-->

Kronik Toggle

Lima Lagu Menolak Bakar Buku

Salah satu tragedi terbesar dalam kemanusiaan adalah peristiwa pembakaran buku. Ini adalah penghinaan terhadap kemajuan manusia dalam menggunakan akal dan pikirannya. Namun yang lebih tragis dari tragedi itu adalah ketika sebuah penerbit membakar secara sukarela buku yang diterbitkannya, hanya karena ada segerombolan manusia yang menuntut pemusnahan kitab-kitab itu. Pengibaratan yang paling tepat mungkin adalah ketika seorang pengkhutbah yang harus menjahit mulutnya sendiri ketika sebagian dari kerumunan massa tidak bisa berkompromi dengan kebenaran yang disampaikannya.

Dalam rangka berkabung atas pembakaran buku oleh sebuah penerbit besar di negeri ini, kami hendak memberikan semacam upaya pengingat betapa buku sesungguhnya adalah puncak dari peradaban dan membakarnya, untuk alasan apapun mencerminkan tindakan tanpa kebijakan. Bagi banyak musisi dan band—yang rajin membaca—buku adalah inspirasi untuk mereka dalam mencipta karya terbaiknya. The Cure menerbitkan album pertama setelah membaca The Stranger karya Albert Camus, Morrissey membentuk band karena terlalu banyak membaca Oscar Wilde dan John Keats, dan band Skotlandia Josef K didirikan setelah Paul Haig membaca novel Franz Kafka The Trial. Dan sebagai upaya membayar hutang, banyak band yang kemudian menulis musik tribute untuk buku dan apa yang dikandungnya. Jadi jangan pernah meremehkan kekuatan buku, apalagi membakarnya. Namun jika anda ingin tetap membakar karena rasa marah anda, dan yang anda bakar adalah  “Cara Brilian Mendapat Jutaan,” atau “Lima Cara Murah Traveling Ke Eropa,” anda sebaiknya melakukannya sambil mendengarkan musik dibawah ini.

“Pressed In A Book,” The Shins, Oh, Inverted World

Bahkan jika anda tidak tahu dengan apa yang hendak disampaikan The Shins di lagu ini, anda masih bisa yakin bahwa komposisi ini sesungguhnya tentang keutamaan buku dan membaca buku. Seperti banyak lirik lagu The Shins yang lain, di lagu ini banyak yang tidak berhubungan satu sama lain dan penuh dengan sayap. //Problems arise and you fan the fire//Doted on like seeds planted in rows// The untied shoelaces of you life// Nurtured all year then presssed in a book//


Anda bisa yakin dengan dugaan itu, karena The Shins adalah band pertama di millennium baru yang menyasar kutu buku sebagai penikmatnya. Judul album Oh, Inverted World merupakan alusi kepada tulisan Karl Marx di Critique of Hegel’s Philosophy of Right, di mana Marx mempersalahkan agama untuk menciptakan apa yang dinamakan “inverted world consciousness”, kondisi yang bisa melepaskan diri umat manusia dari tanggung jawab sosialnya. Dan jika kemudian buku dibakar karena alasan agama, The Shins sudah dengan tepat menubuatkannya sepuluh tahun lalu.

“The Book I Read,” Talking Heads, ‘77

Talking Heads adalah band kutu buku untuk kutu buku dan para penulis buku. Penghormatan terakhir terhadap karya Talking Heads diberikan oleh pengarang penting Amerika Serikat Jonathan Lethem yang menulis buku seri Continuum 33 1/3 untuk album Fear of Music. Jamak untuk sebuah band yang didirikan oleh mahasiswa lulusan sekolah seni prestisius Rhode Island School of Design yang banyak berkisah tentang gedung, pegawai negeri, kehidupan selama perang dan tentu saja tentang buku. Dalam “The Book I Read,” Talking Heads secara literer meta-tekstual bercerita tentang menyanyi tentang buku atau menulis buku tentang membaca buku. Dan jika musik Talking Heads masih terdengar sangat progresif 30 tahun kemudian, serta David Byrne masih menjadi tokoh keren penting gerakan musik Avant Garde pop setelah 40 tahun muncul di scene rock, kami yakin hal tersebut ada hubungan dengan fakta bahwa Byrne masih tetap rajin membaca buku.

“Jangan Bakar Buku,” Efek Rumah Kaca, Kamar Gelap

Sama seperti Talking Heads, Efek Rumah Kaca—meski bukan lulusan sekolah seni—memainkan musik untuk mereka yang suka membaca buku, mahasiswa, pelaku LSM dan/atau mereka yang punya banyak waktu untuk berfikir tentang manusia dan alam semesta. Mereka melankolis tanpa pernah jatuh menjadi romantis murahan yang terlalu sibuk dengan hujan, angin malam dan kesunyian. Kesunyian Efek Rumah Kaca adalah jalan sepi memperjuangkan hidupnya akal sehat dan hal itu adalah kontribusi terbesar mereka melawan sinisisme pop mainstream. “Jangan Bakar Buku” tentu saja ditulis ketika periode pasca-reformasi justru juga melahirkan kejumudan baru yang ditandai dengan buku-buku yang harus menjadi abu. Dan sebelum penerbit itu membakar buku cetakan mereka sendiri ada baiknya mereka mendengar lirik ERK ini: //Karena setiap lembarnya, mengalir berjuta cahaya
karena setiap aksara membuka jendela dunia//
Kata demi kata mengantarkan fantasi
habis sudah//Habis sudah
bait demi bait pemicu anestesi//Hangus sudah, hangus//sudah

karena setiap abunya membangkitkan dendam yang reda//Karena setiap dendamnya menumbuhkan hasutan baka.

“Buku Ini Aku Pinjam,” Iwan Fals, 1910

Jauh sebelum Internet dan sosial media memusnahkan banyak misteri kehidupan (orang lain), percintaan lebih banyak melibatkan masalah menahan diri dan tentu saja, imajinasi. Malam, sendiri, gelap dan yang tersedia di atas meja belajar adalah buku pelajaran IPS atau novel Motinggo Busye yang kita pinjam dari si dia di siang hari sepulang sekolah. Iwan Fals dengan sangat sempurna menangkap tidak hanya kepolosan sebuah zaman, namun juga kepolosan percintaan yang belum dikotori oleh Hollywood, How I Met Your Mother atau puisi-puisi murahan yang kini setiap hari bersliweran di Twitter. Buku, dalam lagu Iwan Fals ini, bukan hanya sumber ilmu dan pengetahuan tapi juga sarana keramat untuk mengkomunikasikan perasaan dua manusia. Musik di lagu ini mungkin sangat terdengar khas dari era 1980-an, namun lirik Iwan Fals adalah puisi paling baik tentang dan untuk percintaan remaja. Banyak kehidupan remaja yang menjadi dewasa dengan lagu ini. //Buku ini aku pinjam//Kan kutulis sajak indah//Hanya untukmu seorang//Tentang mimpi mimpi malam//

“Books About UFO”, Husker Du, New Day Rising

Berbeda dengan banyak band hard-core dari era yang sama, yang banyak bercerita tentang meminum alkohol terlalu banyak sambil menonton televisi, band asal Minneapolis Husker Du bercerita tentang emosi dan rasa yang non-spesifik dan impresionistik tentang bagaimana rasanya menjadi berbeda—sentimen yang kemudian dibajak habis-habisan oleh emo dengan murah.

Hal tersebut juga menjelaskan kenapa Husker Du, meskipun jauh kurang dikenal, tetap menjadi salah satu band hard-core penting yang menjadi pujaan rockist yang melek-sastra. Meski mereka bercerita tentang banyak hal yang banal, namun ada kedalaman dalam kisah mereka. Dan digabung dengan distorsi guitar maksimal, sekaligus paling melodis dari belantara underground Amerika Serikat era Reagan, Husker Du bisa dengan mudah menjadi istimewa. “Books About UFO,” dengan sentuhan piano rockabilly tetap merupakan distilasi penting dari fragmen kehidupan yang berpusat dari kecintaan kepada buku. Walking down a sunny street to the library//Checking out the latest books on outer space//Going to the fruit stand to buy a dozen oranges//Then she and the books and the oranges go back to her place.

*)Jakartabeat.net, 15 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan