-->

Resensi Toggle

Tembang Tolak Bala | Han Gagas

Novel Tembang Tolak Bala karya Han Gagas ini dibedah Raudal Tanjung Banua pada 24 Desember 2011, pukul 15.30 – selesai, di gelaranibuku, Yayasan Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan No 3 Alun-alun Kidul, Keraton, Yogyakarta.

Tembang Tolak BalaDalam beberapa khasanah kebudayaan lokal kita, seringkali kita temukan jawara-jawara lokal dalam kebudayaan tertentu. Kondisi supranatural yang melingkupi kebudayaan tersebutlah yang mengilhami adanya hal demikian. Biasanya, hal ini terjadi dalam lingkup kebudayaan memiliki hubungan dengan kesenian dan lumrahnya mengarah pada hal-hal negatif seperti mabuk, seksualitas, dan lain sebagainya. Untuk mendapatkan posisi di masyarakat yang seperti ini, seseorang membutuhkan kekuatan atau kekebalan sehingga mendapatkan keseganan dan menjadi cerita beruntun di telingan anak-anak yang kelak akan ia ceritakan kembali.

Kisah-kisah semacam ini bisa kita temui misalnya di Madura. Dalam tradisinya, mereka memiliki Remo, Karapan Sapi, Tandak, Ludruk yang akhirnya melahirkan blater. Blater ini biasanya lebih disegani lebih dari siapapun dalam kedudukannya di masyarakat baik ulama maupun pemerintah sekitar. Begitu pula dalam tradisi Sintren di wilayah perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat, Gandrung di Banyuwangi dan lain sebagainya.

Kali ini, kita menemukannya di wilayah Ponorogo, Reog. Reog, dalam kehidupannya di Ponorogo merupakan hal penting karena mampu menyedot nyaris seluruh unsur kehidupan bermasyarakat di sana. Dari mulai kebudayaan, ekonomi, hingga kekuasaan politik lokal. Maka akan menjadi kekayaan tersendiri jika Reog ini kemudian digarap dalam bentuk lain, dalam hal ini adalah novel.

Han Gagas melakukannya dengan sederhana namun menarik. Kemenarikannya karena selain ia asli wong Ponorogo, ia betul-betul memahami dan terlibat di masa kecilnya. Sehingga apa yang dituturkannya dalam novelnya berjudul Tembang Tolah Balak (Lkis, 2011) menjadi lebih hidup. Selain itu, ia juga memberikan beberapa warna sehingga tidak menjadi monoton. Cinta menjadi salah satunya, dan di sisi lain, ia juga selipkan kisah-kisah yang menjadi penanda kebiadaban penguasa Orde Baru. Hal ini menandakan bahwa Reog juga menjadi tunggangan politik pada masanya. Mungkin hingga hari ini dalam pemilihan kepada daerah.

Dalam kebudayaan Reog ini, lalu lahirlah Warok yang dikenal ampuh dan sudah melakukan lelakon  sehingga menjadi kebal. Ia menjadi poros cerita dalam novel gubahan Han Gagas ini. Hargo, tokoh sentral dalam novel ini, diceritakan mengalami koma selama 35 hari ketika ia berusia 9 tahun. Kondisi koma ini mengantarkannya dalam pengembaraan fantasi dan mempertemukannya dengan jati dirinya. Dan tahulah ia, sesungguhnya, dalam dirinya, mengalir dari warok yang terputus karena leluhurnya dibunuh dan dianggap PKI karena menyembunyikan pelarian PKI di rumahnya.

Dalam satu kesempatan, saat mengunjungi Telaga Ngebel di lereng Wilis, Hargo yang berusia belasan tahun teringat kembali pada kenangan masa kecilnya saat diajak ayahnya menonton upacara larung labuhan tanggal 1 Syuro. Saat itu, setelah prosesi larung labuhan usai, Hargo dan ayahnya tetap berdiri menatap telaga meski pengunjung larungan telah pergi. Di keheningan telaga, Hargo mendengar Ayahnya berkata begini: “Sebenarnya, akulah yang harusnya memimpin doa itu. Kita sebagai keturunan Eyang Tejowulan, memiliki wahyu untuk mengucap doa itu. Tapi, pemerintah tak mau menghapus dosa eyang. PKI selamanya tertancap di kening kita” (Hal. 114-115).

Akan tetapi perlu disayangkan, representasi tentang sejarah nasional yang hubungannya dengan penumpasan PKI di Ponorogo dan Madiun kurang digali lebih dalam. Sehingga hal ini terasa sebagai tempelan saja.

Dalam komanya selama 35 hari itu, Mula-mula Hargo diterbangkan oleh layang-layang, lalu tiba-tiba saja ia berada di masa runtuhnya Majapahit dan diasuh oleh Ki Ageng Mirah. Di rumah Ki Ageng Mirah ini, Hargo selalu tertarik untuk bermain-main di sungai sampai suatu saat arus sungai menyeretnya ke arus waktu ketika Indonesia mengalami pergolakan politik. Ketika seseorang menodongkan pistol padanya, menembaknya, tiba-tiba badannya melesap ke dalam bumi dan ia siuman mendapati dirinya dirawat di rumah sakit akibat koma selama 35 hari.

Semua terasa ganjil bagi Hargo. Namun ada hal yang menarik, dalam petualangan fantasi koma itu, Hargo mendapat sebuah kitab dari Eyang Tejowulan yang berisi tembang tolak bala. Anehnya kitab itu terbawa ke dunia nyata ketika Hargo sudah sadarkan diri.

Petualangan fantasi dalam novel ini menghadirkan segala kemungkinan dan kejutan yang tak terduga. Mimpi yang hadir dengan membawa muatan pesan untuk mengingatkan bahwa ada banyak peristiwa di dunia yang ter/dilupakan. Peristiwa itu bisa bersifat massal semisal kebudayaan Reog Ponorogo yang pernah dikotak-kotakkan dalam kepentingan politik tertentu hingga menyebabkan pertumpahan darah antarwarok, atau bersifat personal tentang kedirian yang kehilangan identitas sebab ancaman traumatik politik.

Selain khasanah lokal Reog, Han Gagas juga menampilkan kembali legenda atau cerita rakyat berdirinya Ponorogo yang bermula dari keruntuhan Majapahit, dongeng terbentuknya Telaga Ngebel dan sebagainya. Tak pelak, novel Tembang Tolak Bala ini menyajikan informasi yang memadai perihal Ponorogo serta kekayaan khazanah budayanya. Maka, bukanlah hal berlebihan jika kemudian kita menyebut bahwa novel Tembang Tolak Bala milik Han Gagas ini adalah novel sejarah dan antropologi. Meski sebenarnya ia tidak sepakat jika novelnya disebut sebagai novel sejarah, melainkan novel kebudayaan, namun kita bisa melihat ke mana arah novel Tembang Tolak Bala ini.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan