-->

Kronik Toggle

Dokumen Supersemar di ANRI Palsu

SEMARANG – Kendati 46 tahun berlalu, naskah autentik Surat Perintah 11 Maret 1966 atau Supersemar hingga kini belum ditemukan. Arsip Nasional Republik Indonesia bertekad terus mencari naskah Supersemar yang asli karena dua dokumen yang berisi Supersemar dan satu dokumen salinan yang tersimpan di ANRI adalah palsu.

Naskah Supersemar yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) versi pertama hanya satu lembar dari Pusat Penerangan TNI Angkatan Darat. Versi kedua sebanyak dua lembar dari Sekretariat Negara.

”Namun, keduanya palsu karena pada lambang negara tidak menggunakan kapas dan bintang, Garuda berada di sebelah kanan. Itu aneh. Satu sama lain berbeda,” ujar Kepala ANRI M Asichin, seraya menunjukkan fotokopi dari dua naskah Supersemar itu kepada Kompas, di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (10/3).

Dari pengamatan fisik, dalam fotokopi dua naskah itu, keduanya menggunakan lambang negara Garuda Pancasila di posisi kanan atas. Isi kedua dokumen yang ditandatangani Soekarno selaku Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS tertanggal 11 Maret 1966 hampir sama persis. Bedanya, untuk dokumen versi satu lembar ada tulisan IV. Selesai. Adapun dokumen versi dua lembar hanya sampai III.

Selain itu, huruf yang digunakan berbeda dan penulisan nama Soekarno dan Soeharto juga berbeda. Di versi pertama tertulis Soekarno dan Soeharto. Dalam versi kedua dituliskan Sukarno dan Suharto.

Selain dua dokumen itu, lanjut Asichin, ANRI juga menemukan dokumen lain, yakni hasil salinan Supersemar, tetapi tidak ada kop sama sekali. Dokumen ini paling atas tertulis ”salinan” kemudian seterusnya isinya sama dengan dua dokumen Supersemar yang dinyatakan palsu. Pada bagian bawah salinan itu tertulis, ”Sesuai dengan jang asli, Sekretariat Negara Biro I, Pd.Kepala I Bagian Kearsipan, a.n.b, Pd.Kepala Seksi Pengetikan, Nj Sumarkinah” beserta tanda tangan Nyonya Sumarkinah.

”Jika ditanya Supersemar ada atau tidak, menurut saya, ada. Dari kesaksian Moerdiono, mantan Menteri Sekretaris Negara, saat kami wawancara pada 26 April 2008, dia menyatakan pernah melihat Supersemar, terdiri dari dua lembar,” kata Asichin.

Ia menandaskan, Supersemar ada karena dalam pidato Bung Karno tanggal 17 Agustus 1966 disebutkan penyerahan Supersemar tidak sebagai pengalihan kekuasaan. ”Bukti pidato Bung Karno dan wawancara dengan Moerdiono itu kami simpan. Jadi, naskah Supersemar itu ada, cuma tak tahu di mana,” ujarnya.

Seharusnya ada sanksi

Sejarawan dari Universitas Diponegoro, Semarang, Singgih Tri Sulistiyono, menilai, sebagai dokumen negara yang pernah digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, pasti ada Supersemar yang asli; walau yang asli tidak bisa dijumpai lagi.

Namun, dari sisi dokumen kenegaraan, dengan melihat Supersemar sebagai peristiwa penting, sebetulnya tak boleh naskah asli itu hilang. Siapa pun yang menghilangkan seharusnya mendapatkan sanksi. Apalagi jika dilakukan dengan sengaja. (son)

Sumber: Kompas, 12 Maret 2012, “Dokumen di ANRI Palsu, Naskah Asli Terus Dicari”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan