-->

Ruang Toggle

Koran Pasinanon

Koran Pasinaon

Foto: koran-pasinaon.blogspot.com

Oleh: Amanda Putri

Kemampuan baca tulis yang diserap Sugimah (64) dan Rohmiyati (54) pada usia muda tak berbekas karena kurang diasah. Kini, kecakapan beraksara yang mereka peroleh kembali berusaha diawetkan melalui penerbitan koran.

Kecelakaannya tanggal 17 di Krapyak. Meninggalnya tanggal 26 di rumah sakit. Ninggal suami baru hamil empat bulan.” Demikian Sugimah menuliskan laporan mengenai tetangganya yang meninggal dunia karena kecelakaan kerja.

”Lho, yang hamil itu istri, Bu. Bukan suami…,” kata Tirta Nursari, pemimpin redaksi koran Pasinaon, mengoreksi tulisan Sugimah.

Sugimah pun tertawa. ”O, iya, lupa,” ujarnya. Begitulah suasana di Taman Belajar Masyarakat (TBM) Warung Pasinaon di Kelurahan Talun, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (1/3).

Sugimah adalah salah satu penulis di koran Pasinaon. Koran yang dikelola ibu-ibu di Kelurahan Talun ini terbit sekali sebulan. Isinya beragam informasi yang terjadi di lingkungan sekitar mereka, mulai dari kenaikan harga bahan pokok, mahalnya biaya pendidikan, hingga kecelakaan kerja yang menimpa tetangga. Tidak ketinggalan resep masakan, ramuan jamu tradisional, perihal kesehatan, dan pengalaman pribadi, seperti bagaimana seorang ibu menabung Rp 2.000 per hari agar bisa membuka usaha kelak.

Nama Pasinaon berasal dari bahasa Jawa yang berarti ’pembelajaran’. Sesuai dengan namanya, koran itu menjadi media pembelajaran bagi kaum ibu yang baru saja melek huruf.

Tidak heran, kata dan kalimat yang mereka rangkai kerap tidak akurat. Ibu-ibu yang menjadi penulis di koran tersebut sebetulnya tidak semuanya buta huruf. Sugimah dulu sempat mengenyam bangku SD, tetapi hanya sampai kelas III. Kemampuan menulis dan membacanya belum lancar. Ia berupaya belajar membaca dan menulis di sela-sela mengasuh cucu dan berjualan gorengan.

Penulis lain, Rohmiyati, bahkan sampai membawa buku ke sawah. Ibu dari lima anak itu hampir setiap hari bekerja di sawah untuk mengurus tanaman padi. Suaminya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Agar kemampuan membaca terasah, setiap waktu mengaso, ia membolak-balik lembaran buku.

”Saya harus bisa membaca supaya bisa tahu banyak, tidak tersesat di jalan, dan tidak mudah ditipu. Saya senang sekarang sudah bisa baca surat ulem (undangan),” tuturnya bersemangat.

Rohmiyati sempat duduk di bangku SD, tetapi tidak sampai tiga bulan karena tidak diperbolehkan orangtuanya. Kala itu, orangtuanya beranggapan anak perempuan cukup memasak di dapur dan momong (mengasuh anak) saja.

Kini, Rohmiyati, Sugimah, dan ibu-ibu sekampung yang bernasib serupa mulai keluar dari cengkeraman masa lalu. Mereka menyadari pentingnya membaca dan menulis. Melalui koran Pasinaon, ibu-ibu itu tak hanya mudah mengakses informasi dari buku, koran, atau majalah, tetapi juga bisa berbagi informasi.

Sugimah dan Rohmiyati sempat mengikuti program pemberantasan buta huruf, salah satu program pemerintah tahun 1980-an. Namun, kemampuan membaca dan menulis mereka tidak berubah karena tidak pernah digunakan. Tahun 2008, setelah keduanya mengikuti program Keaksaraan Fungsional dari Kementerian Pendidikan Nasional (kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), kecakapan mereka jadi terasah.

Tirta Nursari, Koordinator TBM Warung Pasinaon, melihat kemampuan membaca dan menulis akan hilang jika tidak terus dibiasakan. Maka, ia pun membuat sebuah media informasi yang bisa mengakomodasi kebutuhan ibu-ibu tersebut. Kebetulan saat itu ada program Koran Ibu dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Mereka mendapat bantuan untuk menerbitkan koran dua kali pada awal tahun 2010 sebanyak 1.000 eksemplar per edisi.

Setelah itu, Tirta bertekad melanjutkan penerbitan koran setebal 20 halaman itu. Memang tidak bisa terbit rutin setiap bulan. Kadang dua bulan sekali. Namun, hingga kini, Pasinaon terbukti tetap eksis.

”Banyak pihak yang membantu. Tahun 2012 ini sebuah perusahaan sanggup membiayai penerbitannya,” ujar Tirta.

Ibu-ibu itu melakukan pertemuan rutin seminggu sekali untuk mengikuti pengajian atau berbagi keterampilan. Mereka juga merancang isi koran yang akan terbit berikutnya.

Para wartawan ibu yang jumlahnya tujuh orang mengumpulkan tulisan tangan mereka di satu kotak. Kemudian, editor akan memilih naskah mana yang bakal dimuat. Beberapa tulisan dipindai dan dimuat apa adanya. Beberapa lainnya disadur dan diketik ulang.

Sugimah kini menyadari bahwa bergosip dengan tetangga atau siapa saja tidak produktif. Ia juga menjadi semakin percaya diri untuk menjawab kalau cucu atau cicitnya bertanya sesuatu.

Ibu-ibu mulai berpikir rasional terhadap mitos-mitos tidak berdasar yang selama ini dipercaya. Mereka jadi paham bahwa untuk mengatasi sakit flu tidak harus dengan kerokan, air susu ibu ternyata dapat disimpan, dan rematik bukan disebabkan kebiasaan mandi pada malam hari.

Penerbitan koran itu seperti menjawab paparan dari Bupati Semarang Mundjirin ES bahwa angka melek huruf di daerahnya untuk usia 15-24 tahun mencapai 99,68 persen. Namun, pada usia lanjut, angka melek huruf lebih tinggi.

Koran Pasinaon merupakan salah satu upaya mengasah keaksaraan sekaligus mencegah potensi buta huruf kembali….

Sumber: Kompas, 7 Maret 2012, “Membuat Koran, Merawat Kemampuan Baca Tulis”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan