-->

Kronik Toggle

Tanggapan Pembakaran Buku dalam Aksi #IndonesiaTanpaJIL

Munculnya aksi pembakaran buku di aksi #IndonesiatanpaJIL mendapat tanggapan di pelbagai akun Twitter. Yusro M. Santoso di situs salingsilang.com membagi beberapa kronik tanggapan tersebut.

@pramince: kayak semacam Fitnah yg blg ad yg bakar buku saat aksi#indonesiaTanpaJIL kmrin. gw punya foto lengkap kok. cc:@malakmalakmal

@pradewitch: Kalau tidak ada yang bakar buku, maka yang menyebarkan berita adanya bakar buku keparat juga.

@hotradero: Sebenarnya yg ditakutkan itu adalah ide yg tertulis dalam buku. Aksi bakar buku diharapkan mampu membunuh suatu ide. Ya, bodoh & konyol.

@lyndaibrahim: Akan selalu ada tulisan/pemikiran yg tdk kita senangi atau setujui. Sila didiskusikan, ditanyakan. Bakar buku? Sila balik ke jmn Jahiliyah.

@GunturRomli
: Itu yg bakar buku krn gak bisa baca buku, stlah dibakar abunya diminum biar hafal 🙂

Tanggapan yang serius dengan pemahaman mendalam datang dari akun @zenrs. Sabtu 10/03/2012, Tweep yang suka sharing tentang sejarah, filosofi dan sepak bola ini memberikan pencerahan, arti pentingnya sebuah buku dalam dunia Islam. Berikut adalah kutipan beberapa twit @zenrs:

  • Al-Qur’an secara alegoris mengajarkan bagaimana menyikapi “perbedaan”: kalau kau sanggup, bikin-tulislah ayat yg sama bagusnya dg Qur’an.
  • Susah sih, negara aja melakukan pembakaran buku. Ribuan buku pelajaran sejarah dimusnahkan Jaksa Agung karena persoalan dg peristiwa 1965.
  • Membakar buku itu, untuk saya, tidak segendang-sepenarian dg nafas utama Islam dan ke-Indonesia-an.
  • Ayat pertama saja Iqra. Itu secara teologis. Secara historis, puncak kegemilangan peradaban Islam itu ya saat buku-buku dimuliakan.
  • Indonesia? Aih, para pendiri bangsa ini semuanya pembaca buku, nyaris semuanya penulis. Kesadaran mereka dibimbing oleh buku2 yg mereka baca
  • Dalam sejarah dunia, setidaknya ada 2 renaissans: pada abad 14-16 di Eropa, pada abad ke-10 di Baghdad.
  • Renaisans di Eropa salah satunya dimulai dg gelombang reproduksi-penyalinan-penerjemahan khasanah2 tekstual yg warisan renaisans di Baghdad.
  • Renaisans di Baghdad itulah puncak kegemilangan peradaban Islam bagi dan untuk dunia.
  • Renaisans di Baghdad dimulai dg penerjemahan karya2 klasik Yunani. Penerjemahnya: Hunain Ibn Ishaq, Yuhanna ibn Hailan, dll.
  • Semua aksi menyalin & menerjemahkan karya2 klasik itu difasilitasi dan dibiayai oleh para pejabat & orang2 kaya di Baghdad waktu itu.
  • Kata John Kraemer, sampai-sampai waktu itu orang kaya di Baghdad akan merasa kurang beradab jika tak mempunyai perpustakaan.
  • Selepas Shalat Jumat, pasar dipenuhi para pedagang buku. Orang2 kaya waktu itu bisa rebutan sebuah buku klasik yg dibawa saudagar dr jauh
  • Puncaknya saat Dinasti Buwaihiyyah di Baghdad pada abad 4 Hijriah atau 10 Masehi. Ini rezim yg memimpin dg etos kosmopolitanisme.
  • Di masa itu, semua kelompok agama (Islam, Yahudi, Kristen sampe org2 Pagan) secara rutin bertemu dan membahas buku-buku klasik dr Yunani.
  • Muncul beberapa kelompok studi, sprt “Philosophical Circle”-nya Al Sijistani, “Royal Circlenya”-Ibn sa’dan dan lingkarannya Ibn ‘Amid.
  • Begitu besarnya penghormatan pada buku di Baghdad masa itu, pernah ada yg bersaksi seorang penulis buku dihargai dg emas seberat bukunya.

Booklovers tentu bisa mengikuti kronik besar pembakaran buku di link: IndonesiaBuku.com/Pembakaran dan IndonesiaBuku.com/Pelarangan. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan