-->

Tokoh Toggle

Peter Carey, 30 Tahun Meneliti Pangeran Diponegoro

Oleh: Rento Ari Nugroho/Setya Krisna Sumargo

2012 03 08_Buku_Peter Carey, Diponegoro webYOGYAKARTA – Bukan suatu kebetulan bila Dr Peter Carey, Profesor Emeritus Sejarah Modern di Trinity College, Oxford, Inggris, menghabiskan waktu hampir 30 tahun meneliti kehidupan Pangeran Diponegoro. Nasib membawanya ke Tegalrejo, kemudian merunut secara mendetail kehidupan sejarah tokoh Jawa nan fenomenal ini.

Padahal semula Peter Carey ingin meneliti tentang dampak revolusi Perancis, di daerah luar Paris. Namun, oleh profesor pembimbingnya, kala itu ia disuruh menulis dampak revolusi Perancis di luar Eropa. Kemudian, ketika sedang membaca berbagai catatan sejarah tentang sepak terjang Belanda di Hindia Belanda, tidak sengaja matanya terpaku kepada sketsa sosok FVHA Ritter de Steurs, menantu De Kock yang ikut menangkap Pangeran Diponegoro.

“Dari gambaran yang diberikan oleh Steurs, saya menangkap gambaran orang yang sungguh luar biasa. Orang ini (Pangeran Diponegoro, Red) menarik perhatian saya saat itu juga,” kenang  Carey ketika diwawancara Tribun Jogja, di paviliun utama Hotel Grand Hyatt Yogyakarta, Rabu (7/3) petang.

Carey pun memutuskan datang ke Yogyakarta, pada 1971. Menurutnya, kala itu ada suatu pengalaman spiritual yang tidak bisa ia lupakan. Pengalaman tersebut memantapkannya utnuk menulis tentang Pangeran Diponegoro.

“Waktu itu saya bersama teman ingin menonton wayang wong. Oleh seorang teman, kami dianjurkan untuk menuju ke suatu tempat yang agak jauh dari Kota Yogyakarta. Kami pun segera ke sana, naik becak. Ternyata becak yang kami tumpangi itu melewati daerah Tegalrejo. Di sana, saya seperti merasakan ikatan batin yang begitu kuat dengan Pangeran Diponegoro. Ibaratnya, seperti dibimbing arwah leluhur,” tutur Carey dalam Bahasa Indonesia yang cukup lancar.

Setelah itu, hampir 30 tahun dihabiskan Carey untuk meneliti detail kehidupan Pangeran Diponegoro. Hasil penelitiannya itu kemudian ia tuangkan dalam buku berjudul The Power of Prophecy, yang belakangan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi tiga buku berjudul Kuasa Ramalan, Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa. Latar belakang abad 18 dan awal abad 19 mendominasi penggambaran sosok Pangeran Diponegoro.

Ia menggambarkan secara runtut perkembangan Pangeran Diponegoro sebagai seorang Muslim yang saleh dan pemberani, sekaligus pemimpin perang melawan penjajah Belanda pada 1825-1830. Pribadi dan kepahlawanannya diceritakan berdasarkan sumber Belanda dan Jawa.

Carey berpendapat, Pangeran Diponegoro merupakan seorang visioner yang berani berbeda pendapat dengan Kiai Mojo mengenai hubungan dengan orang Eropa. Menurut Pangeran Diponegoro, menjalin hubungan dengan orang Eropa perlu, dengan tiga syarat. Pertama, bila orang Belanda masuk Islam, maka jadikan orang itu sebagai saudara sekalipun pada akhirnya ia pulang ke negaranya. Kedua, orang Eropa dalam urusan dagang hanya boleh berdagang di pesisir yaitu Batavia dan Semarang. Ketiga, dalam urusan sewa-menyewa dan perdagangan, orang Eropa harus menggunakan harga wajar.

Carey menyimpulkan, hal itu menunjukkan Pangeran Diponegoro adalah pemimpin yang berpikiran jauh ke masa depan, yang memikirkan globalisasi bukan sesuatu yang bisa dihindari. Lambat laun pasti globalisasi akan terjadi.

Buku Carey tentang Pangeran Diponegoro adalah buku pertama yang menggunakan Babad Jawa, arsip kolonial Belanda dan Inggris, sebagai sumber utama. Kuasa Ramalan ini akan diluncurkan Kamis (8/3) pukul 09.30 hari ini, di Museum Tegalredjo, di Yogyakarta, yang juga dikenal sebagai Museum Pangeran Diponegoro.

Acara peluncuran buku ini menghadirkan, antara lain, Peter Carey sebagai penulis buku, dan Ketua Program Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Dr G Budi Subanar SJ. Adapun pembahasnya adalah Wardiman Djojonegoro, pemerhati sejarah yang juga mantan menteri pendidikan dan kebudayaan, dan Ki Roni Sadewo, keturunan keluarga Diponegoro. Diskusi akan diawali keynote speech oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Pendukung penerjemahan buku Peter Carey  ke Bahasa Indonesia adalah Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), yang diketuai Hashim Djojohadikusumo.  Keadaan bangsa Indonesia saat ini, yang semangat generasi mudanya menggali sejarah telah mulai luntur, mendorong YAD mendukung penerjemahan buku ini. YAD berharap bangsa Indonesia bisa meneladani kepahlawanan Pangeran Diponegoro yang dituangkan dalam buku tersebut.  (Junianto Setyadi)

Dengar, baca, download: Tuturan dan Risalah Peter Carey

Sumber: Tribun Jogja, hlm 1 dan 7 |  8 Maret 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan