-->

Lainnya Toggle

Pembajakan yang Meresahkan

Oleh M. Iqbal Dawami*

Pada Jumat, 31 Juli 2010, saya melihat dwilogi novel Padang Bulan karya Andrea Hirata versi bajakan di lapak pedagang buku emperan di jalan Kahar Muzakkar, Jogjakarta. Sampulnya pucat, kertasnya sejenis kertas koran. Jadi, walaupun jumlah halamannya sama, bukunya jauh lebih tipis. Harganya pun hanya Rp 35 ribu dan bisa ditawar. Padahal, buku aslinya berharga Rp 76.500. Ada juga buku-buku lain. Di antaranya tetralogi Laskar Pelangi, Bumi Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy, dan Eclipse karya Stephenie Meyer.

Saya sedih melihat pembajakan itu. Betapa tidak, hasil karya seseorang yang sudah “berdarah-darah” menuliskan ide, gagasan, pikiran, dan perasaannya dibajak begitu saja oleh orang-orang yang rakus terhadap keuntungan semata. Bahkan jika dilihat dalam lingkup yang lebih luas, sebetulnya yang dirugikan bukan hanya penulisnya saja, melainkan juga penerbit, distributor, dan toko-toko buku yang menjual buku-buku non-bajakan. Pembelian buku asli akan menurun secara drastis seiring dengan beredarnya buku bajakan.

Saat saya mengikuti acara bedah buku dwilogi novel Padang Bulan di Toga Mas Affandi, Jogjakata, Andrea Hirata mengatakan bahwa baru diluncurkan tiga hari saja dwilogi Padang Bulan sudah dibajak, tepatnya di Stasiun Bogor. Bahkan, novel Laskar Pelangi dibajak 15 juta eksemplar.

Lazimnya, buku-buku yang menjadi sasaran pembajakan adalah buku-buku best-seller. Mulai kamus, buku panduan, novel, dan yang lain. Sistem kerjanya pun sangat cepat. Mereka jeli terhadap buku-buku yang dikategorikan best-seller.

Teknologi dan Mental Masyakarat

Tampaknya, teknologi sangat berperan besar dalam pembajakan buku. Teknologi semakin canggih, pembajakan buku pun merajalela. Pada era-era sebelumnya, pembajak melakukannya dengan mengetik ulang dan mencetaknya. Jika tidak mau repot, pembajak menggunakan mesin fotokopi. Lain halnya dengan sekarang. Mereka bisa menggunakan scanner. Buku yang akan dibajak tinggal di-scan, lalu diolah dengan program OCR (Optical Character Recognition). Produk bajakan itu bisa dijual dalam bentuk e-book atau buku cetak. Luar biasa, bukan?

Pembajakan buku di Amerika Serikat lebih canggih lagi, seiring dengan kemajuan teknologi di sana. Di Negeri Paman Sam menjamur buku-buku elektronik berformat PDF. Itu sesungguhnya hasil pemindaian buku yang asli. Pasar menuntut seperti itu, karena di sana komputer bisa dikatakan jadi barang wajib di tiap rumah. Salah satu korbannya adalah Stephen King, novelis thriller. Novelnya yang berjudul The Stand dengan ketebalan 1.100 lembar dibajak dalam bentuk PDF.

Sudah mafhum, pembajakan buku termasuk pelanggaran Undang-undang Hak Cipta No 19 tahun 2002. Tetapi, undang-undang itu tidak pernah digubris oleh para pembajak. Kenyataannya, mereka baik-baik saja, tidak ditangkap. Pembeli pun lumayan banyak. Dengan kata lain, mereka membajak karena ada pasarnya dan aman-aman saja untuk melakoninya.

Mengapa pembajakan sangat susah diberantas? Paling tidak ada dua hal, yaitu lemahnya penegakan hukum dan kronisnya mental masyarakat. Sejak dulu pembajakan buku sudah ada. Tetapi sejauh pengamatan saya, tidak ada satu pun kasus terkait masalah tersebut. Misalnya,  media memberitakan pembajak buku yang dijebloskan ke penjara. Yang sering terdengar justru aksi sweeping atas buku-buku yang tidak boleh beredar karena isinya dianggap “membahayakan”.

Di sisi lain, mental masyarakat dalam menghargai buku masih lemah. Masyarakat hanya memikirkan bagaimana mendapat buku yang diinginkan dengan harga yang relatif murah. Hal itu, saya kira, tidak berkaitan dengan isi kantong seseorang. Melainkan soal mental membeli buku. Sebab, kenyataannya, ada juga masyarakat yang hidupnya pas-pasan tapi mampu membeli buku-buku asli.

Hemat saya, jika ingin memberantas pembajakan buku, kedua hal di atas harus diselesaikan. Para penegak hukum harus serius membawa para pembajak ke pengadilan dan masyarakat diberi pemahaman melalui berbagai media agar tidak membeli buku-buku bajakan. Yang kedua itu tugas kita semua, bagaimana mengubah masyarakat yang biasa membeli buku bajakan dan menyadarkan mereka agar menghargai jerih payah pengarang maupun penerbit.

Bukan tidak mungkin, jika pembajakan buku dibiarkan begitu saja, timbul dampak negatif pada pengembangan perekonomian Indonesia. Lingkup lebih kecilnya bisa berdampak pada sang pengarang untuk enggan berkarya lagi. Persis seperti yang pernah diutarakan Andrea Hirata: fenomena pembajakan kerap membuatnya kehilangan minat menulis. Betapa tidak, riset novel dwilogi Padang Bulan selama 3,5 tahun dengan dana Rp 30 juta dibajak begitu saja.

Seorang kawan mengatakan, pemberantasan pelanggaran hak cipta oleh pembajak di Indonesia bagai memindahkan air laut dengan tangan. Dibutuhkan banyak pihak untuk turut membantu menertibkannya dengan serius, tuntas, dan istikamah.[]

* M. Iqbal Dawami, pencinta buku, aktif di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Jogjakarta

**)JAWA POS, Minggu 11 Desember 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan