-->

Kronik Toggle

Ahmad Tohari: "Anak Muda Harus Rakus Membaca"

YOGYAKARTA – Nama Ahmad Tohari begitu masyhur di kalangan pecinta sastra. Penulis novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk itu sudah mencecap manis dan getir selama berkiprah di dunia sastra.

Akibat novel yang membesarkan namanya itu, dia pernah diinterogasi militer di zaman pemerintahan Orde Baru. Namun, tekadnya tak luruh. Dia tetap berkarya.

Kini, dia punya pesan khusus bagi anak muda. “Anak muda harus rakus membaca,” kata Tohari dalam diskusi bertajuk Bincang Budaya Belajar dari Ronggeng Dukuh Paruk yang diselenggarakan oleh Yayasan Universal Nikko di kompleks Purawisata Jogja kemarin (29/4).

Di balik penampilannya yang sederhana, pria kelahiran Tinggarjaya, Banyumas, Jawa Tengah pada 1948 itu tak segan menyemangati siapa saja untuk menulis dan berkarya. Dia memberikan resep. Yakni, untuk memulai proses menjadi penulis setiap orang harus memulai dari aktivitas membaca.

Berdasarkan pengamatannya, papar dia, penulis terkenal sudah melahap ratusan bahkan ribuan buku. Tidak hanya membaca, sambungnya, untuk menjadi seorang penulis seseorang juga harus bertanya apakah dirinya sudah cukup peka terhadap persoalan sosial. Terutama terkait masalah sosial, realitas yang biasanya melahirkan tulisan-tulisan berkualitas.

“Masalahnya, perhatian anak muda kini banyak tersedot oleh informasi yang terkapitalisasi. Sehingga banyak tulisan yang ditulis sebenarnya bukan cerminan dari pribadi ataupun lingkungannya,” ujarnya.

Soal membaca, Tohari mengaku sudah tamat membaca komik Maha Barata karya R.A. Kosasih sebanyak 48 jilid serta komik Ramayana sebanyak 19 jilid sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat sekolah di SMA Negeri 2 Purwokerto, kegemarannya membaca kian terfasilitasi. Ini karena di perpustakaan sekolahnya ada banyak novel klasik serta buku-buku karya Karl May yang menjadi favoritnya.

“Apalagi saat itu ada guru kesenian yang memiliki perpustakaan lengkap di rumahnya. Saya diizinkan membaca semua koleksi yang ada,” ujarnya.

Tohari mulai menulis sejak kelas 2 SMP. Waktu itu, ujarnya, dia diminta seorang guru untuk mengisi majalah dinding. “Ketika itu saya rajin menulis puisi dan menempelkannya dalam mading,” ungkapnya.

Dia mantap menekuni dunia sastra setelah gagal menuntaskan kuliahnya. Itu terjadi sekitar 1979. “Saya niatnya menulis sebagai hobi. Karena ketagihan dan berkelanjutan maka terbitlah sebuah novel. Waktu itu novel yang pertama lahir adalah Di Kaki Bukit Cibalak yang awalnya berupa cerita bersambung yang terbit di salah satu harian nasional tahun 1979,” terangnya.

Dia lantas membuat novel keduanya, Kubah. Novel ini mendapat penghargaan dari Yayasan Buku Utama. Bahkan, diungkapkan Tohari, novel tersebut mendapatkan sambutan positif dari Abdurrahman “Gus Gur” Wahid, tokoh NU dan mantan presiden RI. Alasannya, novel itu yang pertama kali berani menceritakan kejadian tentang Gerakan 30 September 1965.

Tapi, Gus Dur juga menyampaikan kritik. Gus Dur menilai alur ceritanya begitu mudah ditebak dan tidak memiliki ketegangan. “Maklum penulis pemula,” ujar pria yang pernah mengeyam pendidikan di fakultas kedokteran ini. “Pada awalnya kuping terasa panas mendapatkan kritikan langsung. Tapi, lama-kelamaan bisa menerima juga,” imbuhnya.

Sumber: radarjogja.blogspot.com, 30 April 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan