-->

Lainnya Toggle

Meningkatkan Daya Imajinasi Dan Kemampuan Menulis Siswa Dengan Book Report

Muntamah Sekar Cendani

Istilah Book Report saya gunakan mengadopsi mata pelajaran ekstra di sekolah di Hong Kong, yang mana tugas itu diberikan kepada siswa menjelang libur panjang. Book Report di sini sebenarnya adalah, meringkas dan menuliskan kembali buku yang sudah dibaca oleh siswa untuk diceritakan kembali oleh siswa tersebut menjadi sebuah karya baru.

Saya memang tidak pernah menjadi guru yang mengajar siswa di kelas, dan saya tidak punya pengalaman sama sekali akan hal ini. Ketika seorang guru memberikan komentar di note FB saya, dengan nada protes, karena murid-muridnya selalu membaca buku bacaan baik disaat pelajaran sedang berlangsung, dan siswa sampai lupa belajar. Hal menarik bagi saya, kenapa siswa ini lebih asyik membaca buku bacaan taman baca sampai lupa pelajaran, bahkan sedang di kelas pun. Sebaiknya guru tidak terburu-buru menyalahkan siswa, apalagi menyalahkan keberadaan taman baca.

Karena, bisa jadi guru terlalu monoton dalam menyampaikan materi pelajaran, sajian di buku pelajaran tidak menarik dan kurang variativ, juga teknik mengajar gurunya tidak memikat. Menyalahkan materi pelajaran juga kurang bijak, karena semua materi sudah tersusun sedemikian rupa dan diatur oleh dinas terkait. Saat ini, guru dituntut lebih inovatif dan atraktif dalam menyampaikan materi, di mana kecerdasan siswa yang cenderung meningkat dari waktu ke waktu.

Ketika saya tahu anak-anak desa Cendono minat bacanya sangat tinggi, ini adalah hal yang sangat menyenangkan bagi saya, karena, semakin banyak anak membaca, otaknya akan semakin terasah dan anak akan berkembang lebih kritis. Membaca dengan cepat juga meningkatkan kinerja otak hingga anak akan menjadi lebih besar rasa keingintahuannya. Minat baca yang seharusnya dipupuk sejak dini dengan pengadaan bahan bacaan yang cukup. Melihat antusias anak-anak yang seolah rakus terhadap bahan bacaan, bukan hal yang mustahil karena selama ini tidak tersedia bahan bacaan yang bisa mereka baca. Dan di sinilah tujuan Pondok Maos Cendani saya buka, karena untuk menjembatani ketiadaan bahan bacaan di desa.

Kesadaran membaca kita memang cenderung minim dibanding dengan negara-negara lain, tapi hal ini tidak menyurutkan orang-orang yang berkompeten untuk terus kampanye membaca. Orang selalu berpikir, membaca menghabiskan waktu, sibuk bekerja dan lain sebagainya. Kita bisa menyiasatinya bahkan sambil di dapur sekali pun, tidak perlu banyak, cukup satu paragraph setiap kali ada waktu senggang.

Banyak sekali bahan bacaan sastra yang tersedia, mulai sastrawan Indonesia, Rusia, Amerika dan belahan dunia yang lain. Tidak menutup kemungkinan bahwa siswa yang menyukai membaca saat ini adalah calon sastrawan besar di kemudian hari. Saya terus mendorong siapa saja untuk lebih terbuka terhadap bacaan-bacaan, tidak terbatas pada bacaan pelajaran, sastra, baik sastra Indonesia atau pun sastra luar negeri. Tidak ada salahnya kita mengenal nama Leo Tolstoy, Mark Twain, Gabriel Garcia Marques, Pablo Neruda, Frans Kafka, James Joyce, Ernest Hamingway, Albert Camus, Sigit Susanto, Eka Kurniawan, Yonathan Raharjo, Muhidin M Dahlan dan lain sebagainya.

Jika memang minat baca siswa tinggi, ada pelajaran ekstra yang bisa diberikan untuk mangasah daya imajinativnya seperti saya sebutkan pada paragraph pertama. Dengan menceritakan kembali kisah yang dibaca tersebut dengan tulisan, akan menghasilkan karya ,selain itu juga meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis.

Salam Baca.

Yuen Long NT Hong Kong

16 February 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan