-->

Resensi Toggle

Republik Rimba | Ryan Sugiarto

Draft fabel ini pertama kali didiskusikan dalam forum Obrolan Senja pada hari Minggu, 18 Desember 2011, pukul 16.00 – 18.00. di Angkringan Buku, Yayasan Indonesiabuku, Jl. Patehan Wetan No 3 Alun-alun Kidul Keraton Yogyakarta.

Batas Tipis Antara Manusia dan Hewan

“Tampaknya, singa raja memilih orang-orang yang tidak kredibel atau ada yang kredibel tapi ditempatkan di bagian yang sama sekali bukan bidangnya. Itu bertujuan agar dirinya tetap menjadi yang terbaik di antara bawahannya,” (Republik Rimba, 135)

Potongan dialog di atas cukup menjadi pengantar untuk memasuki Republik Rimba (RR) karya Ryan Sugiarto. Kritiknya atas percaturan politik di Indonesia sangat tajam tanpa memberikan ampun. Siapa saja yang berperilaku dan pernah muncul serta disorot oleh media massa menjadi bahan kritikan bagi Ryan. Termasuk juga media massa itu sendiri. Atau bahkan dirinya sendiri sebagai produk yang diciptakan dari sebuah padepokan(?).

Ryan menuliskan keseluruhan ceritanya yang unik dalam bentuk fabel. Masing-masing bab bisa berdiri mandiri. Begitu pula dengan alurnya, tak harus runtut. Tak ayal jika fabel milik Ryan ini tak memiliki susunan plot seperti dalam sebuah novel. Bahkan tak ada penyelesaian masalah di dalamnya.

Dengan mengambil judul RR, tampaknya Ryan sedang melakukan sarkasme dalam memandang persoalan politik di negeri ini. Ia menghadirkan tokoh-tokoh nyata dalam kehidupan sebagai tokoh hewan dalam fabelnya. Ketika manusia kehilangan akalnya, maka dia tak lebih dari seekor hewan. Hewan yang saling menerkam, memakan sesamanya, rakus, bahkan sesama jenisnya. Meski beberapa penyamaan antara tokoh nyata yang dihadirkan dengan tokoh hewan terkesan sedikit dipaksakan. Manusia yang menjadi nomor satu di negeri ini, bukan berarti ia singa di hutan. Dalam posisinya, barangkali bisa disamakan, tapi sifat dan sikap kesingaannya, jelas jauh berbeda.

Barangkali, akan lebih menarik jika yang berkuasa dalam RR bukanlah singa, melainkan kencil yang cerdik memanfaatkan situasi dan memiliki agenda politik yang sangat realistis dan logis untuk dijalankan guna meraup keuntungan personal dan kelompok. Sementara singa yang sebenarnya berada di balik rimbunan pohon bambu dan siap menerkam serta menumbangkannya untuk kemudian merebut kembali kekuasaannya yang sempat di maling oleh kancil.

RR tak memiliki tokoh heroik sebagaimana kita jumpai dalam cerita-cerita binatang lainnya. Seluruh tokoh yang dihadirkan menjadi jahat, tak berperikehewanan. Penguasa, politikus, media massa, pelajar, mahasiswa, budayawan, rakyat, dan lain sebagainya menjadi tokoh yang memiliki pemikiran jahat. Begitulah hewan. Tak ada baiknya di fabel ini. Di dalam hutan, bukan persoalan benar atau salah, etis atau tidak, melainkan kuat atau lemah. Kuat berarti berkuasa dan lemah berarti mati.

Hal demikian pernah kita jumpai dalam Animal Farmnya George Orwell. Orwell mengkritisi ideologi-ideologi besar dunia saat itu dengan personifikasi hewan-hewan di sebuah peternakan. Sementara Ryan melakukannya untuk kembali memberikan penyadaran kepada masyarakat terhadap apa yang sedang dialaminya kini.

Sayangnya, RR hanya sebatas memberikan penyadaran saja. Tindakan selanjutnya diserahkan pada pembaca. Artinya, naskah Republik Rimba ini hadir dengan menarasikan apa yang sudah pernah ditampilkan oleh media massa tanpa memberika alternatif menyelesaian persoalan. Atau paling tidak, dapat memberikan sudut pandang baru dalam memahami persoalan politik, budaya, korupsi di Indonesia selain hanya mengalihkan bentuk manusia menjadi hewan. Hal ini perlu disayangkan karena penyajiannya sudah sangat bagus. Dengan membaca RR ini, pembaca hanya akan diingatkan pada peristiwa tertentu tanpa menyimpulan dengan sudut pandang baru.

Ada harapan dalam beberapa bab untuk memberikan alternatif penyelesaian, seperti dalam bab #30 Lemahnya Kebudayaa Rakyat dan #33 Rakyat Merapatkan Barisan. Akan tetapi, agaknya Ryan terjebak dalam penulisan ulang peristiwa. Serupa burung pewarta dalam RR.

* * *

Membaca RR, seolah kita diingatkan pada persoalan bangsa Indonesia yang memiliki segudang konflik tanpa menyelesaian yang jelas. Kasus-kasus besar, seperti Century, Melinda Dee, M. Nazarudin, Cicak Vs Buaya, dan politik dalam partai dihadirkan sebagai sikap kritis Ryan. Upaya pemenangan pemilihan presiden untuk kedua kalinya dan segala bentuk permainan pun digambarkan dengan apik oleh Ryan.

Tak hanya itu, Ryan juga menyoroti persoalan-persoalan kemiskinan, pendidikan, kebudayaan dengan jeli dan enak dinikmati. Semua-muanya, mendapatkan jatah karakter kehewanannya dalam fabel gubahan Ryan ini. Jadi, Anda tidak perlu khawatir tidak kebagian? Masing-masing mendapatkan satu karakter, tak perlu berebutan seperti para binatang itu saling berebutan kursi jabatan.

Tentu kita bisa menebak siapa sebenarnya raja singa, burung prenjak, kaum kadal, cicak, buaya, burung manyar, fox, banteng, tikus, kancil, kuda, dan lain sebagainya. Anda masuk golongan yang mana? Beberapa ikon pun bisa dengan mudah kita pahami seperti cicak vs buaya, laku teror, tanah bergerak, perebutan penunggu pohin munggur, padepokan penghasil mesin pekerja, 100 hari kerja, dan lain sebagainya. Seluruhnya sudha pernah kita temui dalam kotak ajaib.

* * *

Seperti pernyataan seorang kewan dari wetan yang melarikan anak kewan lain untuk dikawin, yang kini memiliki anak yang pandai berkicau, “kalau surga itu bocor, maka jatuhnya adalah di Republik Rimba”. Ya, RR sangat makmur. Sumber alam berlimpah, letak geografis yang strategis, hasil laut tak terukur, hutan rimbun, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, kekayaan tersebut ternyata tidak dinikmati oleh seluruh penghuni rimba. Ada agenda politik yang mengatur pembagian jatah kemakmuran itu supaya hanya bisa dinikmati oleh segelintir penghuni saja. Maka dibentuklah pemerintahan. Diadakanlah pemilihan penguasa yang sebenarnya hanya formalitas belaka.

Dari sini kemudian berbagai konflik muncul. Lalu sampailah pada Republik Rimba Saat ini.

Siapa yang ingin berkuasa, harus menggalang kekuatan yang besar menghadapi rakyat dan lawannya. Saling tengkar saling nyringai. Mulanya kawan, kita menjadi lawan.

Segala persiapan menuju pemenangan pemimpin telah dipersiapkan. Dana digelontorkan besar-besarnya. Dalam kondisi demikian, banyak kewan-kewan yang mendekat ke calon pemimpin untuk mendapatkan keuntungan. Tak hanya keuntungan sesaat, melainkan nantinya jika sang calon terpilih ia akan diangkat sebagai pembantunya.

Dari kondisi ini, kemudian cerita beralih-alih ke area yang lain seperti pembicaraan tentang kemiskinan, demo hewan terdidik dari kandang burung manyar, dan lain sebagainya. Seluruhnya menggambarkan betapa satirnya negeri ini.[]Jogjakarta, 16 Desember 2011.

Daftar Isi

#0 Penggalan Surga

#1 Raja Singa

#2 Burung Prenjak.

#3 Kaum Kadal

#4 Rapat Besar

#5 Cicak vs Buaya

#6 Burung Manyar

#7 Fox Inc.

#8 Banteng Beradu Lagi

#9 Pohon Munggur

#10 Kisruh Pemilihan

#11 Politik Macak

#12 Ulah Para Fox

#13 Pencoblosan

#14 Kemenangan Sang Singa

#15 Laku Teror

#16 Tanah Bergerak

#17 Pelantikan Dewan Rimba

#18 Cicak

#19 Perebutan Penunggu Pohon Munggur

#20 Lumpur

#21 Bagi-bagi Kuasa

#22 Yang Terlupakan

#23 Pengkhianatan Kaum Padepokan

#24 Padepokan Menghasilkan Mesin Pekerja

#25 Kotak Ajaib dan Burung Pewarta

#26 Penasbihan Sang Singa Raja

#27 Para Pembantu Singa Raja

#28 Penggarongan Republik Rimba

#29 Kemelaratan Rakyat Rimba

#30 Lemahnya Kebudayaan Rakyat

#31 100 Hari- Setahun Kerja

#32 Bersatu Menuju Keotoriteran

#33 Rakyat Merapatkan Barisan

Ryan Sugiarto menyelesaikan kuliah di Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Pernah bergabung di Gema Bernas, Sanggar Talenta Kanisius, Persma Balairung UGM, Institute Tempo. Beberapa karya yang pernah terbit, Gerundelan Santri Kota (2005), Kemarilah Sebentar Lagi Aku Mati (Balairung 2006), Kembang Lathi, Perkawinan Puisi (Kembangmerak, 2008), Jawa Setelah Tafsir Kebudayaan (Kembang Merak, 2009), Perang Tubuh (PIM (2009).  Ia merupakan salah satu penggerak dari Komunitas Kembang Merak yang memilih  konsen pada kajian budaya. Republik Rimba adalah karya pertamanya yang merupakan salah satu pemenang dalam sayembara buku indie yang diadakan oleh Indiebook Corner Yogyakarta tahun 2011.

Fairuzul Mumtaz, Koordinator Obrolan Senja

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan