-->

Tokoh Toggle

HAR Tilaar:Berkarya hingga Akhir

Oleh Ester Lince Napitupulu

Sedianya ulang tahun ke-80 Prof Dr Henry Alex Tilaar, Sabtu (16/6), akan dirayakan di salah satu hotel di Jakarta, sekaligus peluncuran empat buku barunya. Namun, acara ini diundur hingga Juli nanti karena Alex, panggilannya, mendampingi istrinya ke Rio de Janeiro, Brasil.

Sang istri, pengusaha kosmetik, Martha Tilaar, menjadi salah satu dari 14 anggota baru Global Compact Board yang dipilih Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon. Martha diundang dalam Konferensi Pembangunan Berkelanjutan PBB Rio+20 di Brasil, 20-22 Juni 2012.

Jadilah profesor emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini bersama istri bertolak ke Brasil, Rabu malam.

Rabu pagi Alex masih bertemu sejumlah pendidik di Bogor, Jawa Barat. Semangatnya tak pernah padam bila berkaitan dengan pendidikan.

Sejak pensiun dini sebagai guru besar UNJ (usia 65 tahun), Alex sering mendampingi istrinya yang diundang ke berbagai pertemuan internasional, termasuk ajang Miss World. Kesempatan ini dipakai Alex berburu buku-buku pendidikan, mengunjungi perpustakaan, dan mempelajari peran pendidikan bagi kemajuan dan perubahan di suatu negara. Dengan cara ini, ia mengumpulkan ide dan bahan untuk buku-bukunya tentang pendidikan.

Ketika Martha diundang ke Brasil, Alex tak mau ketinggalan. Selain ingin mengetahui hasil konferensi, ia ingin melihat legalitas Paulo Freire, peletak dasar pemikiran pedagogik kritis asal Brasil, dalam reformasi pendidikan negerinya.

Alex menyebarluaskan pemikiran pedagogik kritis di Indonesia sejak tahun 2002. Jadi, kesempatan berkunjung ke Brasil dia gunakan untuk berjumpa guru besar pendidikan di negara ini sambil melihat keberhasilan Freire.

Dengan niat itu, ia mengirim surat dan direspons Duta Besar Brasil untuk Indonesia Paolo Alberto Soares. Dalam perbincangan itu, muncul tawaran Soares untuk menerjemahkan salah satu buku Alex yang menyajikan buah pikiran Freire. Semoga terjemahan buku ini dalam bahasa Portugis bisa terwujud tahun depan, sebagai rangkaian peringatan 60 tahun hubungan Indonesia-Brasil.

Mewariskan pemikiran

Dunia pendidikan tak asing bagi Alex. Ayahnya, almarhum Kilala Tilaar, adalah guru sekolah dasar di Tondano, Sulawesi Utara.

Alex pun memulai karier sebagai guru hingga guru besar. Baginya, menulis tak sekadar hobi atau pengisi waktu luang pascapensiun. Menulis buku merupakan caranya mewariskan pemikiran kepada masyarakat dan generasi mendatang.

”Saya ingin menjadi profesor yang terus berkarya sampai akhir hayat. Buku-buku inilah yang bisa saya sumbangkan bagi masyarakat dan generasi mendatang,” ujarnya.

Alex tak mau menjadi profesor ”pohon pisang” yang sekali berbuah lalu selesai. Julukan ini dia tujukan bagi profesor yang mengejar gaji dan pangkat, bukan mengembangkan dunia akademik. Ia ingin menjadi profesor ”pohon ara” yang terus berbuah dan berguna bagi sekelilingnya.

”Lewat buku dan penelitian, kita bisa sebarkan secara alamiah pemikiran untuk mendorong perubahan. Kalau hari ini belum diterima, insya Allah nanti akan berguna,” ujar penyuka fotografi ini.

Tak heran pada usia 80 tahun pun ia tetap berkarya lewat buku. Dengan tambahan empat buku baru itu, tiga tentang pendidikan dan satu kisahnya sebagai turis berkeliling dunia, sudah 27 buku yang dia hasilkan.

Beberapa buku karyanya menjadi koleksi Library of Congress di Washington, AS. Perkembangan penulisannya dalam pedagogi mendapat perhatian almamaternya saat Alex meraih gelar master dan doktor pendidikan di Indiana University (IU).

Tahun 2009 ia mendapat penghargaan dari IU. Alex dinilai konsisten memperjuangkan kebutuhan anak Indonesia dalam hubungannya dengan dunia yang semakin terbuka pada abad ke-21.

Penghargaan juga diterimanya dari Michael McRobbie, Presiden IU, dalam pertemuan alumni di Jakarta, Mei lalu. Alex menerima penghargaan Thomas Hart Benton Mural Medallion karena dinilai peduli terhadap pendidikan di Indonesia.

Terkait banyaknya buku yang dia hasilkan, Alex bercerita, seorang profesor di Harvard University terkejut dan mengira dia sangat kaya. Sebab, seorang profesor yang menulis buku di AS bisa mendapat honor tinggi.

”Saya cuma tertawa dan bilang kalau gaji saya hanya bisa beli tiket ke Singapura, tetapi tak bisa balik ke Indonesia,” ceritanya sambil tertawa. Bahkan, anak-anaknya pun lebih berminat menjadi pengusaha seperti sang ibu karena pekerjaan yang ditekuni sang ayah tak menjanjikan materi berlimpah.

Dalam buku baru yang segera diluncurkan, Alex menghimpun tulisan dari teman-temannya. Mereka mempertanyakan arah pendidikan nasional yang tak jelas.

”Arah pendidikan kita tak tahu mau ke mana. Seharusnya pendidikan bertumpu pada masyarakat dan budaya Indonesia, jangan hanyut pada globalisasi. Sebab, masih ada 30 juta penduduk miskin, nelayan, dan petani miskin. Tetapi, pendidikan kita diarahkan untuk bersaing dengan negara maju, bukan memecahkan masalah bangsa,” ujarnya.

Menurut Alex, kebijakan pendidikan tak boleh dikuasai kebijakan publik. Keduanya harus kembali pada nilai-nilai dalam UUD 1945 dan Pancasila.

Di buku lain, ia menyoroti pendidikan nasional yang justru mematikan kreativitas. Sebagai contoh tetap dipertahankannya ujian nasional (UN). Padahal, kreativitas mendorong lahirnya entrepreneurship dalam segala bidang. Oleh karena itu, kreativitas harus dikembangkan sejak pendidikan dalam keluarga dan pendidikan dini.

Mengkritisi

Perhatian Alex pada perkembangan pendidikan nasional tak berhenti. Ia termasuk dalam barisan kelompok ”gaek” dan kelompok pemberontak muda yang mengkritik keras kebijakan pendidikan nasional.

Dipisahkannya pendidikan dari kebudayaan pada era reformasi menjadi keprihatinannya. Ketika pendidikan kembali disatukan dengan kebudayaan, Alex mengkritisi tak terlihatnya perubahan mendasar dari strategi kebudayaan dan pendidikan nasional.

Ia juga setia hadir dalam sidang Mahkamah Konstitusi (MK) yang menggugat beberapa pasal Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yang dinilai menyimpang dari UUD 1945 dan Pancasila. Alex hadir sebagai saksi ahli untuk mendukung judicial review terhadap kebijakan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI/SBI) yang dianggap diskriminatif.

Ia pun mendukung dua gugatan di MK yang sudah menang. Dukungannya menghasilkan keputusan MK yang menghapuskan UU Badan Hukum Pendidikan dan kewajiban pemerintah membantu pembiayaan pendidikan sekolah swasta.

Ia mendorong pemikiran kritis dalam pendidikan. Alex menyediakan rumahnya sebagai tempat diskusi pemikiran kritis demi kemajuan pendidikan nasional. ”Pemikiran kritis harus didukung karena inilah dasar kita berpikir inovatif.”

”Ini tak berarti semua kebijakan pemerintah jelek. Tetapi, kita harus berpikir kritis untuk melihat jauh ke depan, mencari alternatif yang lebih baik,” ujarnya.

*)Kompas, 16 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan