-->

Kronik Toggle

Buku-buku Laris Manis, Selarik Cerita Berbeda

Suhartono

Hari pertama di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, 24 tahun lampau, Ahmad Fuadi (39) terkejut dengan kata-kata man jadda wajada yang diteriakkan seorang guru saat mengajar dalam bahasa Arab.

Kata-kata itu kemudian diikuti para santri setiap pelajaran tersebut.

Fuadi yang kini dikenal sebagai penulis novel terlaris Negeri 5 Menara memiliki kenangan peristiwa itu. ”Seru juga waktu pertama kali diteriakkan man jadda wajada. Sebab, itu hal baru dan kita harus mengulang-ulang teriakannya. Waktu itu kita belum tahu apa artinya, sampai kemudian dijelaskan oleh guru,” ungkap Fuadi kepada Kompas, Rabu (27/6).

Belakangan ia menyadari, man jadda wajada merupakan metode pengajaran yang mendorong santri bekerja keras. Man jadda wajada memiliki makna, siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan keberhasilan. Selain itu, Fuadi juga diajarkan man shabara zafira, yang berarti siapa memiliki kesabaran pasti mendapat kesuksesan. Diajarkan juga man sa’araladarbi wa shala, siapa berjalan di jalannya akan sampai ke ujung jalannya.

”Man jadda wajada menjadi spirit buku pertama Negeri 5 Menara, sedangkan man shabara zafira menjadi roh buku yang kedua, Ranah 3 Warna.

Adapun man sa’araladarbi wa shala menjadi semangat buku ketiga yang baru 70 persen penulisannya,” kata pria kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, itu.

Bagi Fuadi dan sejumlah penulis novel atau buku laris lain, situasi industri perbukuan Indonesia yang masih jauh dari ideal tampaknya tidak memengaruhi semangat untuk terus berkarya. Setelah karya pertama sukses, karya kedua dan seterusnya ibarat buah yang dipetik seusai menanam bibit. Kerja keras dan semangat besar berkarya di tengah iklim industri perbukuan yang tidak terlalu mendukung berbuah manis dengan larisnya karya-karya mereka.

Para penulis buku dan novel laris sekaligus diharapkan menjadi inspirasi bagi penulis-penulis buku lain untuk terus berkarya. Kerja keras mereka juga diharapkan menjadi angin segar bagi industri perbukuan nasional yang terjepit oleh belum jelasnya dukungan pemerintah dan terlebih derasnya arus digitalisasi buku seiring dengan maraknya perangkat elektronik dan gadget.

Kembali pada kisah Fuadi, man jadda wajada dan man shabara zafira ibarat kata bertuah. ”Semua impian semasa mondok, seperti ingin jadi wartawan atau tinggal di Amerika Serikat, terwujud,” kata mantan wartawan Tempo itu.

Editor Gramedia Pustaka Utama (GPU) Hetih Rusli membenarkan, sebagai novelis muda, Fuadi cepat melejit. Novelnya sudah cetakan ke-18 setelah dicetak pada Juli 2009.

Novel karya Agustinus Wibowo (30) yang bercerita tentang perjalanan di Afganistan seperti Selimut Debu dan Garis Batas di negara-negara Asia Tengah juga menjadi novel laris.

Sejak dicetak sebanyak 5.000 eksemplar pada April 2011, Garis Batas sebulan kemudian sudah cetak ulang. Pada Januari 2012, Garis Batas dicetak ulang untuk keempat kali. ”Peredarannya sudah mencapai 20.000 eksemplar,” kata Hetih.

Menurut Agustinus yang sarjana computer science & engineering di Tsinghua University, Beijing, pengalamannya menelusuri sejumlah negeri tidak hanya ditulis, tetapi juga melalui proses perenungan. Itulah yang mengikat pembaca.

”Tulisan perjalanan tanpa kontemplasi menjadi tulisan yang kering,” ujar Agustinus.

”Laskar Pelangi”

Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata juga memiliki daya tarik tersendiri meski sudah enam tahun lewat. Novel sastra yang mengisahkan, antara lain, masa kanak-kanak Andrea di Belitung, sekolahnya yang nyaris roboh, kegigihan ibu guru Muslimah dengan keterbatasan sarana pendidikan ini membuat novelnya menjadi best seller. Bahkan, filmnya menjadi box office.

”Kalau sekarang ini banyak dibaca, saya kira karena setiap kali menulis, saya membawa pembaca masuk dalam tulisan sehingga mereka seperti berada dalam lokasi dan cerita,” kata Andrea yang Laskar Pelangi-nya akan diterbitkan di 22 negara dengan beberapa bahasa.

Direktur Utama Bentang Pustaka Salman Faridi yang menerbitkan Laskar Pelangi mengatakan, kondisi pendidikan di daerah yang belum ditangani pemerintah, seperti SD Muhammadiyah Belitung, menjadi tema yang menggelitik pembaca.

”Andrea menulis novelnya dengan latar belakang Belitung dan pendekatan budaya yang kuat. Di situ daya tariknya,” kata Salman. Hingga kini, novel Andrea seperti Edensor, Maryamah Karpov, Padang Bulan, dan Cinta Dalam Gelas dicetak 75.000-250.000 eksemplar. Bahkan, Sang Pemimpi sudah mencapai 1 juta eksemplar.

Novel lain yang diperkirakan bakal meledak setelah diluncurkan pada Juli adalah Negeri Para Bedebah karya Tere Liye. Novel yang diterbitkan GPU itu berkisah tentang rekayasa keuangan, intrik, pembalasan dendam masa lalu, pengkhianatan, kesetiakawanan, dan berbagai cerita, seperti thriller konspirasi bail out saat terjadinya krisis yang lalu.

Catatan Kompas, krisis yang dimaksud dalam novel Tere sepertinya krisis keuangan dan ekonomi dunia tahun 2008 yang di Indonesia memunculkan kasus dana talangan Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun.

Negeri Para Bedebah merupakan novel berikutnya setelah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah, novel roman yang bercerita tentang perempuan China dan pria pribumi. Kedua novel ini terbuka sumbernya. Naskahnya dibagikan gratis sebagai cerita bersambung di Facebook dan Multiply. Setiap hari diunggah episode baru. Ribuan pembaca ikut serta dalam proses kreatif. Bahkan, pembaca ikut serta dalam alur cerita.

Itulah yang membuat buku cetak tetap menarik dan mengikat pembaca untuk dicari.
*) Kompas, 29 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan