-->

Kronik Toggle

Begini Penerbitan Buku Terjemahan Seperti 5 Kota

Jakarta – Buku yang ditulis oleh warga negara asing banyak yang tergolong bagus dan bermanfaat. Namun, hal itu akan sulit dipahami bagi beberapa masyarakat Indonesia yang tidak mengerti bahasa ibu penulis. Maka, dibuatlah buku versi terjemahan. Beginilah prosedur penerbitan buku terjemahan menurut Ketua Kompartemen Diklat Litbang dan Informasi Ikatan Penerbit Indonesia, Bambang Trimansyah.

Menurut Bambang, proses penerbitan buku asing itu akan melewati beberapa tahap. “Pada umumnya, proses itu dimulai dari proses akuisisi, rapat redaksi, editorial dan produksi,” katanya saat dihubungi Tempo pada Kamis, 14 Juni 2012.

Proses akuisisi adalah saat anggota penerbit mencari naskah asli bahasa asing. Apabila naskah itu dianggap bagus, maka ia akan merekomendasikannya ke rapat redaksi.

Anggota rapat redaksi tidak hanya terdiri dari pemimpin redaksi dan editor-editor saja, tapi juga pihak marketing dan keuangan. Di sesi ini, akan dibicarakan tentang prediksi penjualan naskah asing itu. Pembahasan pun belum dirinci tentang bahasa. Lebih kepada isi secara umum buku itu. “Mereka akan bahas secara umum buku itu. Kira-kira patut dijual tidak, konsumen akan suka atau tidak,” kata Bambang.

Apabila naskah asing mendapat persetujuan di rapat redaksi, naskah itu akan dibawa ke bagian editorial. Pada editorial terdapat dua cabang, yaitu cabang kemasan dan cabang konten. Editorial kemasan lebih fokus pada penampilan buku itu. Mereka mengurus desain ilustrasi, cover buku, dan tata letak. Sedangkan konten lebih mengurusi tentang tata bahasa, penerjemahan, dan isi dari naskah asing itu.

Setelah bagian editorial, masuk bagian produksi. Pada bagian ini, buku akan dicetak dan selanjutnya didistribusikan ke toko-toko buku sehingga dapat dibeli konsumen.

Sebelumnya terdapat buku asing kontroversial yang sempat diterbitkan Gramedia. Buku berjudul 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia yang merupakan terjemahan Five Cities that Ruled the World ini dianggap melecehkan agama Islam. Dalam terjemahannya, 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia, Nabi Muhammad disebutkan secara literal adalah perompak dan perampok dalam kisah Perang Badar.

Dalam 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia, tertulis, “Nabi Muhammad adalah perompak dan perampok yang memerintahkan penyerangan terhadap karavan-karavan di Mekah”.

Gramedia sudah memohon maaf atas keteledoran ini di berbagai media massa. Pihaknya juga telah menarik buku yang tersebar di Toko Buku Gramedia di Indonesia. Bahkan, mereka juga telah memusnahkan buku ini.

General Manager Public Relations Kompas Gramedia Nugroho F. Yudho mengatakan editor dan penerjemah buku 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia akan dikenai sanksi.

*)Tempo.co, 14 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan