-->

Lainnya Toggle

Perihal yang Menyedihkan

Oleh : Putu Laxman Pendit

It was only the cultural pretensions of tyrants, kings and emperors which could conceive anything like a universal collection of books. – tulis Robert Barnes tentang Perpustakaan Alexandria*

Kutipan di atas adalah tentang ironi yang menyedihkan. Mengapa begitu, izinkan saya menjelaskannya.

Sejarah perpustakaan tak seromantis sejarah buku, walau keduanya pernah mengalami perlakuan buruk, bahkan amat buruk; misalnya dibakar di tengah sorak-sorai. Namun mungkin karena ukurannya yang besar, perpustakaan pernah mengalami hal yang jauh lebih dramatis. Misalnya dibom sampai rata dengan tanah, dan diluluh-lantakkan supaya tak bersisa. Selain itu, karena karakter fisik pula -yakni buku lebih portable, lebih mudah dipindah-pindahkan-  maka setidaknya ia bisa disembunyikan dari musuh-musuhnya. Perpustakaan bukanlah entitas berpindah; musuh-musuhnya dengan mudah menghajarnya tanpa ampun sebab ia tak bisa sembunyi, sebab ia besar, dan  -ini yang terutama-  sebab ia tak ada yang melindungi.

Memang perpustakaan adalah sekumpulan buku dalam jumlah cukup besar, dan meluluh-lantakkan perpustakaan adalah pekerjaan yang efisien untuk memusnahkan pengetahuan dengan sekali pukul. Sama efisiennya dengan memusatkan pengetahuan lalu memastikan tak ada yang dapat memindahkannya, apalagi menyebarkannya. Itulah ironi, yang antara lain tercermin di kalimat Robert Barnes di atas. Perpustakaan yang megah hanya dapat dibangun oleh tiran, raja, dan maharaja  -pihak yang juga punya kekuatan sama untuk meluluh-lantakkannya.

Perpustakaan bahkan mendapat perlakuan yang lebih memedihkan lagi, walau fisiknya tak dihancurkan. Jika sebuah buku tak boleh terbit, atau terbit tetapi lalu dilarang beredar, setidaknya buku itu sudah ditulis. Kata-kata sudah dituangkan dan diterakan. Pengarangnya sudah melepaskan pikirannya ke alam bebas. Jika beruntung, buku itu masih ada entah di balik bantal, di sudut terdalam lemari, atau di bawah karpet.

Perpustakaan tak mungkin dilarang terbit. Fisiknya yang besar  -terkadang amat megah-  tak mungkin disembunyikan. Maka agar perpustakaan itu tak berfungsi, dilakukanlah sesuatu yang lebih memedihkan daripada menghancurkannya, yaitu menelantarkannya. Jika beruntung, penelantaran ini dilakukan terhadap interior. Orang masih dapat melihat eksterior yang megah, tapi akan melihat debu atau bahkan lumpur ketika masuk. Jika perpustakaan malang itu tak beruntung, eksteriornya pun dibiarkan tak terurus dan orang-orang yang lalu-lalang akan bergumam, “Sedih sekali gedung tua itu kelihatannya!”

Tak sedikit perpustakaan yang dipindah-paksa; direlokasi ke tempat-tempat yang  -entah karena posisi atau jaraknya- menjadi sesuatu yang ada tapi tiada. Perpustakaan itu hadir secara fisik tapi luput dari pandangan walau selintas sekalipun; sehingga akhirnya tak menimbulkan kesan. Tak sedikit pun menimbulkan kesan. Lenyap. Senyap.

Tiran, raja, maharaja  -mereka sering melakukan dua hal yang bertentangan; mereka sajalah yang punya cukup kuasa untuk membangun perpustakaan-perpustakaan megah, menghimpun koleksi dalam jumlah berlebih, mendatangkannya dari segala penjuru-angin. Tetapi mereka pulalah yang menggunakan kuasa untuk menghancurkannya. Perpustakaan Alexandria di masa kejayaan Romawi adalah contoh yang paling sering dirujuk untuk menggambarkan ironi ini. Setelah itu, sejarah dipenuhi cerita perpustakaan yang dibangun lalu dihancurkan, ditelantarkan, atau semata-mata dibuat tidak bermakna (sesuatu yang lebih dari sekadar tidak berfungsi!).

Perpustakaan yang tidak-bermakna  – apakah yang lebih memedihkan hati dari itu? Bayangkanlah sebuah institusi yang seyogyanya menghimpun sekian banyak pengetahuan, dibiarkan hadir tetapi lalu dibuat tidak-bermakna. Sekian banyak potensi pemikiran dibuat tak ada artinya sama sekali. Sekian banyak kemungkinan gagasan dibungkam hanya dengan membuatnya sebagai sebuah himpunan yang tak penting.

Kepedihan ini juga menjadi mengerikan, manakala tiran, raja, maharaja itu kemudian menjelma menjadi sebuah pemerintahan moderen, lengkap dengan aparat dan birokrasinya. Lalu perilaku tiran, raja, maharaja itu direproduksi secara amat efisien dari zaman ke zaman oleh para aparat dan birokrat pemerintah. Perpustakaan demi perpustakaan dibangun dan lalu ditelantarkan, dan bahkan lalu dibuat tidak bermakna.

Begitu efisiennya perilaku aparat dan birokrat pemerintahan dalam menelantarkan perpustakaan, sampai-sampai mereka sendiri tak sadar bahwa mereka telah menghina kecerdasan dan peradaban manusia. Mereka tak sadar bahwa dengan menghina kecerdasan dan peradaban, maka mereka adalah orang-orang yang amat bodoh selain bengis  -dua hal yang dalam sejarah umat manusia telah menyebabkan kehancuran begitu banyak tiran, raja, dan maharaja.

Itulah perihal yang amat memedihkan: melihat orang-orang bodoh dan bengis menghancurkan pengetahuan untuk akhirnya menghancurkan diri mereka sendiri.

Kebodohan  -terutama kebodohan yang tak disadari-  itulah yang memang selalu menyedihkan!

________

*) Barnes, Robert (2002). “Cloisetered bookworms in the chicken-coop of the muses: the Ancient Library of Alexandria” dalam Roy MacLeod (editor), The Library of Alexandria, London : IB Tauris, hal. 61-77.

**) Sumber: Disalin dari catatan facebook milik Putu Laxman Pendit, 11 April 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan