-->

Kronik Toggle

Almarhum Achmad Ali Siapkan Buku 1000 Halaman

Makassar–  Suasana duka menyelimuti segenap civitas academica Universitas Hasanuddin, terutama di fakultas hukum. Salah seorang guru besarnya, Achmad Ali, meninggal di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin, Makassar, pukul 09.00 Wita,Minggu, 17 Juni 2012. Almarhum meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.Wiwie Heryani, Istri Achmad Ali, mengatakan almarhum menderita diabetes kronis hingga menjalar ke paru-paru. “Sudah sejak sebulan ini bapak dirawat karena penyakitnya. Lima hari di Rumah Sakit Stella Maris, dua minggu di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta, dan satu minggu di Rumah Sakit Pendidikan Unhas,” katanya.

Sampai hari terakhirnya, Achmad Ali masih menjabat tenaga ahli di Kejaksaan Agung RI, Kepolisian RI, dan Kementerian Pertahanan. Selain itu, almarhum pernah menjadi anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), serta Komite Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Indonesia dan Timor Leste.

Achmad Ali juga aktif menulis buku, terutama dalam bidang hukum dan perundang-undangan. Sekitar 29 judul buku pernah ditulisnya. Salah satu bukunya, Menguak Tabir Hukum, merupakan buku wajib bagi mahasiswa fakultas hukum di berbagai universitas di Indonesia. Bahkan, menjelang akhir hayatnya, ia sedang menulis buku yang direncanakan setebal lebih dari 1.000 halaman. “Untuk mengerjakan buku itu, kadang bapak tidak tidur hingga dua hari,” kata Wiwie.

Achmad Ali lahir di Makassar pada 9 November 1952. Dia pernah menjabat Dekan Fakultas Hukum Unhas selama dua periode, yakni 1994 -2001. Saat itu, Achmad Ali tercatat sebagai dekan termuda karena baru berusia 46 tahun. Selain dalam bidang akademik, Achmad Ali aktif dalam pembinaan bela diri karate Gojukai dan menjabat Ketua Dewan Guru Nasional Gojukai se-Indonesia. Dia pemegang DAN VII Internasional dengan nama “Kyoshi Achmad Ali”.

Rektor Universitas Hasanuddin, Idrus Paturusi, mengatakan Unhas kehilangan guru, sahabat, dan teman yang punya pendirian kuat. “Saya kira untuk Indonesia sulit menemukan pakar hukum yang setara dengan beliau,” ujar Idrus.

Jenazah Achmad Ali disemayamkan di rumah duka di Kompleks Perumahan Dosen Unhas Blok L Nomor 2, Makassar. Pada pukul 15.00 Wita, jenazah dibawa menuju kampus Universitas Hasanuddin untuk diserahkan kepada rektor oleh pihak keluarga. Setelah disalatkan di Masjid Baitul Hakim, Fakultas Hukum UNHAS, jenazah dimakamkan di makam keluarga Universitas Hasanuddin di Maros.

*)Tempo.co, 17 Juni 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan