-->

Lainnya Toggle

Lan Fang Tidak Dikubur Bersama Kata-katanya

Oleh M Iqbal Dawami

Lan Fang tidak bisa dikubur bersama cinta dan karya-karyanya. Ia terus “mengabadi”. Kekayaan cinta dan karyanya tumbuh dalam hati keluarga, karib, dan pembacanya. Saya barangkali termasuk kelompok ketiga, yakni pembaca karya-karyanya. Saya kaget saat mendengar kabar Lan Fang meninggal dunia. Kabar tersebut saya dapat di status fesbuk kawan-kawan. Kekagetan saya sungguh beralasan. Bukan lantaran saya mengenalnya secara pribadi, bukan juga kawan karibnya, terlebih keluarganya. Saya hanya seorang pembaca karya-karyanya. Tidak lebih.

Minggu siang (25/12) sehabis futsal saya main ke toko buku Social Agency, Jalan Laksda Adisucipto Jogjakarta. Saya menemukan buku kumpulan cerpen Yang Liu (2006) karya Lan Fang. Entah kenapa batin saya berbisik agar saya membeli buku tersebut. Sesampai di rumah saya tersadar, mengapa saya membeli buku itu? Dan sore harinya saya mendapat jawabannya. Ya, bagi saya membeli buku karya Lan Fang itu semacam isyarat bahwa aku harus membaca buku tersebut, karena sang penulisnya akan tiada. Dan karya itulah yang akan menjadi “kenangan” darinya untuk diriku.

Saya menemukan sosok dirinya lewat buku yang saya beli itu. Bahkan ada isyarat tersirat di dalamnya, karena cerpen Yang Liu itu berbicara tentang kematian. Terlebih nama Yang Liu dalam tokoh cerpen tersebut secara terang-terangan disebutkan sesungguhnya bernama Lan Fang, meski tidak merujuk ke dirinya sendiri. Mungkin hanya meminjam dari namanya sendiri. Di dalam cerpen berjudul Yang Liu seolah-olah Lan Fang mentahbiskan dirinya sudah siap dengan kematian jika sewaktu-waktu datang padanya.

Dalam cerpen itu juga digambarkan bagaimana Yang Liu (a.k.a Lan Fang) sebagai perempuan yang kuat dalam menghadapi cobaan hidupnya. Tak terkecuali kematian. Soal karakter tokoh tersebut Lan Fang menjelaskan, ”Yang Liu adalah nama pohon di Cina yang berakar kokoh tetapi semakin ke atas batangnya semakin langsing apabila tertiup angin pohon itu tidak roboh, karena kelenturannya. Pohon Yang Liu juga mampu bertahan hidup dalam musim dingin yang bersalju. Nah, (pohon tersebut) sama seperti perempuan, meskipun dari luar kelihatannya lemah sebenarnya perempuan lebih mampu menghadapi cobaan hidup yang berat daripada laki-laki karena keluwesannya dalam menghadapi masalah.”

Berita kematian Lan Fang membuat sedih insan literasi. Sedih karena kehilangan sosok yang begitu totalitasnya terhadap dunia sastra Indonesia. Dia juga gigih menyuarakan kebenaran yang diyakininya. Lan Fang pernah menjelaskan, “Aku menulis apa yang aku inginkan berdasarkan pemikiran dan perasaanku sendiri.” Kata-kata itu membangkitkan semangat saya untuk menulis secara jujur. Kata-kata itu tetap hidup dalam jiwa saya.

Kejujurannya itu melahirkan sembilan buah buku berupa novel dan kumpulan cerpen, di antaranya Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-Laki Yang Salah (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Yang Liu (2006), Lelakon (2007), Kota Tanpa Kelamin (2007), dan Ciuman di Bawah Hujan (2010).

Suatu ketika dalam sebuah diskusi ia pernah bercerita, “Aku tidak pernah tertarik pada dunia tulis-menulis. Bidang ini adalah sebuah bidang yang sama sekali tak pernah terlintas dalam benakku. Sampai hari ini, aku masih tidak percaya bahwa aku seorang pengarang.” Ya, menulis baginya seperti sesuatu yang tidak pernah terduga sebelumnya. Adi W Gunawan, kawannya yang kini menjadi motivator, mengisahkan bahwa Lan Fang dulunya adalah seorang agen asuransi yang sangat berhasil. Namun hatinya selalu gelisah. Ia merasa asuransi bukan dunia yang sesuai dengan panggilan hatinya. Lan Fang senang menulis. Sambil menjadi agen asuransi ia telah menulis beberapa novel yang ternyata sangat berhasil.

“Cukup lama Lan Fang bimbang. Ia di persimpangan jalan. Namun setelah menimbang-nimbang, setelah melakukan perenungan mendalam, Lan Fang akhirnya memutuskan untuk mengikuti suara hatinya, menjadi seorang penulis, full time. Banyak yang menyayangkan Lan Fang berhenti sebagai agen asuransi mengingat potensinya yang sangat luar biasa. Namun Lan Fang memutuskan quit dengan alasan yang tepat, di saat yang tepat, dan dengan exit strategy yang tersusun dengan baik dan matang,” ujar Adi.

Pilihannya untuk terjun ke dalam dunia tulis-menulis secara total betul-betul dimaksimalkan. Ia begitu mencintainya, sepenuh hati. Mula-mula ia menekuni prosa (novel dan cerpen), lalu puisi, dan kemudian esai. Semuanya mendapat tempat di hati masyarakat. Sabrot D, Ketua Dewan Kesenian Surabaya mengatakan bahwa Lan Fang merupakan fenomena baru dalam tradisi sastra di Surabaya, yang mencoba tidak hanya berkutat dengan eksplorasi teks prosa. Lan Fang pernah mendapat pemenang kedua Lomba Cerpen Femina 1998, nominator Khatulistiwa Award 2008 untuk novel Lelakon, dan 20 Cerpen Terbaik Indonesia versi Anugrah Sastra Pena Kencana 2008 dan 2009.

Lan Fang juga lantang memprovokasi orang-orang untuk mau menulis sastra. Ia aktif membimbing para pelajar dalam berbagai penulisan kreatif. Dalam sebuah acara, Lan Fang mengatakan bahwa generasi muda sangat perlu untuk belajar sastra. Karena hal tersebut untuk mengasah nurani serta kepekaan. Dia juga dekat dengan semua kalangan dalam lintas agama. Selain itu, ia juga mempunyai tingkat solidaritas yang cukup tinggi. Ia pernah, misalnya, menulis cerpen yang honornya semata-mata diperuntukkan penulis lain yang sedang membutuhkan biaya pengobatan.

Novel Ciuman di Bawah Hujan (2010) memberi isyarat bahwa tugasnya dalam bersastra sudah “selesai” karena dianggap sebagai karya puncaknya. Novel tersebut merupakan novelnya yang ke sembilan, sebuah angka tertinggi yang dia percaya sebagai karya puncaknya. “Aku sendiri sudah cukup puas dengan semua yang ada pada diriku sekarang. Tak punya obsesi apa-apa lagi yang muluk-muluk. Semuanya sudah berjalan dengan indah. Biarkan hidup mengalir saja seperti tulisan di dalam buku,” ujar suatu ketika dalam sebuah acara sastra.

Sekarang, Lan Fang sudah tiada. Ketiadaannya di saat dia sedang dalam puncak karya dan perannya di masyarakat (lewat jalur sastra). Mirip dengan apa yang dikatakannya sendiri, bahwa, “Nasib perempuan-perempuan dalam ceritanya lebih cocok dengan kelopak bunga (yang berguguran setelah bunga mekar) daripada kuntum bunga itu sendiri.”

Sebagai penulis muda, saya selalu akan mengingat dia sebagai motivator di kala saya malas untuk berkarya. Saya akan malu jika saya malas-malasan sementara dia yang semasa hidupnya yang usianya jauh di atasku stamina berkaryanya luar biasa. Padahal dia juga mengurus ketiga anaknya yang sedang beranjak dewasa, dan aktif juga di tengah masyarakat. Jasad Lan Fang memang sudah tiada, tapi “ruh” (semangat), cinta, kata dan karyanya tetap ada.

Mengutip kata-kata seorang kawan, Aris Thofira:

Selamat jalan, semoga damai menyertaimu di alam sana.
Tuhan akan mengabadikanmu, di akhirat dengan surgamu, di dunia dengan karya-karyamu.

M. Iqbal Dawami, pencinta sastra, aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Jogjakarta

Sumber: Note Facebook “M Iqbal Dawami”, 25 Januari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan