-->

Resensi Toggle

Kumis Penyaring Kopi | Cerita Pendek Pinto Anugerah

Draft kumpulan cerpen ini didiskusikan dalam forum Obrolan Senja pada hari Sabtu, 7 April 2012, pukul 16.00 – 18.00. di Angkringan Buku, Yayasan Indonesiabuku, Jl. Patehan Wetan No 3 Alun-alun Kidul Keraton Yogyakarta. Setelahnya, nonton bersama film “Status” garapan sutradara muda Bambang C Irawan yang telah memperoleh beberapa penghargaan tingkat nasional.

Mula-mula saya bertanya-tanya, kenapa Pinto Anugrah banyak membicarakan ‘ibu’ dalam kumpulan cerpen berjudul Kumis Penyaring Kopi. Akhirnya saya memakluminya. Ia kelahiran Padang, ibu kota Sumatra Barat. Tanah kelahiran Malin Kundang. Mungkin dalam darah Pinto mengalir darah si Malin. Itu masih mungkin.

Tetapi, ada hal yang mengindikasikan bahwa Pinto ini seolah-olah si Malin itu. Ia paham betul dengan laut, kapal, bahkan sebuah kotak kayu—cerita yang mengawali cerita dalam kumceryang mengasumsikan harta karun. Juga sekarang Pinto sedang merantau. Meninggalkan ibunya di kampung.

Dalam cerita rakyat, Malin dikisahkan pulang ke kampung halamannya. Alasan kepulangannya selain ibu, karena ia cinta pada kampung halamannya. Hal demikian juga terjadi pada Pinto. Ia cinta betul pada kampung halamannya itu. tak ayal jika keduabelas cerita dalam kumcernya itu, seluruhnya adalah cerita tentang kampung halamannya, Padang, Sumatera Barat.

Selesai membaca kumcernya itu, saya berharap Pinto tak menemukan gadis ayu dan kaya agar ia tak menyerupai si Malin. Meski seharusnya saya tak perlu berharap demikian karena toh tak akan terjadi. Yang jelas terasa beda di antara mereka adalah, Malin bukan cerpenis.

* * *

Judul Kumis Penyaring Kopi dalam kumcer Pinto Anugrah ini sebenarnya sama sekali tak memiliki hubungan seluruh isi kumcernya. Ia bukan judul salah satu cerpen dan juga tak memiliki hubungan dengan satu cerpen pun. Memang, ada satu cerpen berbicara tentang kopi, tapi toh cerpen itu tak ada kedekatan dengan judul kumcernya itu. Ini memang bukan masalah besar, tapi biasanya inilah yang pertama ditanyakan pembaca ketika terbit dan dibedah nanti. Maka pemilihan judul perlu dipertimbangkan secara khusus, selain ia sebagai bonus bagi penulis.

Meski dengan judul kumcernya tidak memiliki hubungan dengan keseluruhan cerita yang disuguhkan, judul masing-masing cerpen cukup menarik. Pendek, memikat, dan membuat penasaran.

Padang merupakan tema besar yang diangkat oleh Pinto. Tema itu kemudian dieksplor menjadi beberapa tema kecil,seperti hak waris (dalam cerpen Kotak Kayu dan Pandam), ibu (atau bapak) (dalam cerpen Kota Lalu, Ibu; Kepundan Ayah; Anggang, Orang Rantai; dan Lapik Buruk). Kedua tema itulah yang sering kali diangkat ketika bicara tentang kampung halaman. Selain itu, guru mengaji juga kadang menjadi bahan pembuatan cerpen. Dalam kumcer ini, guru mengaji ada dalam cerpen Guru Siak. Sementara tema-tema lainnya seperti kopi, cinta, nenek, dan merantau ada dalam cerpen Kopi Daun, Emma Haven, Bakiak, Tiga Patahan.

Dari keseluruhan cerita yang disuguhkan, ada satu cerpen yang tidak biasa. Ciri-ciri cerpen yang ada dalam kuncer tersebut biasanya; banyak kosa-kata lokal, menyuguhkan cerita dengan serius, menggali kearifan lokal melalui hal-hal sederhana, dan idealis. Tapi yang satu ini cukup berbeda dari yang lain. Seperti cerpen yang lain, awal hingga pertengahan cerpen ini ditulis dengan serius dan pembaca diajak untuk mengencangkan otot, apalagi dengan isu-isu agama saat ini.

Diceritakan, seorang guru ngaji sedang berkunjung ke rumah muridnya karena undangan. Tiba waktu sholat, guru ngaji itupun bergegas sholat. Si murid yang juga pemilik rumah itu mengintip tamu yang juga guru ngajinya sedang sholat. Si murid merasa ganjil dengan sholat yang dilakukan guru ngajinya. Jawaban pun terus dicari, hingga akhirnya si murid menemukan globe di ruang pustaka sekolah. Ia mengerti, ke mana pun menghadap ketika sholat, ketemunya pasti akan ke arah kiblat karena bumi ini bundar. Pulang dari sekolah, ia langsung sholat. Sang ibu keheranan dan ini di luar kebiasaan anaknya. Ibu mengikutinya ke kamar, melihat anaknya sholat tidak menghadap ke arah semestinya, ibu marah. “Siapa yang mengajarkan?” “Guru mengajimu itu?” “Sesat!”. Guru itu lalu dipanggil untuk dimintai keterangan. Tak merasa mengajarkan hal demikian, ia pun bertanya pada muridnya, “Benar kau lakukan itu?”Mui mengangguk. “Benar kau melakukan itu karena melihatku pernah sembahyang seperti itu?” Mui mengangguk. Guru Siak berkerut keningnya, berpikir di mana kira-kira ia telah melakukan kekhilafan dalam sembahyang. “Di mana? Di tempat mengaji?” Mui menggeleng. Lalu menunjuk kamar abangnya dengan mukanya…. ia tidak menyangka bahwa Mui akan melihat cara ia sembahyang waktu itu. Tapi itu ia lakukan karena di dinding kamar itu, persis di hadapan saat sembahyang, ada poster perempuan setengah telanjang yang tertempel, makanya ia alihkan arah sembahyangnya.

Ya. Cerpen Guru Siak di atas terasa berbeda dengan cerpen-cerpen lainnya. Sekilas membaca cerpen itu, saya tertawa cukup lama hingga merasa harus menghentikan membaca cerpen-cerpen lainnya untuk sejenak. Mulanya, saya mengira Pinto akan mengangkat masalah mendasar dalam beribadah bagi kaum muslim. Saya berfikir bahwa ini merupakan hal yang riskan, tapi saya meleset dan berbalik menjadi terhibur. Tepat rasanya cerpen itu berada di tengah-tengah cerpen yang lain, di mana saya merasa cukup penat dengan membaca cerpen-cerpen sebelumnya.

Bisa jadi, cerpen dengan tokoh utama Mui ini merupakan sendirian bagi MUI yang latah belakangan ini. Mengharamkan pilihan manusia dewasa yang sudah bisa memilih mana yang baik dan buruk baik dirinya dalam hal agama.

Tak hanya berkutik pada wilayah lokalitas saja, Pinto juga menyuguhkan wacana kolonialisme dalam cerpen Orang Rantai, Emma Haven, dan Bakiak. Ke tiga cerpen itu memiliki keterkaitan dengan masa kolonialisme. Terutama sekali dalam cerpen Emma Haven. Emma Haven merupakan nama pelabuhan, yang kelak dikutip sebagai nama anak dari pasangan pribumi dan penjajah, Emma, agar kelak ketika kekacauan politik di Hindia sudah mereda, si penjajah dapat dengan mudah mengenali anaknya.

Cerpen Emma Haven seperti dibangun dengan kesadaran wacana kolinialisme pengarang dengan menyebutkan ciri utama bangsa Eropa menjajah belahan dunia. Misalnya terlihat dalam perdebatan antara anak dan ayah berikut ini,

“Pergilah ke tanah rempah itu! Di tanah rendah ini kau tidak akan dapat apa-apa, hanya sebagai pengangguran dengan seonggok daging yang akan membuat tanah ini makin tenggelam! Di sana tanah surga, tanah yang akan memberimu banyak keuntungan!”

“Keuntungan rampasan dari hak mereka? Kita akan dibenci tuhan, Ayah!”

“Tidak, saya yakin, tuhanlah yang mengutus kita ke tanah surga itu, tanah yang belum terjamah oleh tangan-tangan tuhan, dan kita diminta untuk mengajarkan mereka peradaban tuhan!”

“Kenapa harus tuhan alasannya? Dan saya tidak yakin, apakah dengan menjadi makelar lada itu sebuah pekerjaan penyampai tangan-tangan tuhan?”

“Ya.”

“Walau orang-orang di negeri itu tertindas?”

“Ya, karena mereka belum punya peradaban tuhan!”

“Mereka punya peradaban sendiri! Saya rasa, Ayah tahu itu. Ah, Ayah telah termakan kata-kata penguasa itu.”

“Tidak! Kita telah diutus tuhan untuk mengajarkan mereka peradaban. Itu keputusan gereja! Kita tidak bisa mengingkari!”

“Dan saya sudah merasa berdosa pada tuhan, namun tidak pada gereja!”

“Kalau kau tidak mau pergi ke tanah surga itu, baiklah, tanggalkan nama Schrik di belakang namamu!”

Ia tak bisa berkata lain. Ayahnya punya pilihan lain, “demi nama keluarga Schrik yang kau sandang!”

Demikian juga dalam cerpen Orang Rantai. Mulanya, sebuah keluar hidup bahagia. Sang ayah bekerja di pabrik milik Belanda. Di akhir bulan, saat gajian tiba, perusahaan akan menggelar pasar malam sebagai tempat pestanya para pekerja. Dalam kesempatan itu, sang ayah bermain dadu. Namun, di tengah riuhnya keramaian itu tercipta keramaian yang lebih gaduh. Lalu terdengar berita, sang ayah membunuh pembesar Belanda. Dari kondisi ini, sang ayah lalu mengalami pengasingan dan kerja Rodi. Cerpen ini memperlihatkan relasi kuasa antara penjajah dengan pribumi.

Pada cerpen Bakiak waktu melaju dengan cepat hingga masa PRRI. Cerpen ini fokus pada sejarah bakiak bagi seorang nenek. Bakiak yang hilang itu ternyata mas kawin dari suaminya. Ia disunting saat bakiak begitu berharga dan menjadi barang bergengsi. Sebab itulah ia sangat sedih dan tak ingin digantikan dengan bakiak yang lain. Ketika itu, komunis menarik simpati masyarakat dengan memberikan bakiak kepada penduduk. Bagi orde yang berkuasa, siapa pun yang memakai bakiak, ia adalah komunis. Maka suami si nenek dikejar-kejar oleh orde yang berkuasa meski ia sebenarnya bukan komunis. Si suami terus gelisah karena dikucilkan oleh negara dan masyarakat hingga akhirnya ia meninggal. Bakiak itu menjadi penyebab kematian si suami, begitulah si nenek yang meninggal karena kehilangan bakiak.

Ketiga cerpen terakhir mungkin merupakan cerpen yang benar-benar terjadi. Hal ini terlihat dengan tahun dan peristiwa yang disebutkan di dalamnya. Misalnya tahun 1938 pada cerpen Emma Haven, tahun 1891 pada cerpen Orang Rantai¸dan peristiwa PRRI pada cerpen Bakiak.

CERITA PENDEK-cerita pendek di dalam ini pernah dipublikasikan di Koran Tempo, Jurnal Nasional, Jurnal Nasional Bogor, Padang Ekspres, Haluan, Riau Pos, Jurnal Selarong, dan Jurnal Kreativa. Pernah memenangi beberapa sayembara penulisan cerita pendek, di antaranya: Lomba Cipta Cerpen Pemuda Menpora RI 2010, Sayembara Cerpen Balai Bahasa Padang 2005, dan Sayembara Cerpen Escaeva 2007. Pernah juga terpilih dalam beberapa penghargaan: Cerpen Pilihan Riau Pos 2008 dan Cerpen Pilihan Temu Sastrawan Indonesia II. Begitu juga di antaranya pernah menjelma sebagai naskah lakon dan naskah monolog, yang dipentaskan oleh Teater Langkah, Ranah Teater, dan Rumah Kreatif Kandangpadati.

Daftar Isi Kumis Penyaring Kopi

Kotak Kayu

Pandam

Kota Lalu, Ibu

Kepundan Ayah

Anggang

Orang Rantai

Kopi Daun

Emma Haven

Guru Siak

Tiga Patahan

Lapik Buruk

Bakiak

TENTANG PROSAIS

Pinto Anugrah, lahir 09 Maret 1985 di Sungai Tarab, Tanah Datar, Sumatra Barat. Besar di Padang dan berproses kreatif di sana. Untuk sementara ini tinggal di Yogyakarta. Sangat mencintai kampung halamannya. Hubungi di kootiq.anaklanun@gmail.com

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan