-->

Resensi Toggle

Etos Kerja Bangsa Maritim

Oleh: Wildani Hefni*
Fakta wilayah negara kita yang separuhnya adalah laut mengindikasikan dengan kuat bahwa komunikasi sosial dan politik di masa lalu banyak dilakukan melalui laut. Untuk memahami dinamika terbaru, aspek kemaritiman selalu dominan. Demikian juga ketika hendak merajut Nusantara, secara faktual perjalanan sejarah bangsa Indonesia tidak lepas dari dinamika kemaritiman.

Persilangan budaya kelompok suku bangsa dari berbagai penjuru Nusantara dan mancanegara serta aktivitas ekonomi dari dunia maritim telah mewariskan banyak hal. Pengungkapan narasinya menjadi penting untuk dikemukakan sebagai buah refleksi yang sudah dilupakan oleh sebagian anak bangsa.

Buku berjudul Orang Buton, Suku Bangsa Bahari Indonesia ini hendak mengutarakan bahwa perdagangan maritim dengan sebaran komoditas di berbagai wilayah telah mengantarkan masyarakat bahari menjangkau separuh wilayah Indonesia sebagai ruang komunikasi ekonomi dan sosial yang menjanjikan masa depan.

Pelayaran dan perdagangan maritim tidak sekadar mewariskan ingatan tentang ruang dan peluang surplus, tapi juga menyebabkan perluasan transformasi sosial di kalangan pelakunya dalam satu ranah budaya masyarakat majemuk: bhinneka tunggal ika.

Lakon kemaritiman tradisional yang diulas oleh Abd. Rahman Hamid dalam buku ini dengan terperinci mempublikasikan kepada khalayak tentang khazanah sejarah bangsa bahari Indonesia, khususnya orang Buton, sebagai wujud tirakat intelektualnya dalam bidang kebaharian.

Orang Buton berperan dalam pembentukan masyarakat, terutama yang berkarakter maritim, di kepulauan Indonesia. Orientasi kehidupan mereka mempengaruhi citra Buton sebagai kerajaan bercorak maritim. Karena itulah orang Buton bersama orang Bugis, Makassar, dan Mandar dikukuhkan sebagai pewaris tradisi bahari Melayu-Polinesia dan bangsa maritim Indonesia hari ini.

Karya ini adalah hasil penelitian Abd. Rahman Hamid yang memfokuskan pada dinamika kemaritiman orang Buton pada abad ke-20, yang membuktikan sisi penting tentang kekuatan ekonomi maritim suatu daerah kepulauan, khususnya Indonesia bagian timur. Pada abad itu, terjadi gelombang perubahan sosial dan politik yang dirasakan pengaruhnya oleh seluruh masyarakat, tak terkecuali kelompok suku maritim.

Di tengah situasi demikian, mereka dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sangat sulit. Berhenti melakukan aktivitas sama halnya dengan mencekik leher mereka sendiri. Sebaliknya, melangsungkan aktivitas di tengah ancaman masif itu sama halnya dengan mengantarkan diri pada kematian.

Persoalan demikian tentu memunculkan pertanyaan, kekuatan nilai apakah yang melandasi mereka tetap berlabuh dengan dunia kemaritiman sehingga gangguan apa pun tak menyurutkan langkahnya? Buku ini menjawab bahwa kepercayaan masyarakat Buton terletak pada etos kerja mereka yang begitu besar.

Sebuah etos kerja yang menjelma dalam bahasa mereka: sabangka asarope, yaitu solidaritas internal dalam menghadapi samudra serta proses perubahan sosial dan politik dalam perjalanan sejarah dunia maritim.

Positifnya, dunia maritim Indonesia yang tetap bertahan kala itu berhasil memikat para pedagang dari sejumlah negara besar, seperti Portugis, Spanyol, Denmark, Inggris, Cina, Persia, dan Malaysia. Hal ini menyebabkan bangsa pribumi yang tinggal di pulau-pulau kecil semakin percaya diri mengandalkan perdagangan maritim serta berprofesi sebagai pelaut dan pedagang.

Buku kerja ilmiah yang berawal dari kajian tesis ini patut menjadi salah satu karya berharga, terutama bagi para penentu kebijakan politik dan ekonomi negara Indonesia. Lebih-lebih, sejak kemerdekaan hingga memasuki akhir milenium kedua, tampaknya masyarakat maritim telah dimarginalkan karena terbuai oleh kebiasaan kolonial yang menekan kebijakan ekonomi pada produksi komoditas pertanian.

Padahal fakta sejarah menunjukkan bahwa kawasan pesisir merupakan arena komunikasi yang sangat dinamis dalam membangun pundi-pundi ekonomi dan hubungan politik internasional. Terlepas dari itu, buku ini membuktikan bahwa pelaut sejak dulu telah mengukir sejarah perdagangan maritim yang sangat gemilang sehingga mampu membuka perdagangan dalam produk laut.

Judul: Orang Buton, Suku Bangsa Bahari Indonesia
Penulis: Abd. Rahman Hamid
Penerbit: Ombak, Yogyakarta
Cetakan: I, 2011
Tebal: xxxv + 341 halaman

*) Pengelola rumah baca pesma darun najah iain walisongo semarang.

*) Tempo.co 8 Januari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan