaya 2011.

Selain itu ada Nyanyian Kesetiaan (2012), Lelaki yang Dibeli (2011), Yang Muda Yang Kratif (2010), Si Murai dan Orang Gila (2010), Rendezvous di Tepi Serayu (2009), dan Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (2010).

Sementara puisi karnya terangkum dalam antologi adalah “Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan” (2010), “Berjalan ke Utara” (2010), “Candu Rindu” (2009), dan “dari Batas Waktu ke Perjalanan Kamar sampai Kabar dari Langit” (2006).

“Sebelum menggantungkan hidup dari hanya hasil menulis, beberapa pekerjaan saya lakoni termasuk menjadi wartawan dan editor di media lokal Banten,” jelasnya. Nidu menganggap bahwa hal itu adalah perjalanan hidup yang harus dilaluinya hingga akhirnya bisa menjadi seperti sekarang ini.

“Dari sekian tahun pelaksanaan UWRF, baru tahun 2011 dan 2012 ini ada peserta dari Kota Serang yang juga mewakili Banten. Tahun 2011 adalah Wahyu Arya. Semoga tahun depan juga yang lain,” tuturnya.*

*)Bantenpos, 9 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan