-->

Tokoh Toggle

Okky Puspa Madasari, Novel sebagai Alat Perjuangan

Foto: Media Indonesia

Foto: Media Indonesia

Dunia tulis-menulis sudah akrab ditekuninya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Okky Puspa Madasari orangnya. Tulisan lepas seputar tema sosial kemasyarakatan sering ia tuangkan di majalah dinding maupun majalah sekolahnya waktu itu.

“Saya sudah lama ingin jadi wartawan. Makanya saya mengasah dengan menulis tentang keadilan, kesemrawutan bangsa, sampai masalah-masalah yang merugikan orang lain,” kata Okky saat ditemui di rumahnya, di kawasan Tanjung Barat, Jakarta Timur, Sabtu (10/3).

Kesenangannya itu sepertinya tidak pernah pudar. Perjalanannya di bidang literasi itu kini mengantarkan Okky menjadi seorang novelis yang mulai diperhitungkan. “Waktu itu pikiranku sederhana, setidaknya sepanjang hidupku, bikin satu novel saja,” ujarnya seraya tertawa.

Sejak memutuskan menekuni penulis novel, Okky yang pernah mencicipi dunia wartawan selama tiga tahun ini menjadikan menulis sebuah rutinitas wajib. Dari 2010 hingga kini, sudah tiga novel ia buat.

Yang agak membedakan Okky dengan novelis lain, semua karyanya merupakan ekspresinya dari kritik sosial yang tajam.

Ia pun bercerita tentang suka duka saat membuat novel pertamanya. Meski setiap hari meluangkan waktu sedikitnya 3 jam untuk di depan komputer, tidak semua yang seharusnya dituangkan dalam tulisan mengalir. “Kadang seharian di depan laptop, tapi tidak menulis satu paragraf pun. Kadang lancar. Memang proses kreatifnya seperti itu. Yang penting kita asah terus,” ujarnya menjelaskan proses karyanya.

Bahkan ide tentang tema novel perdana Okky, Entrok, muncul karena ia teringat neneknya yang suka bercerita padanya sejak kecil. Salah satu cerita yang melekat ialah perjuangan neneknya untuk mendapatkan entrok (bra), yang harus dicapai dengan kerja keras.

Jadilah novel pertamanya yang bercerita tentang sosok perempuan Jawa dan diolah dalam bingkai keberagaman keyakinan dan kediktatoran Orde Baru.

Dalam novel kedua, 86, misalnya, Okky memilih tema korupsi. “Selama jadi wartawan, kata korupsi sudah jadi makanan sehari-hari. Makanya saya tertarik membuat novel tentang korupsi. Apalagi korupsi masalah besar bangsa Indonesia,” ujar perempuan asal Magetan, Jawa Timur, ini.

Tidak disangka novel keduanya itu mendapat sambutan yang luar biasa. Novel itu masuk lima besar penghargaan Khatulistiwa Literary Award. “Saya selalu berpikir bagaimana agar novel-novel saya berkisah tentang permasalahan yang sedang dihadapi bangsa ini,” kata Okky.

Menulis bagi Okky, selain mengasyikkan, menjadi sarana untuk mengemukakan pemikiran dan memperjuangkan idealisme yang harus ditularkan kepada semua orang.

Ambisi

Belum lama ini, Maryam, memperkuat posisi Okky sebagai novelis yang cukup produktif dan konsisten. Kegusarannya terhadap kebebasan menjalankan syariat agama yang tidak terlindungi oleh negara menjadi benang merah Maryam.

Okky kini mulai menggarap buku berikutnya. “Novel yang sedang digarap masih dalam tahapan riset. Nantinya akan bicara tentang bagaimana perkembangan masyarakat dari perkembangan sistem sosial politik dilihat dari beberapa generasi. Masalah di generasi pertama akan berbeda dengan generasi berikutnya yang mengalami perkembangan sistem dan kemajuan teknologi, misalnya.”

Tentu saja ada mimpi lain yang ingin diraih Okky, menulis buku nonfiksi. “Saya ingin merambah buku nonfiksi tanpa meninggalkan novel. Masih banyak yang ingin diraih dalam bidang sastra,” ujarnya sambil tersenyum. Dia pun memastikan temanya tak akan jauh dari karya-karya novel, yakni berbicara tentang isu sosial dan kemanusiaan.

Okky Puspa Madasari2Pencipta lagu

Di sela kesibukannya menggarap novel, ternyata Okky suka bermain piano. Terutama kalau ia sedang butuh suasana baru atau tidak dapat ide. Ingin juga menjadi pemusik? “Hahaha, sekadar suka main piano dan iseng-iseng membuat lagu dan lirik,” ujar penggemar The Beatles ini.

Keisengannya itu ternyata membuahkan satu album dengan judul Terbangkan Mimpi, judul yang sama untuk lagu perdananya.

Uniknya, karena ditulis bersamaan dengan penulisan novel Maryam, liriknya banyak bercerita tentang ‘ketidakterlindungan warga negara itu’.

Namun di album itu, Okky tidak menyanyi, hanya menciptakan lagu. Ia menggandeng Shei Latiefah sebagai vokalis. “Nulis dan menciptakan lagu masing-masing punya keseruan sendiri. Lagu kan pendek, sehari dua hari selesai dan lega. Nah, kalau novel penulisan panjang,” ujar Okky yang mengaku lebih pas menghanyutkan diri dalam dunia penulisan.

Sumber: Portal Berita mediaindonesia.com, 12 Maret 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan