-->

Lainnya Toggle

Jelek dan Buruk

Oleh Alfons Taryadi

Ketika saya menyampaikan makalah, ”Kualitas Terjemahan dan Dampaknya pada Masyarakat Indonesia”, pada Seminar Penerjemahan Akademi Jakarta yang diselenggarakan dalam kerja sama dengan Himpunan Penerjemah Indonesia di Jakarta pada 5 Desember 2005, seorang pakar bahasa dari Universitas Indonesia mengkritik penggunaan kata jelek yang saya tudingkan pada banyak buku terjemahan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia yang beredar di tengah-tengah kita dewasa ini. Alasannya, kata tersebut berkenaan dengan sesuatu yang jasmaniah. Wajah seseorang misalnya. Kualitas rendah untuk hal nonfisik disebut dengan buruk.

Tentang hal itu saya enggan berbantah. Yang penting bagi saya, sahabat saya itu setuju dengan isi pokok makalah saya.

Namun, belakangan ini saya berpikir lagi tentang kata jelek ketika membaca judul berita Kompas terbitan Senin, 5 Januari 2012 pada halaman 2 yang berbunyi: ”Penegakan Hukum Jelek.” Di situ kata jelek dipakai sebagai atribut sesuatu yang nonfisik. Anehnya, dalam berita yang sama terbaca juga kalimat berikut: ”Dalam pemberantasan korupsi selama ini, pemerintahan Yudoyono dipersepsikan sangat buruk oleh publik.” Nah, pemakaian kata jelek dan buruk dalam berita itu menunjukkan anggapan bahwa dua kata tersebut adalah sinonim.

Bagaimana pemakaian kata jelek dan buruk menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat?

Di situ tersua tiga kelompok arti jelek. Pertama, jelek berarti tidak enak dipandang mata atau buruk tentang wajah. Kedua, jelek berarti tidak menyenangkan, tidak menenteramkan, tidak membahagiakan, jahat, atau tidak baik tentang watak. Ketiga, sebagai kiasan, jelek berarti tercemar seperti dalam ”karena ia melakukan korupsi, namanya jadi jelek”.

Begitu pula dengan kata buruk. Ia diberi tiga kelompok arti. Pertama, buruk berarti rusak atau busuk karena sudah lama, seperti dalam ”memakai kain buruk”. Kedua, berkaitan dengan kelakuan, misalnya, buruk berarti jahat atau tidak menyenangkan seperti dalam ”kelakuannya sangat buruk”. Ketiga, menyangkut muka atau rupa, buruk berarti tidak cantik, tidak elok, jelek.

Jadi, ditimbang dari keterangan yang kita peroleh dari KBBI Pusat Bahasa Edisi Keempat, jelek dan buruk bisa saling dipertukarkan.

Persoalan yang saya angkat ini membuat saya teringat akan ucapan almarhum Prof Dr Anton M Moeliono suatu hari di sela-sela pembicaraan tentang hal lain. Tentang perihal semantik, menurut pakar linguistik yang kondang itu, masyarakat luaslah yang menentukan diterima tidaknya penggunaan dan pengartian suatu istilah. Misalnya, istilah ”kabinet RI Jilid II” ia anggap aneh. Namun, jika masyarakat luas menerimanya, kata Anton, kita tak usah menentangnya. Lain halnya jika kita bicara soal gramatika. Dalam hal ini, menurut Anton, ketentuan yang telah digariskan berdasarkan riset ilmiahlah yang sahih, harus kita patuhi.

Jadi, kata jelek dan buruk kiranya boleh dianggap sinomim saja.

Alfons Taryadi. Sarjana Filsafat, Penerjemah

Sumber: Kompas, 27 Januari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan