-->

Lainnya Toggle

Politik Selembar Foto

Oleh Muhidin M Dahlan

Foto hitam putih yang sudah kabur dan berbintik itu nyaris ada di semua halaman buku ketika cerita sejarah sampai pada babak “Pemberontakan” Madiun 1948. Enam mayat menggelimpang dalam galian besar yang dangkal. Tambang-tambang putih masih melilit leher dan tangan di belakang. Saling mengait satu dengan lainnya. Dan sesosok algojo yang mirip penggali kubur sedang memegang  “benda” dengan dua tangannya.

Di bawah foto itu kemudian diberi keterangan: “Korban-korban keganasan PKI Madiun”. Foto itu terdapat di buku 30 Tahun Indonesia Merdeka: 1945-1960 (1995: 177)

Selalu saja, untuk menunjukkan kekejaman PKI, foto ini yang diajukan ke muka pembelajar sebagai satu-satunya saksi hidup yang mengutuk PKI dan gerombolannya. Foto ini nyaris suci dan terjaga dengan cara diproduksi dan reproduksi puluhan kali di puluhan buku ajar untuk mengukuhkan sejarah resmi penguasa.

Selembar foto kutukan kepada sebuah kaum pembunuh yang amoral itu kini dipertanyakan. Bukan gugatan dengan deret ukur argumen, tapi menampilkan semua frame foto itu. Foto-foto itu terdapat di buku Madiun 1948: PKI Bergerak (2011: 275-282) karya Harry A Poeze.

Dalam buku itu ditampilkan 10 frame foto. Rupanya foto yang tampil sendiri selama puluhan tahun itu adalah rangkaian peristiwa. Itu adalah frame ke sepuluh. Frame pertama bagaimana manusia-manusia bernasib buruk dalam kubur massal itu diinterogasi di bawah todongan senjata laras panjang. Frame berikutnya para tahanan itu diarak dari satu tempat ke tempat lainnya, disuruh menggali sumur matinya, kemudian ditembaki satu-satu. Yang belum mati dicincang bayonet dan kemudian diakhiri foto yang terdapat di buku-buku sejarah.

Di sinilah soalnya. Keterangan utama ke sepuluh foto itu adalah bahwa korban-korban itu adalah anggota PKI di Magetan, dan bukan korban kekejaman PKI. Lebih lanjut, tulis Harry Poeze, memang tak banyak foto yang menggambarkan kekejaman PKI dalam ofensi Madiun 1948.

Selain 10 foto yang membatalkan ruang sadar kita yang diringkus selama puluhan tahun, ditampilkan juga 5 foto pembantaian anggota PKI di alun-alun Magetan. Disaksikan ratusan warga, “algojo” PKI bernama Sipong itu dinaikkan di atas perancah tinggi. Tubuh bermandi darah itu kemudian dilempar dan warga diberi hak mencincangnya sampai mati. Nyaris sama dengan frame kamera video adegan pembantaian warga Ahmadiyah di Cikeusik Banten dan petani Mesuji Lampung.

Dari foto-foto itu, tahulah kita foto bukan sekadar pelengkap dari teks pada sebuah buku. Foto memiliki peran penting, dan bahkan boleh dibilang kuat-otonom. Dan yang pasti foto menjadi saksi paling menggetarkan ketika sejarah sedang berlangsung.

Tak hanya foto “kekejaman PKI” yang punya takdir seorang diri maju ke hadapan mahkamah sejarah memberi pendapat visual pada sebuah peristiwa penting. Contoh lain adalah foto pembacaan teks Proklamasi dan pengibaran bendera sangsaka di Pegangsaan Timur Jakarta dari Mendur Bersaudara. Dua lembar foto—dan hanya dua-duanya di dunia—yang menggambarkan siapa saja yang terlibat dalam peristiwa sakral politik itu.

Tentu yang mencengangkan adalah selembar foto saat Presiden Sukarno dan Panglima Besar Jenderal Soedirman berpelukan di serambi Gedung Agung Yogyakarta, pada 10 Juli 1949.

Foto itu ingin memperlihatkan kepada rakyat bagaimana mesra dan akurnya pemimpin politik dan militer yang sebelum-belumnya terjadi keretakan yang hebat karena perbedaan strategi: diplomasi atau perang. Peristiwa itu adalah “politik foto” karena tak terjadi begitu saja. Sukarno-lah yang jadi sutradara mengatur pose berpelukan itu. Bahkan beberapa kali fotografer diminta Sukarno mengulangi ketika ia merasa kurang tepat.

Foto pun menjadi drama politik. Ia tak netral. Bisa diatur untuk kepentingan apa pun. Ketika ada peristiwa “penting”, dan saudara masuk dalam frame, pastilah saudara bernasib mujur atau malah buntung. Mujur, jika foto itu seperti peristiwa pembacaan teks Proklamasi. Tapi nasib buntung dan menerbitkan was-was ketika peristiwa dalam foto itu hal yang tak disukai penguasa (baca: tentara).

Demikian itulah yang digambarkan Milan Kundera di halaman pertama bukunya yang terkenal: Kitab Lupa dan Gelak Tawa (terbit pertama kali 1978): Bulan Februari 1948, pemimpin Komunis Klement Gottwald melangkah keluar menuju balkon sebuah istana Barok di Praha untuk berpidato. Salah satu pengapit Gottwald Clementis yang menanggalkan topi bulunya buat Sang Ketua karena salju lebat turun. Foto terkenal itu disebarkan ribuan kopi karena dipakai sebagai patok sejarah: di atas balkon itulah Partai Komunis lahir.

Empat tahun kemudian Clementis dituduh berkhianat dan digantung. Foto Clementis yang sudah kadung tercetak di foto bersejarah itu, oleh seksi propaganda partai, segera dihapus. Hasil croping itu: Gottwald sendiri berdiri di balkon. Satu-satunya yang tersisa dari Clementis hanyalah topi yang terpacak di kepala Gottwald.

Peristiwa “foto politik” itulah yang melatari munculnya kutipan paling terkenal dari Kundera: “Perjuangan manusian melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa.”

Sumber: Koran Tempo, 10 Maret 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan