-->

Resensi Toggle

Kabar Resensi Pekan Kedua Juni 2012

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa cetak di Indonesia. Kabar ini disusun Aya Hidayah dan dibacakan Ratih Fernandez

Peranakan Tionghoa di Nusantara, Catatan dari Barat ke Timur

Karya Iwan Santosa

Resensi ditulis Riky Ferdianto

Dimuat KORAN TEMPO, 10 juni 2010

Peranakan Tionghoa adalah bagian dari keberagaman suku bangsa di Indonesia. Mereka tumbuh bersamaan dengan relasi perdagangan yang terbentuk sejak abad ke-11. Namun warga peranakan acap kali dipandang dengan stereotipe yang khas Orde Baru: antisosial, gila uang, dan tidak peduli lingkungan. Keunikan warga peranakan itu kini diabdikan oleh Iwan Santosa dalam buku terbarunya ini. Buku ini berisi kompilasi naskah asli seluruh tulisannya tentang budaya masyarakat peranakan yang ia tulis sejak 11 tahun lalu, baik sendiri maupun bersama sejumlah rekannya.

Bunga Jambu: Himpunan Cerita Pendek Remaja Dusun Jambu Kediri

Editor Ahmad Ikhwan Susilo

Resensi ditulis Yonathan Rahardjo

Dimuat JAWA POS, 10 Juni 2012

Cerita yang hidup adalah cerita yang saat setelah dibaca terasa sebagai kejadian yang nyata yang benar-benar terjadi dan terasa kesannya.  Mencapai cerita dengan standar seperti itu dapat ditempuh dengan berbagai cara. Tapi, intinya, sang pencerita (penulis) harus menjiawai ceritanya. Keberhasila penulis-penulis cerpen dalam kumpulan  cerpen Bunga Jambu ini dapat dirasakan dari seberapa besar penjiwaan mereka terhadap cerita masing-masing. Kedekatan kisah dengan pengalaman mereka alami saat berperan guna terciptanya cerita yang hidup.

TraveLove, Dari Ransel Turun ke Hati

Karya Trinity dkk

Resensi ditulis Sigit Widya

Dimuat TRIBUN JOGJA, 10 Juni 2012

Buku ini agak berbeda dibandingkan buku bergenre sejenis yang ditulis oleh Trinity. Selain bercerita tentang  travelling dan kisah asmara para pelakunya, bacaan ini memuat sembilan penulis top di bidangnya. Mereka adalah Andrei Budiman, Ariyanto, Claudia Kaunang, Lalu Abdul Fatah, Rei Nina, Rini Raharjanti, Sari Musdar, Salman Faridi, dan tentunya Trinity. Para petualang tangguh tersebut mengungkapkan sisi melankolis masing-masing, di balik kesan tangguh mereka sebagai penjelajah dunia. Dengan kata lain, kini mereka tidak malu untuk mengaku tunduk kepada cinta. Semua dibeberkan dengan gaya penulisan yang khas dan tanpa basa-basi.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan