-->

Kronik Toggle

Buku Kultur Ken Angrok Segera Terbit

BATU – Mantan wartawan Harian Kompas Anwar Hudijono bersama Heru Yogi (mantan wartawan Surabaya Post) dan Asadurrahman (mantan wartawan Harian Surya) akan melaunching bukunya berjudul: Dari Ken Angrok, Ebes Sugiyono sampai Eddy Rumpoko. Pewarisan Kultur jagoan Arek Malang pada 6 Juni 2012 di Toko buku Togamas jalan Raya Dieng 27 A Malang.

Anwar yang sudah pensiun dari dunia pers sejak 31 Mei lalu terinspirasi oleh sikap Walikota Batu Eddy Rumpoko yang bukan hanya sekadar menjadi walikota dari anak mantan walikota Malang Sugiyono semata, tapi ada sesuatu yang sama dari kultur Ken Angrok (baca: Ken Arok, Red).

“Dari jaman Ken Angrok, Ebes Sugiyono hingga Eddy Rumpoko saya tarik benang merahnya, yaitu jiwa jagoan. Arek malang dimanapun berada selalu menjadi jagoan. Ternyata, setelah saya telusuri itu warisan Ken Angrok,” papar Pemred Harian Surya ini saat jumpa pers di Rumah Dinas Walikota Batu, Senin (4/6/2012).

Menurutnya, pribadi Eddy Rumpoko dulu juga jagoan, tapi bukan jagoan dalam berkelahi karena Eddy dinilainya cukup gocik. Jagoan yang ada dalam pribadi Eddy adalah dalam rangka membangun Batu hingga seperti ini, terutama Pariwisatanya yang tidak meninggalkan pertanian sebagai matapencaharian utama masyarakat.

“Mudah-mudahan ini bisa menjadi inspirasi pemerintah pusat dan internasional,” harapnya.

Dalam penelusuran bahan pembuatan buku itu, Anwar mengungkapkan tetap mengedepankan indepensi. Ia mengaku tidak mau dintervensi. “Saya masih memegang asas jurnalistik,” tuturnya.

Bahkan, ketika ada bahasan tentang santet, orang dekat Eddy ada yang keberatan. Tapi, Eddy menyerahkan kepada ahlinya, yaitu, penulis buku. Dalam pembuatan buku ini, Anwar mengaku tidak mendapatkan sepeser pun dana dari Eddy Rumpoko.

“silakan tanyakan ke Pak Robiq (Kepala Humas Pemkot),” tandas Anwar.

Buku ini, kata Anwar yang sempat menjadi wartawan kala orang tua Eddy, Sugiyono memimpin Malang tahun 1984 silam, bukanlah buku ilmiah, tapi juga bukan buku fiksi.

“Saya menggalinya secara mengalir saja lalu dituangkan dalam bahasa sastra,” tantang Anwar.

Buku ini diterbitkan oleh penerbit Bayu Media Publishing dalam dua versi, yaitu softcopy dan hardcopy. Masing-masing sudah dicetak sebanyak 1.000 eksemplar yang disebarkan di 37 outlet se-Jawa-Bali. Ke depan, Anwar akan menulis biografi penganut kejawen di Singosari, Jati Kusumo.

*)SURYA, online, 4 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan