-->

Kronik Toggle

Hak Jawab Kasus Buku Porno di SD

Kepada Yth.

Pemimpin Redaksi

TribunNews.com

Di tempat

Terkait dengan pemberitaan yang marak hari-hari terakhir mengenai beredarnya novel remaja-dewasa di perpustakaan Sekolah Dasar, disebutkan bahwa buku-buku antara lain dengan judul: Ada Duka di Wibeng (Jazimah Al-Muhyi), Tidak Hilang Sebuah Nama (Galang Lufityanto), Syahid Samurai (Afifah Afra), Festival Syahadah (Izzatul Jannah) mengandung atau bernuansa pornografi. Keempat penulis tersebut di atas adalah anggota Forum Lingkar Pena.

Bersama ini kami atas nama Forum Lingkar Pena menolak label dan stigma porno yang disebutkan oleh media dalam judul pemberitaan maupun isi berita. Pelabelan porno tersebut telah mencederai visi dan misi yang sebenarnya ada di dalam konten buku tersebut. Buku-buku tersebut bertujuan memberikan pencerahan kepada masyarakat dan mewartakan antipornografi. Kami menganggap bahwa pemberitaan yang telah beredar telah mengaburkan tujuan pembuatan buku ini.

Buku ini juga telah dinilai oleh Panitia Penilaian Buku Nonteks (PPBNP) dan dinyatakan layak sebagai buku non-teks (buku pengayaan, buku referensi, dan/atau buku panduan pendidik) berdasarkan Keputusan Kepala Pusat Perbukuan Depdiknas.

Konten isi  Ada Duka di Wibeng (Jazimah Al-Muhyi) yang sebenarnya adalah cerita tentang pergaulan remaja yang mengajak pada pergaulan yang lebih sehat dan bertanggung-jawab. Oleh karena bentuk tulisan ini berbentuk fiksi maka harus ada alur cerita yang pada akhirnya membawa pada nilai-nilai yang ingin diceritakan yakni tentang pergaulan dengan lawan jenis yang bertanggung-jawab.

Tidak Hilang Sebuah Nama (Galang Lufityanto), adalah novel detektif yang berlatar Australia menceritakan tentang kompetisi antara dua bersaudara Olive dan Odive. Novel ini, meskipun

memuat beberapa kata dan kalimat tentang penyimpangan seksual namun tidak memaparkan adegan yang berpotensi mendorong pembaca untuk melakukan apa yang termuat dalam novel tersebut.

Syahid Samurai (Afifah Afra) dan Festival Syahadah (Izzatul Jannah) adalah novel yang berisi perjuangan umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Sama sekali tidak mengandung konten pornografi.

FLP adalah organisasi pengaderan penulis yang sejak awal pembentukannya pada tahun 1997 memiliki visi mencerahkan masyarakat melalui tulisan. Dalam menulis berbagai karya, para anggota FLP memiliki sikap untuk tidak menulis karya yang membawa pada kemudharatan. Para anggota FLP juga ada di garda depan dalam menolak segala bentuk karya yang bermuatan pornografi.

Kami menganggap media dalam hal ini telah melanggar Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik,  Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Untuk itu kami meminta TribunNews.com memuat surat ini sebagai hak jawab. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Ketua Umum FLP                                                                                             Sekretaris Jenderal FLP

Setiawati Intan Savitri                                                                                      Rahmadiyanti Rusdi

Tembusan:

Ketua Dewan Pers, Prof Dr. Bagir Manan, S.H., M.C.L.

*)Tribunnews, 16 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan