-->

Lainnya Toggle

Kuasa Kata

Oleh:Muhammad Shofa As-Syadzili

Ketika aksara ternyata memendam kuasa, kenapa kita biarkan ia liar berkelana?(M.Musthafa)

Dunia kata, dunia penuh makna. Didalamnya manusia akan diajak menelusuri lorong-lorong pengetahuan tak berujung. Kata akan menuntun, membimbing manusia melewati jalan berkelok penuh tanjakan dan duri. Adakalanya manusia terperangkap dalam permainan kata bila tidak melakukan pembacaan secara kritis terhadapnya.

Kata juga membawa kuasa dipundaknya. Dengan kuasanya, kata berusaha menyetir umat manusia untuk menguasai dunia, karenanya sebagian manusia yang berakal sempit berusaha mati-matian menghadangnya bahkan membunuhnya. Pertarungan kata dengan kata di panggung palagan intelektual bahkan sampai berdarah-darah hingga kerap nyawa manusia menjadi korbannya. Darisinilah tampak bahwa kata juga membawa beragam kepentingan.

Dunia kata memang dunia penuh makna. Di sana ada kebahagian sang pemantik pelatuk kata, ada juga kesengsaraan dan penganiayaan terhadapnya. Kebahagiaan sang pemantik pelatuk kata biasanya berupa penghargaan atas karya-karyanya yang bisa dinikmati oleh pembaca. Pembaca termotivasi dan terinspirasi dari kata-kata yang dilontarkannya melalui ujung penanya. Bila sudah demikian halnya, maka pemantik kata akan jadi gumaman abadi dari masa ke masa.

Pemantik kata yang bisa diajukan di sini adalah mereka yang karya-karyanya hingga saat ini bisa dan diperbolehkan untuk di baca, dikaji buah pemikirannya. Al-Ghazali misalnya. Tokoh bernama lengkap Abu Hamid Al-Ghazali ini merupakan pemantik kata yang dikenal oleh para manusia yang menelusuri lorong-lorong kata. Kata-kata yang dilepaskan melalui penanya menjadi jujugan di hampir seluruh universitas di dunia. Karya masterpiece-nya Ihya’ Ulumuddien bahkan menjadi bacaan wajib pesantren-pesantren di tanah air. Sampai-sampai ada celetukan andai saja tidak ada Al-Qur’an dan Hadits, maka Ihya ‘Ulumuddien inilah yang bisa menjadi pedoman dalam melaksanakan ritual keagamaan bagi umat Islam.

Nasib berbeda akan dialami oleh pemantik kata yang mencoba “dianggap“ mengusik kemapanan. Kata-kata yang ditembakkannya biasanya mencoba mendekonstruksi pola pikir masyarakat atau pembaca agar mempunyai perspektif yang berbeda dengan kebanyakan orang. Karya-karyanya menggebrak, menghantam nalar bebal manusia yang terselubungi oleh dogma-dogma teologi kebencian.

Ada ratusan bahkan ribuan pemantik kata yang di akhir hayatnya berakhir tragis. Adakalanya karya-karyanya di bakar, di kubur bersama kesedihan peradaban masa lalu yang kelam. Yang sangat menyedihkan bila rumah baca atau perpustakaan milik pemantik kata turut dimusnahkan., di coba untuk dihilangkan kisah hidupnya dalam sejarah panjang perjalanan manusia.

Kisah pilu beberapa pemantik kata yang semasa hidupnya mengalami siksaan dan intimidasi dari para perompak akal bisa dilihat dalam buku “Conference of the Book, The Search for Beauty in Islam“ karya Khaled Abou Fadl. Didalamnya, penulis kelahiran Kuwait itu menuturkan bahwa pemantik kata sering menerima perlakuan yang diskriminatif dalam hidupnya.

Bisa disebutkan di sini misalnya Imam Al-Nasa’i, salah seorang ulama’ pengumpul Hadits. Selama hidupnya hanya gara-gara tidak mau memuji Muawiyyah, ia mengalami penyiksaan yang tak terperi hingga ajal menjemputnya. Kemudian ada juga murid Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim Al-Jauziyyah yang di siksa dan di penjara. Dengan darah yang masih menyelimuti sekujur tubuhnya, diletakkan di atas keledai lalu di arak keliling kota. Caci maki, sumpah serapah dilemparkan oleh mulut-mulut yang mengaku paling suci dan paling benar serta berhak atas kata-kata. Yang sungguh-sungguh memilukan hati dan di luar prikemanusiaan adalah bila kita saksikan penderitaan yang dialami oleh Ibn Hayyan Al-Tawhidi dan Ibn Al-Mulaqqin.

Keduanya merupakan sang pemantik kata yang kecintaannya terhadap kata-kata yang ada di dalam buku sangatlah dalam. Ibn Hayyan Al-Tawhidi bahkan sampai membakar-buku-bukunya hanya karena dendam terhadap orang-orang yang menyiksanya. Sambil berteriak lantang dia menyatakan, “kalian tidak patut untuk mendapatkan pemikiran saya“.

Ibn Mulaqqin lain lagi. Kolektor ribuan buku ini bahkan harus terisak-isak menyaksikan si jago merah melalap perpustakaan miliknya. Dia duduk termangu, pandangannya kosong, bulir-bulir air mata berjatuhan dari kedua kelopak matanya saat menyaksikan perpustakaannya menjadi debu. Cobaan itu diterimanya hanya gara-gara Ibn Mulaqqin di tuduh melakukan penyuapan untuk menjadi seorang hakim agung di Kairo.

Dunia kata sungguh dunia tak bertuan. Selalu dan selalu akan terjadi perebutan lahan dalam dunia kata. Pelarangan diskusi buku “ Allah, Liberty and Love“ di Jakarta dan Yogya beberapa hari yang lalu merupakan bukti nyata bahwa akal sehat dan kebebasan berpikir akan selalu menghadapi banyak tantangan.

Melihat hal itu, umat Islam di zaman ini seharusnya tidak mengalami keterputusan dari roh peradaban Islam masa lalu yang menjunjung tinggi kreatifitas berpikir. Penulis mencoba untuk mengutip perkataan yang dituturkan oleh Khaleed Abou Fadl dalam buku tersebut. Ia berujar, “Buku bukan sekedar tentang ide-ide. Buku adalah tentang manusia, manusia sejati , selama berabad-abad memberi anjuran dan nasihat kepada manusia lain“.

Maka dari itu, marilah kuasai kata dalam buku, sebab kata mengajak manusia untuk menjadi manusia sejati, manusia yang tercerahkan. Bila tidak sepakat dengan kata-kata yang ada di dalam buku, tidak selayaknya melakukan tindakan bar bar pembubaran ataupun penyiksaan terhadap sang pemantiknya. Lawan dan conuterlah ia dengan kata-kata yang di kemas dalam bentuk buku. Sebab kata adalah senjata!.

*Jamaah Sema’an Naga Bumi Reading Club Surabaya.

**) RadarSurabaya, 3 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan