-->

Kronik Toggle

Penelitian Iptek Salah Kelola

Jakarta–Kegiatan riset ilmiah yang tidak tuntas, hasil penelitian yang direkayasa, dan hengkangnya para peneliti ke luar negeri merupakan beberapa gejala terjadinya salah kelola lembaga penelitian di Indonesia. Tanpa ada pembenahan manajemen riset, daya saing industri dan pembangunan nasional tak dapat ditingkatkan.

Hal ini karena produk riset ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dapat berperan dalam meningkatkan kualitas produk dan produktivitas industri hingga daya saing di pasar dunia meningkat. Untuk mengatasi masalah tersebut, ada beberapa solusi yang dapat ditempuh antara lain revisi peraturan yang memberikan independensi lembaga riset dalam mengelola anggaran dan pelaksanaan penelitian.

Demikian rangkuman pendapat dari Menteri Riset dan Teknologi Gusti M Hatta, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Sangkot Marzuki, dan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir As Natio Lasman, Selasa (3/1), di Jakarta.

Sangkot melihat sistem pendanaan riset yang terkait dengan tahun anggaran pemerintah dan periode pelaksanaannya yang relatif singkat sering kali membuat peneliti tidak dapat menyelesaikan proyek risetnya.

Akibatnya, dalam pemberian laporan pada akhir tahun, ada peneliti terpaksa membuat laporan palsu atau merekayasa hasil penelitian yang sesungguhnya belum selesai. ”Kebijakan riset yang berlaku saat ini mendorong peneliti berbohong,” katanya.

Karena itu, Sangkot, yang juga Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, berpendapat, untuk pelaksanaan kegiatan penelitian, pemerintah hendaknya memercayakan pada Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia untuk mengelola dan menyalurkan anggaran penelitian bagi lembaga riset di Indonesia.

Menurut dia, hal serupa dilakukan di banyak negara, seperti Australia dan China.

Kerja sama riset

Gusti mengakui, saat ini pemerintah belum dapat mendayagunakan peneliti Indonesia, apalagi yang bekerja di luar negeri. Hal ini karena keterbatasan dana dan tidak adanya sistem pendataan yang baik.

Data dari Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional, jumlah ilmuwan di mancanegara sekitar 800 orang, ”Tetapi, saya yakin jumlah sebenarnya lebih dari itu,” kata Freddy Zen, Deputi Menristek Sumber Daya Iptek.

”Saat ini belum memungkinkan memanggil kembali peneliti yang bekerja di luar negeri. Karena dana dan infrastruktur riset yang ada di dalam negeri belum memadai,” kata Gusti.

Meski demikian, kerja sama dengan para peneliti di dalam negeri dapat dijalin melalui program riset dengan lembaga di luar negeri tempat mereka bekerja.

Hal itu bisa dilakukan untuk program yang dibiayai Kemristek, kata Freddy. (YUN)

Sumber: Kompas, 4 Januari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan