-->

Tokoh Toggle

Julie Sutardjana: Si Penulis Resep

Pada usia 90 tahun, Julie Sutardjana masih berkarya dan tetap sehat. Tahun ini, ia merayakan 60 tahun berkarya dengan merilis buku resep aneka hidangan. Sudah lebih dari 50 buku ia tulis sejak tahun 1951. Semua tentang makanan lezat.

Kami memanggilnya Oma, meski nama ”bekennya” Nyonya. Tepatnya Nyonya Rumah, yang dipakainya sebagai nama pena ketika Julie Sutardjana menulis resep di harian Kompas sejak tahun 1971. Nyonya Rumah pula yang dijadikan nama dua rumah makan yang dikelolanya di Kota Bandung, Jawa Barat. Dunia masak-memasak, jagat makanan lezat, adalah milik Julie Sutardjana. Ia menikmati dunia itu dengan sukacita. Dengan air mata juga pada awalnya.

Kami berbincang-bincang dengan Oma Julie di rumah makan Nyonya Rumah di bilangan Jalan Naripan, Bandung, Selasa (5/6) siang. Oma saat itu baru kembali dari acara kerohanian. Ia memang tetap aktif. Wajahnya berbinar-binar segar. Jalannya masih nginthik, lincah seperti remaja. ”Padahal, ini sudah slow motion, lho, ha-ha-ha…,” katanya berseloroh tentang caranya berjalan.

Bagaimana dunia masak-memasak ini bermula?

Sebenarnya saya juga enggak mengerti. Saya berlatar belakang guru, ngajar segala macam pelajaran di SD, kok bisa bergerak di bidang masak-memasak. Tetapi, saya percaya sekali tangan Tuhan yang bekerja.

Awalnya saya nulis resep untuk majalah Star Weekly (tahun 1951) dan ini berlangsung selama 10 tahun. Setelah itu, menulis untuk mingguan Jaya 10 tahun. Ketika tabloid ini mau tutup, saya dihubungi Kompas, lalu menulis sejak 1971 sampai sekarang.

Mungkin juga pengaruh dari keluarga. Orangtua saya Konghucu, sering ada sembahyang dan sering ada masakan. Saya mulai perhatian terhadap masakan dari sini, saat berumur 10 tahun. Masak nasi pakai gerabah, biarpun gosong udah seneng, ha-ha-ha….

Kok sampai terpikir untuk menulis?

Karena seneng masak, yang saya buka saat baca Star Weekly adalah bagian resep. Mungkin karena guru, saya terlalu kritis. Jadi, saya bacanya sambil ngomel. Suami saya dengar, lalu dia bilang, ”Kamu kok ngomel melulu.” Saya ditantang apa bisa bikin resep yang lebih bagus. Saya bilang bisa. Saya pun disuruh nulis resep, lalu dikirim ke Star Weekly.

Karena enggak punya kertas, saya nulis di kertas sobek-sobek, pakai pensil. Saya bikin empat macam resep, lalu saya kirim. Saya deg-degan, keterima enggak ya. Ternyata diterima. Setelah itu, deh-degan lagi nunggu wesel. Mungkin dapat Rp 25 ya…, jadi teka-teki. Ternyata saya dapat Rp 75. Saya meloncat-loncat kayak orang gila karena (Rp 75) itu berarti lima kali lipat dari pendapatan saya ngasih les. Saya ini di samping ngajar kan juga ngajar les berhitung, sebulan sekali dapat bayaran Rp 15.

Saudagar batik

Julie Sutardjana merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara. Orangtuanya, pasangan Njo Wat Djiang dan Tjan Le Nio, adalah saudagar batik di Lasem, Jawa Tengah. Mereka mengirim Julie ke sekolah guru Hollandsche Chineesche Kweekschool di Jatinegara, Jakarta.

Setelah menikah dengan Oh Thian Hok atau Satia Sutardjana, seorang guru, Julie tinggal di Bandung. Julie mencari penghasilan tambahan dengan membuat kue. Pekerjaan ini dipandang sangat ”aneh” bagi keluarga saudagar batik. Bahu-membahu dengan sang suami, Julie bekerja agar ekonomi keluarga berputar. Suami membantu

mengantarkan kue. ”Dia sendiri pekerjaannya berat. Setelah ngajar pagi, dia ngajar sore, lalu malamnya kursus. Saya baru ketemu suami pada malam hari….”

Bagaimana keluarga memandang Oma yang saat itu membuat kue?

Dia (ibu) itu orang kecukupan, dagang batik dan punya pegawai ratusan. Tapi, saat itu, saya juga mengalami jualan kue sendiri. Sebenarnya saat itu belum pinter bikin kue, tapi saya coba bikin. Kata Mama, ”Kowe uripmu kok kangelan (hidupmu kok susah).”

Hati saya sakit, tapi Mama memang jujur. Saya dibandingkan dengan ipar yang kerjanya tingal muter telepon ngomong sebentar bisa dapat (uang) ratusan ribu. Adik kecil saya begitu. Setelah menikah, dapat rumah dengan segala isinya. Saya diam saja. Hati saya sakit.

Saya bikin lemper. Kalau pada umumnya lemper bikinnya dikepelin, saya bikin diler, pakai loyang. Lalu saya taruh daging, di atasnya ketan lagi, jadi lemper lapis. Lalu saya bikin etiket, tadinya mau pake tulip, tapi gambar enggak jadi-jadi. Satu saat saya liat antanan, tumbuhan yang daunnya merambat kecil-kecil. Akhirnya saya gambar antanan dan jadi etiket lemper lapis saya (sampai sekarang).

Lemper lapis ini waktu itu cukup unik karena belum ada orang yang bikin lemper seperti itu. Saya semula enggak jualan. Tapi, kalau ada acara gereja, saya nyumbang (lemper). Kalau ada arisan saya bikin.

Satu hari ada temen pesen sama saya. Dia heran melihat lemper saya, digigit di mana pun kena daging. Dia kenal pemilik toko Victoria di Jalan Pager Gunung. Pemilik toko pesen sama saya. Wah, saya seneng dapat pesenan. Setelah itu, pesenan lemper banyak. Tiap pagi mobil ngantri mau ngambil lemper.

Bagaimana menambah penghasilan keluarga guru?

Saya kerja sebagai guru setahun. Dimulai tahun 1951, habis ngajar, saya ngadonin kue kering pakai baskom, lalu dibungkus serbet. Saya lalu ke toko Bakery Zondag di Jalan Sumatera (Bandung). Di sana, saya numpang nyemprit, (membuat kue kering) karena saya enggak punya alat sendiri. Saya juga numpang manggang karena katanya kalau habis manggang roti, terus buat kue kering bagus. Saya bayar untuk bisa nyemprit dan manggang di sana.

Setelah kue mateng, suami datang naik sepeda. Sambil membawa kue-kue yang dikalengin, saya dibonceng sepeda menawarkan kue ke toko-toko. Menurut saya sih kuenya enak, tetapi ternyata ditolak. Pulang-pulang, saya nangis. Saya enggak pernah berjuang seperti itu karena saya berasal dari keluarga berkecukupan.

Saya lalu teringat kue ananas koekjes (nastar) yang pernah saya beli di Jatinegara sewaktu sekolah. Entah bagaimana caranya, saya mencoba bikin. Repot juga karena harus bikin selai sendiri. Saya bikin kuenya jadi berbentuk kotak-kotak, dipotong-potong. Jadi tidak seperti nastar yang ada sekarang. Resepnya sampai sekarang tetap my secret, ha-ha-ha….

Saya lalu ke Toko Tjilik di Pasar Baru (Bandung). Ternyata kue nanas saya diterima. Kue-kue saya yang tadinya dipoyokin (dicemooh) juga diterima semua. Keuntungan saya yang pertama Rp 3,5. Saya seneng. Uangnya saya belikan baskom gede buat ngadonin kue. Karena dibeli dari hasil kerja keras, baskomnya saya simpan meski sudah bolong. Yang bolongnya saya alasi kertas buat tempat arang.

Menulis buku

Buku kumpulan resep masakan pertama karya Julie Sutardjana terbit tahun 1957, berjudul Pandai Masak 1 dan Pandai Masak 2 terbitan PT Kinta, Jakarta. Sejak itu, sekitar 50 buku terbit, termasuk 250 Resep Pilihan Julie ”Nyonya Rumah” Sutarjana terbitan Gramedia Pustaka Utama, yang dirilis Mei lalu.

Bagimana mulai menulis buku resep?

Waktu itu (Penerbit) Kengpo nyuratin saya. Banyak orang minta resep yang saya tulis di Star Weekly itu dibukukan. Setelah buku saya terbit, hidup kami rada longgar. Saya bisa beli rumah di Jalan Culan itu hasil buku. Kalau enggak hasil buku, dari mana? Ini yang membuat saya bahagia. Saya bisa melihat langit tanpa diusik.

Bagaimana kemudian membuka rumah makan?

Saya mulanya enggak mau, tapi anak saya, Lily, bilang bukan waktunya lagi saya bangun tiap hari lalu kerja. Anak-anak punya usul bikin cake shop. Dengan punya cake shop, mereka bilang, saya bisa mengajarkan kepada karyawan membuat hidangan yang saya kuasai. Jadi, nanti tinggal ongkang-ongkang kaki, enggak perlu repot.

Sekitar 12 tahun lalu cake shop didirikan, lalu berkembang jadi restoran dan sekarang sudah ada dua restoran, di Jalan Naripan dan Jalan Trunojoyo.

Masih turun langsung mengontrol kualitas rasa?

Kalau owner-nya enggak ikut terjun, sering kali jalannya enggak bener. Kunci mengelola rumah makan itu adalah harus bisa menjaga makanan, jangan sampai ada yang rusak. Jadi, saya pun setiap hari turun mencicipi masakan.

Satu hari, saya mendapati bumbu tahu gimbal yang disimpan di kulkas terasa asam. Anak-anak bilang, asamnya karena cuka. Tapi, saya tahu itu bukan asam karena cuka, tetapi karena rusak. Bayangkan kalau makanan itu dikeluarin, pembeli bisa sakit perut. Jadi, semua makanan itu harus aman.

Bagaimana rutinitas Oma sehari-hari?

Waktu saya terisi semua. Bangun jam 06.00, mengucap syukur. Saya gerakkan badan, sendi-sendi, sambil berbaring selama 10 menit. Saya turun di karpet, melakukan hal yang sama. Setelah itu, jalan-jalan di gang 15 menit. Dulu sih bisa sampai 30 menit.

Lalu, saya baca koran Kompas dan PR (Pikiran Rakyat). Baca yang penting-penting dulu. Saya juga baca tentang Corby. Kasus Hambalang juga saya baca sampai bosan.

Setelah sarapan, jam 10.30 mandi, siap-siap pergi ke kedai untuk mengecek makanan. Saya pergi ke Naripan dulu, lalu Trunojoyo sampai sekitar jam 14.00. Setelah itu pulang, makan, baca koran lagi kalau enggak ngantuk. Kalau ngantuk tidur siang, bangun jam 17.00.

Jam 17.00, saya nonton TV. Kalau acaranya enggak menarik, saya baca majalah atau menjahit. Jahit apa saja, bikin serbet, lap panci, atau benerin baju-baju yang rusak. Saya orangnya memang enggak mau diam, enggak enak rasanya kalau diam. Saya bersyukur masih punya aktivitas karena banyak orang yang hanya diam di rumah mudah pikun.

Apa makna usia 90 tahun?

Saya syukuri hidup ini. Dulu setelah menikah, saya bilang sama Tuhan ingin anak 2 perempuan dan 2 laki-laki, saya diberi. Saya minta ingin keluarga bahagia. Buktinya sekarang semua tidak ada masalah, berkah melimpah. Semua saling mencintai.

Kalau liat iklan di koran, yang melewati usia saya hampir tidak ada. Mungkin Tuhan sudah lupa sama saya. Bonus umur saya sudah 20 tahun lebih karena rata-rata usia yang diberikan Tuhan adalah 70 tahun. Saya bersyukur di usia saya masih diberi kesehatan dan saya enggak pikun. Saya masih inget semua, termasuk bacaan saya waktu saya SD kelas VI.

Sekarang hidup saya manis, enggak kekurangan. Ini bukannya nyombong. Saya bisa nabung supaya enggak gerogoti uang anak, karena anak masih punya masa depan. Tuhan menopang hidup saya.

kisah cinta best seler1

*)Kompas, 10 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan