-->

Kronik Toggle

11.252 Puisi dari Lamongan Masuk Muri

LAMONGAN— Penulisan 11.252 puisi di Stadion Surajaya, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Senin (9/1/2012), tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) dengan nomor registrasi 5291.

Jumlah itu memecahkan rekor sebelumnya, 5.345, pada 29 April 2011 di Trans Studio Makassar, Sulawesi Selatan.

Pencatatan Muri tersebut dimeriahkan penampilan budayawan Sujiwo Tejo dan penyair asal Madura, D Zawawi Imron. Penyerahan Piagam Muri disaksikan Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Sirmaji serta Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Lamongan Habib Husein Al-Hadad.

General Manager Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) Paulus Pangka menyatakan, dalam pencatatan rekor kali ini ada syarat tambahan. Isi puisi tidak boleh mencela, menghina orang, dan mengandung unsur suku ras agama antargolongan (SARA).

Selain itu, puisi yang dibuat tidak boleh berisi umpatan atau kata-kata kotor. “Piagam Muri kami berikan kepada LP Maarif Lamongan sebagai pemrakarsa kegiatan dan berhasil mencatatkan diri dalam rekor Muri,” kata Pangka.

Penulisan puisi itu digagas Lembaga Pendidikan (LP) Maarif Lamongan dengan melibatkan siswa, mulai pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga setingkat SMA, di bawah naungan LP Maarif.

Ketua LP Maarif Lamongan Imam Ghozali mengatakan, peserta diberi waktu lebih kurang 2,5 jam untuk menulis puisi. “Pembuatan puisi yang tercatat Muri itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga LP Maarif dan NU secara umum,” katanya.

Sejumlah siswa, seperti M Haryanto, Didik Setyono, Nurul Azizah, dan Ilha Fabun Nuraini, merasa senang bisa berpartisipai. Para siswa ada yang menulis puisi soal ibu, guru, alam, banjir, dan harapan agar Indonesia semakin makmur, aman, dan rakyatnya sejahtera. Mereka bebas berekspresi meski kadang saling lihat puisi karya teman.

Budayawan asal Madura, D Zawawi Imron, dalam kesempatan itu berpesan kepada para siswa sebagai generasi muda agar rajin belajar dan terus berkarya dari Lamongan untuk Indonesia. Anak muda tidak perlu ikut-ikutan saling fitnah dan saling mencela.

Menurut dia, saling fitnah dan saling cela hanya akan menimbulkan permusuhan. Ketika manusia saling menghina, saling bermusuhan, saling mencela, alam yang dihuni pun ikut stres sehingga akhirnya bergolak. “Alamnya bisa bergolak karena ulah manusia bisa menjadi gempa, tsunami, banjir, longsor, dan lainnya,” katanya.

*)Oase Kompas, 9 Januari 2012

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan