-->

Lainnya Toggle

Menghidupkan Sekolah Kepenulisan

Oleh: Hairul Anam *

Sekolah Kepenulisan, tampaknya belum begitu dikenal oleh lembaga-lembaga pendidikan kita. Sekolah masih lebih bertendensi untuk menggiring siswa agar menguasai materi pelajaran an sich. Sedangkan segala hal yang berkenaan dengan kepenulisan tak begitu dihiraukan. Kenyataan ini patut disayangkan mengingat dunia tulis menulis tentu amat membantu terhadap masa depan siswa. Itulah yang menjadi pijakan sekolah-sekolah di Madura sehingga coba membangun kepedulian terhadap dunia tulis menulis. Lahirlah kemudian Sekolah Kepenulisan.

Setiap Jumat pagi, saya diberi amanah menjadi fasilitator dalam Sekolah Kepenulisan di Sumenep ini. Penyelenggaranya adalah OSIS MA Raodhah Najiyah. Ada banyak hal yang menginspirasi saya untuk berbagi pengalaman berkenaan dengan kegiatan tersebut. Pengalaman dimaksud terkait erat dengan spirit menulis peserta (baca: siswa) yang amat mengagumkan. Membaja!
Sejak awal pertemuan, semangat peserta tak pernah surut. Hal itu berpangkal dari pandangan mereka terhadap dunia kepenulisan. Mereka berkeyakinan bahwa melalui tulisan keabadian dan makna hidup dapat digapai. Sebut saja penyair Chairil Anwar yang hingga kini namanya ‘hidup’ berkat karya-karyanya yang terabadikan dalam bentuk tulisan.

Sekolah Kepenulisan merupakan bagian dari kegiatan ekstrakurikuler. Tak mesti menjadi materi khusus. Bisa dimasukkan ke dalam program kerja OSIS atau bisa juga ditangani langsung oleh guru bidang kesiswaan. Baiknya, lembaga memanfaatkan penulis yang memang sudah dikenal dan produktif berkarya untuk dijadikan fasilitator. Dari itulah nantinya siswa yang punya minat menulis semakin membulatkan tekadnya untuk belajar merangkai kata, melalui Sekolah Kepenulisan. Pada wilayah itu, Sekolah Kepenulisan lebih menitikberatkan pada praktik. Adapun teori-teorinya hanyalah pelengkap saja.

Peserta dituntut menulis setiap hari. Hasil tulisan tersebut selanjutnya diserahkan kepada fasilitator untuk dikoreksi. Dan sebelum dikoreksi, peserta diharuskan mempresentasikan karya tulisnya. Dengan begitu, ada keterpaduan antara menelorkan gagasan lewat tulisan dengan kemampuan menjabarkan buah pikiran melalui lisan.

Sebagai tahap awal, peserta diberi keleluasaan menentukan tema sendiri. Setelah mereka terbiasa menulis setiap hari, baru kemudian fasilitator memberi tema khusus untuk dikembangkan dalam bentuk tulisan utuh. Tema tersebut tak perlu yang berat-berat. Berikankalah tema yang mudah diserap oleh peserta. Ini tak lain demi kemudahan peserta dalam menerjemahkan gagasannya ke dalam rajutan kata-kata.

Dalam Sekolah Kepenulisan juga, mesti dibangun iklim membaca. Jangan sampai peserta dibuat menulis bebas secara terus-menerus. Sesekali mereka diwajibkan menulis dengan menyertakan catatan kaki (foot note). Referensinya tidak harus dituntut yang berasal dari buku-buku berat yang membutuhkan pembacaan mendalam guna memahaminya. Di sinilah tugas fasilitator memberikan arahan tentang buku-buku yang penting dikonsumsi setiap hari. Dan perpustakaan sekolah menempati peran yang amat penting demi suksesnya kegiatan tersebut.

Berkaitan dengan sumber inspirasi tulisan, sesekali peserta dibawa jalan-jalan ke tempat-tempat yang rindang dan menyejukkan. Bisa juga ke tempat-tempat ramai semisal pasar. Di tempat-tempat tersebut, peserta dilepas bebas untuk mengail ide. Selain itu, semangat menulis peserta mesti dijaga. Ketika ada peserta yang miskin ide atau gagasan, jangan sampai dianaktirikan. Kalau perlu ia mendapat perhatian yang lebih. Oleh karena itu, fasilitator harus selalu berusaha mencarikan inovasi-inovasi yang menunjang keberhasilan Sekolah Kepenulisan.

*) Guru Biologi SMA Islam Yaspimu, Kertagena Tengah, Kadur, Pamekasan
alyumna89@gmail.com

**)Surya, 10 Januari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan