-->

Kronik Toggle

Mat Kodak Pergi Tinggalkan Warisan Buku

Jakarta – Almarhum Ed Zoelverdi semasa hidupnya tak hanya dikenal jago fotografi. Pewarta foto yang lebih dikenal “Mat Kodak” ini juga cakap menulis. Ia bahkan pernah menerbitkan buku Mat Kodak Melihat untuk Sejuta Mata yang terbit tahun 1985.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, Rabu dini hari kemarin, ia tengah menyiapkan buku Mat Kodak Berselancar di Gelombang Cahaya. Bagaimana akhir naskah buku yang sudah disiapkan itu setelah empunya meninggal?

Izharry Agusjaya Moenzir, anggota Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), mengaku mendapat amanat dari almarhum untuk menerbitkan buku yang sudah disiapkan setebal 300 halaman dengan judul Mat Kodak Berselancar di Gelombang Cahaya. “Bentuknya masih dummy,” kata Izharry kepada Tempo, Rabu, 4 Januari 2011.

Izharry berencana menawarkan buku karya Ed Zoelverdi ke sejumlah penerbit sesuai wasiat almarhum. “Anda lihat dulu, kalau ada yang kurang bagus diperbaiki. Kalau ada penerbit silakan diterbitkan,” kata Izharry menirukan ucapan Ed Zoelverdi.

Sebelum meninggal, Ed Zoelverdi menghubungi Izharry. Keduanya sering bertemu di rumah makan masakan padang Sederhana di kawasan Sabang. Redaktur fotografi majalah Tempo 1971-1994 itu memang dikenal gemar menyantap masakan Padang. Di daerah Sabang itulah, kata Izharry, Ed Zoelverdi biasanya mencuci film foto.

“Kami akrab ngobrol. Saya juga heran kenapa dia akrab dengan saya. Padahal, kelasnya (dia) Goenawan Mohamad (budayawan sekaligus mantan pemimpin redaksi Tempo),” kata Izharry.

Saat itu, Ed Zoelverdi sudah dalam kondisi sakit gangguan paru-paru, tapi dia tidak mau menjalani perawatan. “Jangan sebut penyakit saya, bagaimanapun saya akan lawan,” kata Izharry menirukan almarhum.

Kemudian, Izharry menawarkan untuk pengobatan alternatif shin-se di daerah Cibubur, Bogor. Ed Zoelverdi pun setuju. Pada saat menjalani pengobatan alternatif, bulan September tahun lalu, fotografer kelahiran Aceh 12 Maret 1943 itu menyerahkan dummy bukunya.

“Sudah bentuk dummy jadi, ada kata pengantar, ada paraf tertanggal 6 September, tapi belum ada penerbitnya,” kata Izharry.

Selain dummy buku, Ed Zoelverdi juga menyerahkan map berisi 10 lembar foto rumahnya yang berada di Sumur Batu, Jakarta Pusat, serta proposal pembuatan Museum Fotografi Indonesia.

Ed Zoelverdi telah berpulang ke ke pangkuan illahi, Rabu dinihari kemarin sekitar pukul 02.00 WIB di rumah duka Jalan Mirah Delima II/5, Sumur Batu, Jakarta. Jenazah lalu dimakamkan siang harinya di Tempat Pemakaman Umum Kemiri, Rawamangun, Jakarta Timur.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia sempat dirawat di Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur akhir tahun lalu. Ia yang dikenal sebagai perokok berat kala itu mengalami gangguan pada paru-parunya.

RINA WIDIASTUTI

*) Tempo.co 5 Januari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan