-->

Lainnya Toggle

Pendidikan Karakter Melalui Dunia Baca

Oleh Wiwin Widyawati Rahayu

Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral. Menurut Hersh, et. al. (1980), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan; yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan perilaku sosial.

Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku.

Klasifikasi didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan afeksi.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age) karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.

Namun, bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak.

Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan karena guru adalah ujung tombak di kelas yang berhadapan langsung dengan peserta didik.

Dunia Baca
Membaca merupakan kegiatan aktif untuk semua kalangan. Membaca dapat memberikan wawasan pengetahuan tentang perkembangan ilmu, teknologi, iman, taqwa di dunia. Membaca juga akan melangsungkan integrasi pemikiran dengan masalah-masalah baru di lingkungan kita.

Kurangnya kesadaran akan pentingnya harkat pendidikan, ditambah keterbatasan ekonomi serta informasi tampaknya merupakan satu kombinasi yang sangat kuat bagi pemberdayaan masyarakat setempat. Dalam keadaaan yang demikian, buku bisa menjadi alternatif untuk membedah wawasan warga.

Dengan demikian, yang perlu ditekankan adalah pengadaan buku untuk “memenuhi kebutuhan warga”. Buku tentang pertanian, perkebunan, peternakan sangat diperlukan untuk menunjang pekerjaan warga dewasa.

Adapun bagi anak-anak dan usia remaja, seperti buku tentang pelajaran sekolah, pembelajaran agama dan bahasa, dongeng nasihat akan sangat membantu kebutuhan mereka.

Dari keterpenuhan kebutuhan warga tersebut diharapkan nantinya membaca bisa tertanam lebih lanjut menjadi suatu budaya positif. Membaca adalah jendela dunia ilmu pengetahuan.

Pendidikan Karakter melalui Dunia Baca
Pendidikan karakter dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya melalui dunia baca. Dengan membaca, kita dapat mengetahui segala informasi dan ilmu pengetahuan yang menunjang  mutu atau kualitas hidup kita nantinya sebagai masyarakat Indonesia yang berintelektual dan bermoral.

Membaca akan mengenalkan belajar sebenarnya dengan mengubah karakter untuk mewujudkan inovasi dari pengalaman peristiwa di dunia yang tidak lain kita ketahui dari kegiatan membaca serta manfaat yang akan kita dapatkan dengan permanen untuk perjalanan hidup manusia.

* Wiwin Widyawati Rahayu, dosen FIB UGM, tinggal di Yogyakarta

Tulisan ini adalah kutipan dari artikel lebih luas yang disampaikan pada Pelatihan Arsip Berbasis Teknologi Informasi pada Pengelola TBM, 8 Januari 2012, gelaranibuku, Yogyakarta

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan