-->

Lainnya Toggle

Bunga Batu: 1001 Puisi Nadya Nadine

Dbuku_Puisi Nadine_Bunga Batu_Cover copyJudul: Bunga Batu: 1001 Puisi Nadya Nadine

Penulis : Nadya Nadine

Penerbit : Dbuku

Tahun Terbit : 2012

Halaman : xxvi+1286

Kolasi : 17.5cm  x 25 cm x 10 cm

Jilid : Hard Cover

Kemasan : Box execlusive

ISBN : 978.602.98997.6.4

Harga : Rp. 850.000 Tanpa box: Rp.800.000 (belum termasuk ongkos kirim)

Memilih dan memilah puisi-puisi Nadya Nadine barangkali sama beratnya dengan ketika Nadine menuliskannya. Melewati masa-masa menjenuhkan, frustasi, dan kemandegan. Jika harus memilih kata untuk menggambakan situasi ini kami memungut kata: Berdarah-darah!

Puisi yang ditulis dalam rentang waktu 7 Oktober 2008 hingga 31 Desember 2008 ini pernah tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan predikat Penulis Puisi Tunggal Terbanyak.  Nadine berhasil menulis 900 judul puisi dalam waktu 3 bulan. Kemudian puisi tersebut dibukukan dengan menambahkan 101 puisi karya terdahulunya sehingga total puisi yang dibukukan ada 1001 judul. Penyerahan piagam MURI berlangsung di Aula MURI Semarang pada 11 Maret  2009.

1001 Puisi itu kemudian coba kami bagi dalam beberapa sub bab yang mewakili tema-tema besar.

Dosa-Dosa Dan Tuhan Yang Terlupa; adalah puisi-puisi yang banyak mengangkat tema-tema ketuhanan dan eksistensi manusia dihadapanNya.

Kelopak – Kelopak Hari; merangkum puisi tentang peristiwa-peristiwa keseharian berikut renik-renik kesan yang mengiringinya.

Senandung Lara Puisi Cinta; adalah rinai-rinai kisah asmara dan pemaknaan cinta secara universal.

Tentang Diriku; menampakkan citra diri dan identitas kepribadian yang ingin ia tegaskan sebagai sebuah pilihan sadar.

Ibu, Kini Aku Seorang Ibu; menyimpan sisi lain seorang perempuan yang dibalik ketegaran dan ‘keliaran’nya masih menyimpan welas asih dan kerinduan pada orang-orang terdekat: keluarga.

Jiwa – Jiwa Tersiksa Dari Sebuah Bangsa; mengungkap kegelisahan dan teriakan-teriakannya pada penguasa tentang carut marut kondisi bangsa juga dunia.

Pada Tanah Menanam Luk; adalah bagaimana Nadine berbicara dengan /tentang benda-benda disekitarnya. Remah-remah hingga bayangan absurd.

Hidup Dan Kehidupan Berbicara; melingkup pembacaan dan pemaknaan tentang kehidupan.

Pintu Dan Jendela Tanpa Rumah; Mencatat lontaran-lontaran sederhana yang terkadang  filosofis namun tak jarang menohok kedirian.

Artinya kau miliki keyakinan mendasar bahwa puisimu akan sampai kepada seseorang, seperti senyum dan tangis akan sampai pula padanya tanpa ia berpikir-pikir, mengeja-eja tentang arti senyum dan tangisan di depan jantungnya.

(Sujiwo Tejo, Budayawan)

Dengan mengutamakan kesederhanaan diksi, Nadya Nadine menghapus jarak sajak dengan pembaca, membuka ruang jelajah apresiasi yang demikian luas. Tak hanya hadir menjadi sajak, sajak Nadya Nadine yang mengalir, bisa menjadi apa saja, menjadi lagu, menjadi musik puisi.

(Wendra Wijaya – Kelompok Senja Hening)

Nadya Nadine, seorang pengembara yang kerap haus untuk membenturkan diri dalam pertanyaan kehidupan. Terjerembab di dunia meracik  kata yang kadang kala terasa indah,  lemah, mendayu, namun bisa pula menghentak, drak ! drak ! drak ! plash ! Satu lagi, sebuah pribadi terguncang yang sedang mengguncang.  Selamat datang !

(Moch Satrio Welang, Sastrawan, tinggal di Bali)

Nadine memiliki konsep tentang “isi” yang membuatnya cukup layak untuk diperbincangkan: tema-tema yang dipilihnya tergolong “berat”. Namun, bila kita melihatnya dari kaca pandang sastra murni, terlebih dari sudut puisi “murni”, ia masih harus banyak belajar tentang “bentuk” — persajakan, gaya bahasa, arti ganda, sistem penandaan dan hal-hal lain yang sering dikaitkan dengan perpuisian. Tetapi kita tetap harus memberikan salut kepada Nadine karena ia masih bersedia dan berani menulis sajak, pada zaman di mana estetifikasi bahasa telah diketepikan oleh slogan politik, hipokrisi kekuasaan, dan iklan komersial.

(Pranita Dewi, Penulis Buku Puisi ‘Pelacur Para Dewa’)

Membaca puisi-puisi Nadine, saya seperti menyaksikan telaga kejujuran, dimana setiap bayangan kehidupan memantul di sana dan meruap menjadi bahan renungan bersama. Kebanyakan puisi Nadine sangat polos, apa adanya, atau langsung menukik pada pokok persoalan. Melalui puisi, dia berupaya menumpahkan segala macam unek-unek yang menghuni benaknya. Puisi di sini cenderung menjadi alat terapi untuk lebih menyehatkan batinnya.

(Wayan Sunarta, Penyair)

Saat seseorang mengalami depresi tak mudah untuk mengeksplor dirinya baik dalam bahasa verbal maupun non verbal.  Karya kumpulan puisi Nadya, yang mendapat penghargaan dari MURI ini, merupakan cetusan-cetusan “liar” yang sulit untuk dilakukan oleh sosok lain dalam diagnosis yang sama. Ini suatu keunikan tersendiri tentunya. Cetusan-cetusan yang sekarang ini menjadi karya terpublikasikan dapat menjadi awal dari proses Nadya untuk menemukan yang dicari dalam oase keheningan, ketenangan, kesejukan dan kedamaian.Semoga.

(Herlan Pratikto, Psikolog)

Buku ini dicetak terbatas. Bagi teman-teman yang ingin memesannya silahkan hubungi

dbuku

Jl. Karangrejo VI No.5 Wonokromo
Surabaya, 60234
Telp. 031-8285953, 085730947929 (Mba Gita) atau081999111939 (Nadine)
Email: dbuku.dbuku@gmail.com
www.perpustakaandbuku.com

2 Comments

Jan Lebert - 11. Feb, 2013 -

Lanjutkan Nadine…..ditunggu kumpulan novel mu

Jan Lebert - 11. Feb, 2013 -

Ralat : Kumpulan cerpen…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan