-->

Lainnya Toggle

Sesat Pikir Berita Novelis Bandung yang Go Internasional

Oleh Prima Sulistya

Prima SulistyaKetika membuka situs yahoo.com, saya menemukan berita berjudul “Ditolak Penerbit Lokal, Novel Mahasiswa Bandung Sukses di Pasar Internasional”. Berita yang dirilis republika.co.id  ini tampaknya tidak diteliti penulisannya dan menunjukkan logika kuno dalam memandang Barat. Berikut saya muat ulang (tanpa perubahan sama sekali) tulisan yang saya baca pada 23 Januari 2012 pukul 23.47.

REPUBLIKA.CO.ID,  BANDUNG —  Novel “Chronicles of The Fallen: Rebellion” karya Aya Lancaster (23), mahasiswa Institut Teknologi Harapan Bangsa, Bandung, yang sempat ditolak beberapa penerbit lokal, justru dilirik penerbit internasional. Novel itu diterbitkan di Inggris dan diedarkan di kawasan Eropa.

“Buku ini pertama kali diluncurkan bulan Oktober 2011. Diedarkannya di Inggris, cetaknya di Amerika,” kata Aya Lancaster, di sela-sela acara diskusi buku itu di Bandung, Sabtu.

Dia mengatakan, sebelumnya novel itu ditolak oleh banyak penerbit lokal. “Waktu itu saya sodorkan novel ini ke penerbit di Indonesia malah ditolak. Saya malah sempat dipingpong oleh beberapa penerbit hingga akhirnya mereka bilang ke saya bahwa mereka tidak tertarik dengan noveL saya ini,” ujar Aya.

Menurutnya, alasan penerbit Indonesia menolak novel perdananya tersebut mungkin karena belum terbiasa dengan ide atau ceritanya. “Kenapa ditolak, mungkin karena mereka bilang ceritanya agak belum biasa kalau untuk diterbitkan di Indonesia, karena tokoh utamanya itu iblis perempuan. Padahal buku ini bukan seperti yang mereka maksudkan,” kata Aya.

Ditolak oleh penerbit lokal tak mematahkan semangat Aya, mahasiswa Jurusan IT di Institut Teknologi Harapan Bangsa. “Saya disarankan oleh teman saya untuk menawarkan novel saya ini ke penerbit luar dan memang penerbit luar malah menerima dan mau menerbitkan novel saya,” kata Aya.

Saat ini, menurut dia, novelnya itu sudah beredar di Eropa, seperti Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Jepang, dan negara tetangga Singapura, serta Amerika Serikat.???

Novel itu sudah mendapatkan resensi dari majalah Reader’s Digest.

Novel tersebut bercerita tentang sisi lain dari hubungan malaikat dan iblis. “Ceritanya cinta, persahabatan, dan peningkhianatan. Tapi kalau mau ditarik lagi, intinya Tuhan itu tidak ada yang ngalahin,” kata Aya.

Novel ini bisa dipesan amazon.com, ebay.com dan toko buku tertua di Inggris “Barnes and Noble”. Aya menuturkan, peluncuran novel setebal 448 halaman tersebut di Indonesia akan dilakukan di Jakarta dan Bali dalam waktu dekat.

Dasar Wartawan Amatir

Masalah pertama dalam tulisan tersebut adalah soal penulisan. Cermati paragraf ketiga dari bawah. Usai “…Amerika Serikat”, ada tiga buah tanda tanya. Kita bisa paham, tanda tanya itu tidak bermakna. Paragraf yang disertai tanda tanya adalah kalimat berita. Kalimat berita seharusnya diakhiri titik. Tanda tanya malah berarti, penulis menanyakan kebenaran info yang ia tulis. Tambah lagi, tanda tanya satu saja sudah salah. Apalagi tiga. Lalu mengapa bisa sampai muncul? Sepertinya editor untuk tulisan ini lengah. Juga ada salah tulis pengkhianatan menjadi peningkhianatan di parafgraf kedua dari bawah. Beberapa kesalahan lain tampak di bagian yang saya tebalkan.

Kedua, soal pengulangan kata “novel” sebagai pembuka di tiga paragraf terakhir. Betul-betul tidak indah dan menunjukkan penulisnya tidak kreatif.

Ketiga, penulis sama sekali tidak menginfokan nama penerbit yang menolak dan yang akhirnya menerbitkan novel tersebut.

Duh, Sesat Logika

Judul berita “Ditolak Penerbit Lokal, Novel Mahasiswa Bandung Sukses di Pasar Internasional” jelas hendak menunjukkan relasi paradoksal. Ini ditegaskan oleh paragraf pertama: “Novel ‘Chronicles of The Fallen: Rebellion’ (…) yang sempat ditolak beberapa penerbit lokal, justru dilirik penerbit internasional. Paradoks itu ada lewat kata justru.

Justru adalah kata yang digunakan untuk, pertama, menegaskan bahwa sesuatu benar atau salah, kedua, hubungan sebaliknya. Kalimat di atas condong ke fungsi kedua. Hubungan sebaliknya tergambarkan seperti ini: bila sebuah novel ditolak di penerbit skop lokal, maka di skop internasional pun mestinya ditolak. Namun karena yang terjadi sebaliknya, maka justru tampil. Alih-alih ditolak, novel itu diterima di lingkup internasional.

Ada logika tentang hierarki yang “seharusnya” (lokal di bawah internasional) muncul di sini. Kalau itu dilawan, jadilah paradoks. Relasi paradoksal muncul setelah ada relasi oposisi biner. Dalam tulisan berikut, penerbit lokal dan penerbit luar negerilah yang saling jadi oposan. Yang lokal mewakili rendah (dalam hal ini soal kualitas), yang luar negeri mewakili tinggi.

Masalahnya, apakah logika tentang yang lokal lebih rendah hierarkinya (katakanlah ini soal “kualitas terbitan”) ketimbang yang luar negeri benar?

Relasi oposisi yang “menyalahkan” penerbit lokal adalah imbas dari cara pikir, yang muncul (atau bahkan laku) di luar negeri pastilah sesuatu yang berkualitas. Alhasil, penolakan terhadapnya menjadi sebuah kesalahan. Di sini, pada pikiran penulis sepertinya sudah terpatri, luar negeri—atau tepatnya, Barat—lebih baik daripada dalam negeri. Bahkan penulis berita berani menyimpulkan, novel itu sudah sukses di pasar internasional. Padahal, tak ada satupun kata “sukses” dalam tulisan tersebut kecuali di judul. Tidak ada data angka penjualan. Juga tidak ada keterangan tentang komentar positif dari peresensinya.

Munculnya kata itu di judul sepertinya disimpulkan dari wilayah sirkulasi buku dan majalah populer Reader’s Digest yang meresensinya. Juga ketersediaan buku di situs terkenal amazon.com dan toko Barnes and Nobles. Mungkin logika penulis begini: semakin banyak negara Barat dan semakin terkenal majalahnya yang meresensinya, maka buku itu pasti semakin bagus kualitasnya.

Selain itu, penulis tidak merasa perlu untuk menuliskan nama penerbit asal Inggris yang menerbitkan buku tersebut. Mengapa? Saya curiga, nama negara sudah cukup mewakili kredibilitas penerbit tersebut bagi penulis. Padahal kita tidak tahu, penerbit itu macam apa? apakah kompeten? Apa karakteristik terbitannya? Apakah mereka perusahaan dengan profit besar? dll.

Paradigma bahwa luar negeri (yang saya yakin pasti mengacu pada Barat) pasti lebih baik daripada dalam negeri jelas bias karena tidak jelas indikatornya. Ini adalah cara pikir lama yang usang dan masih perlu dibuktikan terus menerus.

Logika penulis telah sesat dalam dua hal. Pertama, ia mengusung irrelevant conclusion dengan memaknai Barat sebagai sesuatu yang pasti lebih unggul sebagai premis umum dalam sebuah silogisme. Konklusi bahwa buku itu bagus karena diterbitkan di luar negeri sehingga perbuatan penerbit dalam negeri menolaknya itu salah (menjadi paradoks) berawal dari premis umum yang tidak relevan. Kedua, premis umum itu sendiri sesat logika, karena menyerupai cara pandang kebanyakan yang belum tentu terbukti. Sesat logika demikian dinamakan argumentum ad populum atau “argumen yang dilontarkan karena merupakan suatu pandangan populer di masyarakat, meskipun kebenarannya masih belum bisa dibuktikan” (http://sectiocadaveris.wordpress.com/tag/silogisme/, diakses pada tahun 2010).

Kesalahan fatal penulis adalah dengan menjadikan posisi penerbit (yang bertempat di Eropa) dan skop sirkulasi buku (yang beredar di negara-negara maju Eropa, Asia, dan Amerika) sebagai indikator kesuksesan buku ini.

Sukses buku diukur dengan buku itu sendiri, bukan lewat penerbitnya atau di mana buku itu bisa ditemukan. Dengan sendirinya, cuma ada dua cara memandang kesuksesan sebuah buku: secara ekonomis dan secara intelektual. Apa ia laku—sehingga menghasilkan pendapatan besar dan menjanjikan kehidupan yang bagus bagi pengarangnya? Atau ia punya pengaruh besar bagi cara pikir para pembacanya dan mengubah dunia?

Saya pikir, sebenarnya sah-sah saja jika penulis hendak bilang, Barat itu memang mencirikan keunggulan, walau nanti akan jadi silogisme yang panjang untuk mengait-ngaitkan Barat dan kesuksesan/kualitas baik sebuah buku. Namun, bila dia tidak bicara bukti akan itu, kebenaran argumen penulis diragukan. Dengan judul seoptimis itu, penulis jelas-jelas telah mengajukan argumen yang lemah. Padahal ini bukan tulisan opini yang menyodorkan pendapat, melainkan berita yang memberi kebenaran.

Nah, Anda bisa bayangkan betapa berbahanya tulisan-tulisan berita yang sarat opini ini bila dibaca banyak orang. Bila tidak menyesatkan pembacanya, ia bisa saja merendahkan kredibilitas lembaga yang menaunginya. Jujur saja, berita ini tidak punya nilai berita apapun: tidak penting (tidak relevan dengan hajat hidup orang banyak), tidak aktual (rilis pertama buku ini Oktober 2011), tidak terkenal (nama penerbitnya saja kita tidak tahu), tidak dekat (karena tidak terkenal), tidak punya besaran (tidak ada efek apa-apa bagi kita), tidak mengandung human interest (cuma menjual optimisme semu), dan kalau menarik juga boleh dijadikan nilai berita, berita ini blas nggak menarik!

Sumber: Note Facebook “Prima Sulistya”, 30 Januari 2012, “Jurnalis Tidak Boleh Sesat Logika”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan