-->

Kronik Toggle

Buku Kebudayaan Pakualaman Diluncurkan

YOGYAKARTA — Ingin tahu bagaimana struktur pemerintahan, arsitektur, kesenian, kesusastraan, ritual, kearsipan dan tata boga Pakualaman Yogyakarta? Sri Paduka Pakualaman IX baru saja meluncurkan buku “Warnasari Sistem Budaya Kadipaten Pakualaman Yogyakarta” yang menceritakan soal Pakualaman. “Saya menyambut baik buku ini, karena buku ini layak diapresiasi,” kata Sri Paduka Paku Alam (PA) IX saat meluncurkan buku tersebut di Pura Pakualaman, Yogyakarta, Sabtu (14/1).

Menurut dia, buku tersebut tidak hanya merupakan sebuah karya tulis, namun buku tersebut juga berisi materi tentang seluruh potensi budaya yang ada di Pura Pakualaman Yogyakarta.
Ia mengatakan, banyak nilai-nilai budaya yang berakar dari lingkungan keraton seperti taria, tata busana dan berbagai adat budaya yang kemudian berkembang di masyarakat.
Namun, tidak semua orang dapat memahami budaya-budaya yang muncul tersebut. “Masyarakat juga akan lebih mudah mendapatkan gambaran. Kehadiran buku ini juga akan melengkapi karya pustaka di keraton,” katanya.

Di dalam acara peluncuran buku tersebut, juga dipersembahkan tarian karya Sri Paduka PA IX berjudul Bedhaya Sri Kawuryan yang ditarikan oleh tujuh penari putri. Tarian tersebut melambangkan seorang yang mengarungi dinamika kehidupan dengan harapan akan selalu menemukan keselarasan.

Sejarah keberadaan Paku Alam tak terpisahkan dari keberadaan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Paku Alaman adalah wilayah kadipaten yang berada di wilayah Ngayogyakarta. Didirikan pada 17 Maret 1813, ketika Pangeran Notokusumo, putra dari Sultan Hamengku Buwono I dengan selir Srenggorowati dinobatkan oleh Gubernur-Jenderal Sir Thomas Raffles (Gubernur Jendral) sebagai Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I. Status kerajaan ini mirip dengan status Mangkunagaran di Surakarta. Paku Alaman juga dilengkapi dengan sebuah legiun tetapi tidak pernah menjadi legiun tempur yang besar karena selanjutnya hanya berfungsi sebagai seremonial dan pengawal pejabat Kadipaten.

Awalnya status Paku Alaman berganti-ganti seiring dengan perjalanan waktu. Pada 1813-1816 merupakan negara dependen dibawah Pemerintah Kerajaan Inggris India Timur (East Indian). Selanjutnya tahun 1816-1942 merupakan negara dependen Kerajaan Nederland. Dari 1942 sampai 1945 merupakan bagian dari Kekaisaran Jepang dengan status Kooti dibawah pengawasan Penguasa Militer Tentara XVI Angkatan Darat. Mulai tahun 1945 Negeri kecil ini bergabung dan menjadi daerah Indonesia. Kemudian dengan Kasultanan Yogyakarta membentuk pemerintahan bersama sampai tahun 1950 saat secara resmi keduanya dijadikan sebuah daerah istimewa bukan lagi sebagai sebuah negara.

*) Republika.co.id, 14 Januari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan