-->

Tokoh Toggle

Ritual Membaca di Rumah Nungki

Nungki_KusumastutiOleh: Aryo Wisanggeni G

Menembus kemacetan Ragunan, Jakarta, sore itu tak membuat layu Nungki Kusumastuti (53). ”Jarang-jarang jam segini saya sampai di rumah. Jadi, ini saatnya menyeduh kopi,” kata Nungki tertawa.

Ia cekatan mengutak-atik mesin penyeduh kopi elektrik di dapur kering, yang jadi satu dengan ruang keluarga. Sementara kopi diseduh, Nungki menuangkan susu segar ke cangkir, terisi separuh saja, yang lantas ia jerang di microwave.

”Saya mencontek cara menyeduh kopi salah satu hotel, bahkan ikut-ikutan membeli alat seduh kopi itu,” Nungki tertawa. Ia memang mencintai kopi dan selalu merindukan rasa menikmati kopi pada sore hari di rumah sendiri, di meja kaca bundar kesayangannya, tempat kakinya bisa santai nangkring di kursi.

”Meja kaca ini sudah ada sejak putri saya masih setinggi ini,” tangan Nungki terjulur ke arah meja setinggi satu meteran itu. ”Dan dia sekarang sudah setinggi ini,” Nungki mengulurkan tangannya ke atas, tersenyum menaksir tinggi putri tunggalnya, Nurizka Aliya Hapsari (16).

Seperti meja kaca itu, nyaris tak ada yang berubah dari wujud rumah yang ditempati pasangan Febrimansyah Lubis (56) dan Nungki sejak tahun 1997. Setelah menikah tahun 1987, tahun 1988 keduanya sempat membeli rumah di Pondok Bambu. Tak tahan dengan kemacetan di sana, Febri dan Nungki pindah ke Ragunan, persis di belakang kantor Kementerian Pertanian.

”Kami tidak punya energi untuk membangun rumah sehingga memilih membeli rumah jadi. Sebenarnya, kami tidak punya cita-cita membeli rumah berbentuk seperti ini. Boleh dibilang, kami membeli lokasi rumahnya, waktu itu Ragunan sepi, tak pernah macet. Airnya bagus, udaranya sejuk, banyak burung. Karena dulu anak saya suka berlarian di dalam rumah, perabotan rumah selalu sedikit. Sekarang saya kerap berlari kecil di dalam rumah, di lorong yang sama,” ujar Nungki.

Kemacetan

Sekarang hampir saban sore kemacetan parah terjadi di Ragunan. Beruntung rumah Nungki masih terhindar dari segala bising kota. ”Enak banget ya, masih bisa merasakan sepi di Jakarta,” ujar penari yang selalu supersibuk mengajar di Institut Kesenian Jakarta, menjadi aktris sinetron dan film, juga mengurus berbagai perhelatan seni itu.

Kerap kali Nungki baru bisa tiba di rumah larut malam. ”Kadang seusai berbincang dengan suami dan anak di ruang keluarga, saya mampir ke kebun di belakang rumah. Sekadar menyiram-nyiram tanaman yang berantakan, memotong daun atau bunga, atau sekadar mencocok-cocok tanah dalam pot yang mengeras. Semua penat dan sebal seharian bisa hilang. Tetapi, tamannya ya tetap berantakan,” tutur Nungki diiringi tawa berderai.

Di rumah sendiri, Nungki menikmati privasinya. Senin adalah hari libur favoritnya karena setiap akhir pekan ia masih kerap menghadiri berbagai acara kesenian, atau berlatih menari, atau mengurus seabrek hajat seni lainnya.

”Jadi, kalau Senin, saya bisa menunda mandi sampai siang, seharian berdaster saja, duduk mengangkat kaki ke kursi, menikmati rumah sendiri,” katanya membuka rahasia.

Di rumah sendiri, Nungki juga bebas menebar buku ke mana saja. Sebenarnya, Nungki sudah memiliki ruang kerja yang ada di lantai dua rumahnya. Ruang yang juga menyimpan berbagai sampul majalah yang pernah memuat foto dirinya dan foto-foto besar ketika ia sedang menari. Ribuan koleksi buku Nungki tersimpan dalam rak buku dan rak pakaian yang menempel di setiap sisi ruang kerjanya itu.

Di pintu salah satu rak pakaian yang telah disulap menjadi rak buku, ada ”peta buku” yang merinci isi setiap rak di ruang kerja itu. Nungki mengindeks semua buku koleksinya meski indeks itu tak mengikuti pakem indeks perpustakaan. ”Yang penting, saya bisa mencari buku yang saya butuhkan dengan cepat. Ada banyak sekali, saya bahkan masih menyimpan catatan kuliah saya. Novel, buku teks kuliah, katalog, semua ada di sini,” kata Nungki.

Meski mencatat rapi judul dan letak koleksinya, tetap saja buku koleksinya meluap ke berbagai penjuru rumah, mulai dari ruang keluarga hingga kamar tidur sendiri. Lho, kamar tidur sendiri?

”Kalau itu, gara-gara selera menonton televisi yang berbeda. Suami saya senang menonton tenis dan sepak bola, sementara saya senang menonton film. Daripada berebut televisi di kamar, akhirnya saya memiliki kamar tidur sendiri. Setelah saya menonton film sepuasnya, baru menyusul tidur di kamar tidur suami. Belakangan, kamar tidur jadi kamar kerja. Kalau sudah kelelahan duduk, saya mengetik di kamar tidur saya itu, buku bertebaran di tempat tidur. Makin lama kok makin banyak ya?” kata Nungki.

Di kamar mandi setiap kamar tidur, ada rak dan wadah buku. Itu gara-gara Nungki dan Febri tahan menjalani ritual membaca buku hingga berjam-jam, sambil berendam melepas penat. ”Kalau kamar mandinya satu, bisa berebut tuh. Kami berdua sama-sama tahan membaca,” kata perempuan bernama lengkap Siti Nurchaerani Kusumastuti itu.

Tak hanya memasang rak buku di kamar mandi, Febri bahkan juga memasang televisi di sana. ”Itu baru dua bulan, gara-gara kami menginap di sebuah hotel yang menaruh televisi di kamar mandi. Ternyata enak lho menonton televisi sambil berendam,” kata Febri.

Sang anak, Nurizka, juga mulai kecanduan membaca. ”Namun, dia lahir sebagai generasi digital. Ia tahan membaca lewat gadget. Sepertinya tidak akan ada rak buku di kamar mandinya,” kata Febri tertawa.

Ritual Nungki itu akan bertambah kalau hujan mengguyur rumahnya. Ia selalu suka bau tanah tersiram air hujan. ”Kalau hujan turun, jendela semua kamar tidur pasti saya buka. Kadang, sampai kamar basah karena hujannya deras, ha-ha-ha.”

Sore itu, Nungki dan Febri memilih menikmati bau hujan dan rumput basah di halaman rumah, di bawah naungan pohon mangga segar yang masih meneteskan sisa air hujan.

*) Kompas, 29 Januari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan