-->

Kronik Toggle

Dilempar Buku oleh Guru, Murid Harus Operasi Hidung

BANYUMAS – Indri Septiana (14), siswi kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma’arif 2  Desa Sirau Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas, harus menjalani operasi di RSUD Banyumas. Operasi itu untuk membetulkan posisi tulang hidungnya yang patah.

”Tulang hidung anak saya patah akibat ulah gurunya. Dia dilempar buku oleh guru Bimbingan Psikologi (BP) di tempatnya sekolah,” kata Indri Septiana, saat ditemui di RSUD Banyumas, Kamis (19/1).

Saat ini, Indri masih menjalani perawatan di RS dan hidungnya pun masih dibalut. Menurut dokter yang merawatnya, untuk membetulkan tulang hidungnya yang bengkok, maka harus dioperasi. Kalau tidak, maka kondisi itu menjadi permanen. Di Rumah Sakit tersebut, Indri didampingi ibunya, Sutihat (34).

Peristiwa pelemparan buku itu terjadi Sabtu (14/01), sesuai jam pelajaran sekolah. ”Sebelum sekolah usai, saya diminta menghadap guru BP setelah jam sekolah selesai,” jelasnya.

Karena itulah, setelah teman-temannya pulang, dia menemui guru BP-nya Imam Gozali di ruang guru BP sekolah tersebut. Namun baru saja dia masuk ke ruangan itu, tiba-tiba sebuah buku tebal terlempar ke bagian wajah, dan tepat mengenai hidungnya.

”Rasanya sakit sekali. Setelah itu, dari lubang hidung terus menerus keluar darah,” kata Indri.

Setelah kejadian itu, gurunya yang mungkin merasa menyesal mengantarnya pulang ke rumah kos Indri. Kebetulan, rumah yang dijadikan tempat kos Indri adalah rumah mertua guru BP Imam Gozali.

Ditanya mengapa guru BP tersebut sampai marah seperti itu, Indri mengaku, karena tindakannya yang terlalu sering pulang ke rumah orang tuanya. Padahal dia sudah kos di rumah mertua guru BP bersangkutan.

”Saya memang tidak betah kos. Karena itu, seringkali kalau sudah selesai sekolah, langsung pulang ke rumah orang tua,” jelas Indri.

Indri mengakui, soal tindakannya yang jarang pulang ke rumah kos ini, sudah sering diingatkan guru BP-nya. Tapi dia sering tidak memenuhi keinginan gurunya, dengan memilih pulang ke rumah orang tuanya. ”Tapi mau bagaimana lagi, wong saya tidak betah,” katanya.

*) Republika, 19 Januari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan