-->

Kronik Toggle

Buku Praktis untuk Prajurit AL Diluncurkan

Perhatian terhadap prajurit AL kembali diberikan oleh jajaran petinggi Armatim. Kali ini bukan materi atau penghargaan melainkan sejumlah buku yang disusun khusus untuk prajurit yang bertugas di kapal perang.

Suara lengkingan peluit dengan nada dan ritme yang khas TNI AL terdengar hingga radius 30 meter. Bentuk peluit itu juga khusus, tidak seperti peluit pada umumnya. Kecil, memanjang, dan ujungnya bulat.

Setiap kali ada perwira melewati penjagaan, suara lengkingan peluit ini akan terdengar. Sontak pada saat itu semua prajurit di penjagaan akan memberikan hormat. Saat perwira datang dan masuk ke kantor suara peluit juga selalu mengikuti.

Bagaimana tata cara menggunakan dan membunyikan peluit itu, tidak ada aturan baku. Peluit sebagai tanda ada perwira yang datang ini adalah salah satu tradisi di TNI AL yang tidak boleh punah dan terus dilestarikan.

Tradisi seperti ini sekarang dapat dilihat dan dibaca pada buku yang hari ini, (10/1) diluncurkan oleh Pangarmatim Laksda TNI Ade Supandi.

Buku ini adalah salah satudari lima jilid yang diluncurkan dan rencananya akan diberikan ke seluruh kesatuan dan semua komandan kapal perang.

Lima jilid itu antara laun, jilid I Tugas dan Tanggungjawab Perwira Pelaut di KRI, jilid II Pengetahuan Dasar Navigasi dan Bahari, jilid III Perwira Peperngan, jilid IV tentang hukum dan terakhir tentang tradisi di lingkungan TNI AL.

“Secara tertulis tradisi di ingkungan TNI AL ini belum pernah dibuat, baru kali ini disusun,” kata Ade Supandi, mengagumi buku yang dicetak sebanyak 100 unit per jilid ini, Senin (9/1).

Seluruh buku yang disusun bersama Asisten Operasi (Asops) Kolonel Laut Aan Kurnia ini, sebagai media yang menjembatani kalangan perwira yang baru lulus pendidikan dan terjun ke lapangan. “Nah, buku naval custom ini disusun agar prajurit ini cepat beradaptasi dengan kondisi di lapangan,” tuturnya.

Seperti dalam jilid terakhir tentang tradisi AL, menurutnya tradisi yang selama ini dilakukan, misalny, tentang penamaan kapal peang. “Semua ini merupakan tradisi ulang yang harus tetap dilestarikan, kalau tidak dibukukukan secara rapi nanti bisa-bisa hilang tradisi ini,” paparnya.

Begitu pula ketika hendak ada pergantian panglima armada atauKSAL, ada satu tradisi admiral inspection. Yakni berkeliling dengan kapal melihat kondisi kapal perang dan kesiapan alat utama sistem persenjataan alias alutsista yang ada di pangkalan.

*)Disalin ulang dari koran Surya 10 Januari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan