-->

Kronik Toggle

Bimbingan Kepenulisan “Jadikan Cerpenmu Sebuah Skenario Film”

YOGYAKARTA–Minggu pagi yang mendung (1/4) tak mengubah semangat peserta bimbingan kepenulisan bertajuk “Jadikan Cerpenmu Sebuah Skenario Film” untuk hadir tepat waktu di Yayasan Indonesia Buku. Kegiatan yang diselenggarakan Sanggar Kreativitas Manusia (Sarkem) ini dimulai pada pukul 09.00 pagi dan berakhir di jam 12.00 WIB.

Ketua penyelenggara Naratungga Indit Prahista mengatakan, 1 April merupakan pertemuan pertama dari empat pertemuan yang dijadwalkan setiap hari Minggu di bulan April 2012. “Rencananya bimbingan ini akan dilakukan selama empat kali pertemuan, yaitu tanggal 1, 8, 15 dan 22 April 2012. Konsepnya nanti pertemuan pertama dan ketiga untuk materi, sedangkan pertemuan kedua dan keempat digunakan sebagai praktik menulis,” jelas Nara.

Peserta yang mengikuti kegiatan pada pertemuan pertama ini sebanyak 29 orang. Terdiri dari pelajar SMA dan mahasiswa. Sedangkan tampil sebagai pemateri dari Balai Bahasa Yogyakarta, Bapak Herry Mardianto dan juga cerpenis Ikun Sri Kuncoro.

Bagi Herry Mardianto, kegiatan semacam ini seperti reuni kecil baginya. “Setiap ada kegiatan semacam ini, saya selalu bertemu dengan orang yang itu-itu saja, orang yang juga mengikuti bimbingan saya sebelum ini, jadi di sini pun sekarang saya merasa seperti sedang reuni ketika saya tahu ada beberapa temen-temen di sini yang saya hafal,” katanya di awal mengisi materi.

Pada pertemuan pertama ini Herry Mardianto mengisi materi tentang tekhnik kepenulisan secara umum, termasuk bagaimana caranya menggali ide dalam menulis.

“Ide itu muncul dari pengalalaman. Pengalaman sendiri bisa didapat dari lingkungan, imajinasi, dan hasil dari pembacaan” paparnya. Selain itu, Alumnus Fakultas Sastra UGM ini juga memberi materi tentang budaya Jogja, di mana harapannya nanti peserta dapat menuliskan ide dan gagasannya ke dalam sebuah teks cerpen yang diwarnai dengan konten budaya Jogja di dalamnya.

Dalam silabus pelaksanaan, penyelenggara Bimbingan Kepenulisan memang mengajukan topik “Remaja Bicara Jogja”. Topik itu nantinya digunakan sebagai benang merah dalam penciptaan cerpen yang harapannya dapat diterbitkan sebagai antologi bersama hasil bimbingan.

Adapun pemateri yang kedua, Ikun Sri Kuncoro. Ia didaulat memberikan materi tentang teknik menulis cerpen dan menyinggung orisinalitas karya. “Jika kita menuliskan sebuah pemandangan indah yang juga dipandang indah oleh orang lain, pastilah kita tidak menuliskan apa-apa,” kata cerpenis kelahiran Bantul ini. (Tikah Kumala)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan