-->

Kronik Toggle

Karyawan PNRI Merasa Dikerangkeng Dalam Bekerja

JAKARTA — Sejumlah karyawan Perum Percetakan Negara RI (PNRI) mengeluhkan suasana kantor selama sebulan terakhir ini. Mereka merasa dikarengkang saat bekerja lantaran manajemen perusahaan itu membangun terali besi setinggi dua meter pada sela-sela koridor dan sudut bangunan kantor tersebut. Proyek sebesar Rp 2 Miliar itu tanpa tender.

Bahkan, akses masuk antara dua bangunan gedung tersebut hanya ada sebuah pintu di tengah-tengah teralis, yang kadang-kadang digembok. Para karyawan menduga pembangunan teralis besi tersebut sarat muatan kepentingan perseorangan. Selain membangun tanpa tender, proyek 2 miliar tersebut dinilai tidak tepat sasaran.

“Sebelumnya tidak seperti ini. Sekarang, kemana-mana akses untuk bekerja rada susah. Ini juga hal yang kami sesalkan. Proyek-proyek seperti ini justru tanpa lewat tender terlebih dahulu,” ujar Sarbini, karyawan PNRI, sekaligus kordinator aksi mogok kerja dan unjuk rasa karyawan.

Unjuk rasa karyawan itu digelar karyawan di kantornya, Kamis (17/6/2010). Dalam aksinya, karyawan yang mogok kerja itu berorasi di depan kantor PNRI. Mereka menilai  pihak perusahaan telah melakukan pelanggaran terhadap Keppres 80 tahun 2003.

Pasalnya, manajemen dianggap melakukan investasi baik itu mesin, jasa konsultan dan pembangunan seperti teralis-teralis tersebut tanpa tender dan tim pengkajian atau analisa.

“Kami sangat heran dengan manajemen yang sekarang. Teralis-teralis ini jelas membuat kami khawatir terhadap keselamatan kerja kami. Jika tiba-tiba terjadi kebakaran bagaimana? Bahkan seputaran teralis yang kaya kerangkeng ini hanya punya satu pintu kecil untuk akses keluar masuk karyawan. Apalagi, proyek-proyek ini tanpa tender lebih dulu. Ini yang terus kami perjuangkan,” tambah Sarbini.

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Percetakan Negara RI, Ismu Edy Wijaya serta jajaran Direksinya mendapat hadiah keranda mayat dari para karyawannya. Keranda tersebut sebagai ungkapan keprihatinan karyawan terhadap direksi yang dianggap akan mematikan PNRI secara perlahan lewat keputusan-keputusan yang dinilai tak tepat sasaran.

Aksi mogok kerja dan unjuk rasa hari ini merupakan buntut dari tuntutan karyawan PNRI terhadap perusahaan. Mereka menghendaki adanya reformasi total dan menyeluruh terkait manajemen perum PNRI yang dinilai menelantarkan karyawannya.

Dalam tuntutannya, karyawan mendesak agar disahkannya Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Mereka juga mengkritisi kebijakan upah lembur yang jauh dibawah standar.

Serta mengungkapkan keberatannya atas perekrutan orang-orang baru yang kemudian langsung menduduki posisi penting di perusahaan tanpa mempertimbangkan aspek jenjang karier karyawan yang lebih dulu berada di perusahaan.

*)Tribunnews, 17 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan