-->

Kronik Toggle

MENGENANG MENDIANG NOVELIS LAN FANG- ”Satu-satunya” Tionghoa yang Membaur

Jenazah penulis perempuan, Lan Fang saat tiba di persemayaman Adi Jasa, Jalan Demak, Kota Surabaya, tadi malam.

” Hidup bukan perjuangan menghadapi badai.Tetapi bagaimana agar tetap bisa menari di tengah hujan”.

Tak hanya isak tangis keluarga yang mengiringi kepergian penulis perempuan Tionghoa Lan Fang.Bahkan bumi pun ikut menumpahkan tangis yang deras semenjak sore hari. Jasad penulis perempuan,Lan Fang,yang meninggal dunia di Singapura, tiba di Surabaya, tadi malam.

Seperti kalimat penutup pada salah satu cerpen Lan Fang berjudul ”Ciuman di Atas Hujan”,peti mati cokelat itu bukan menghadapi badai. Tapi peti mati berisi jenazah Lan Fang itu menari di tengah hujan.Guyuran air hujan membasahi bumi kala jenazah Lan Fang tiba di Ruang Persemayaman Jenazah Adi Jasa di Jalan Demak,Kota Surabaya. Semua teman,sahabat dan beberapa anggota organisasi yang aktif digeluti Lan Fang sudah menanti kedatangan jenazah sejak pukul tujuh malam.Namun jenazah yang dibawa menggunakan Silk Air baru tiba di bandara Juanda pukul 17.45 WIB.Jenazah Lan Fang tiba di persemayaman sekitar pukul 21.00 WIB.

Semua orang serempak berdiri ketika mobil jenazah tiba di tempat.Diiringi hujan, dan doa dari Romo Sakyaputra, peti diangkat menuju tempat persemayaman.Semua anggota keluarga,adik kandung, putra putri dan lainnya mengikuti di belakang dengan isak tangis.Maklum saja kepergian Lan Fang yang begitu mendadak ini membuat hati keluarga besar hancur. Lan Fang meninggalkan tiga orang putra kembar yang masih berusia 13 tahun.Dua putra bernama Vajra Viria Husala dan Vajra Vidya Husala serta seorang putri bernama VajraYeshi Husala.

Ketiganya mencium peti jenazah mamanya,seolah tak mau melepaskannya pergi. Adik Lan Fang,Janet Gautama,yang turut mengiringi Lan Fang berobat ke Singapura tak bisa berkata banyak.Janet mengungkapkan bahwa penyakit yang diderita Lan Fang tak hanya kanker hati saja melainkan sudah komplikasi.“Dan kami masih belum melakukan rapat keluarga untuk memutuskan akan dikremasi atau dikebumikan,”kata Janet. Dari pihak Majelis Budhayana Indonesia Surabaya sendiri menyerahkan prosesi jenazah kepada keluarga.

“Kami hanya bertugas untuk berdoa mengiringi sampai nantinya jenazah dikremasi atau dikebumikan,”jelas Romo Sakya satu dari tujuh Romo yang mendoakan. Di dalam kepengurusan Majelis Budhayana Indonesia Surabaya,Lan Fang dikenal pengurus yang sangat aktif.Ia menjabat sebagai Bagian Lembaga Hukum.Selain itu, penulis asli Surabaya ini juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia Tionghoa Jawa Timur atau yang dikenal Inti Jatim.“Lan Fang adalah kader kami yang hebat karena diterima di mana saja.Bahkan bisa dibilang dia satu-satunya warga Tionghoa yang benarbenar menjadi warga Indonesian”kata Ketua Kehormatan Inti Surabaya Aliptojo Wongsodihardjo.

Bahkan setelah kepergiannya, Lan Fang tak hanya menjadi milik keluarga melainkan milik masyarakat. Alip mengenang Lan Fang sebagai sosok yang penuh semangat dan satu-satunya orang Tionghoa yang berhasil melaksanakan misi Inti Jatim. “Karena sebenarnya Inti sangat menginginkan warga Tionghoa untuk menyatu dengan warga Indonesia lainnya.Dan Lan Fang menjadi satu-satunya contoh bagi kita semua,”ucapnya. Memang sepak terjang Lan Fang sudah terdengar di manamana.

Kebiasaannya yang suka bergaul di berbagai lapisan seolah sudah menjadi ciri khasnya.Bahkan ia dikenal akrab dengan Gus Sholah adik Gus Dur lantaran pernah mengajar sastra di Pondok Pesantren Tebu Ireng. Ini juga yang menyebabkannya aktif dalam kegiatan sosial masyarakat lintas agama, budaya dan hukum. Sedangkan di mata para sahabat dekat,Lan Fang juga tak jauh berbeda.Sosok yang penuh semangat tanpa pernah menunjukkan rasa sakit karena penyakit yang dideritanya.

“Beberapa waktu lalu kami masih melakukan kegiatan bersama dan dia tampak sehat.Kami bahkan baru mengetahui penyakitnya pada akhir Oktober 2011,” kata penulis perempuan Wina Bojonegoro.Hal ini pula yang disayangkan Alip bahwa penyakit mematikan ini disembunyikan oleh Lan Fang. “Padahal andai kami tahu lebih awal ia bisa diantar berobat lebih dini pula,”ucap Alip.Sayangnya semua sudah terlambat.Sosok Lan Fang sudah pergi meninggalkan dunia.Banyak kenangan yang teryinggal di benak banyak orang.Termasuk Suxin dari Perhimpunan Penulis Sastra Tionghoa yang rindu dengan pertemuan diskusi yang sering dilakukan.

Meskipun Lan Fang tak bisa bahasa Tionghoa,namun ia aktif menggandeng sastrawan bahasa Tionghoa bersamanya.Bahkan rencananya,Lan Fang akan menerbitkan satu buku syair yang diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa.Namun begitu,dari semua keinginan seorang Lan Fang,hanyalah menjadikan kebudayaan Tionghoa sebagai satu dari keanekaragaman budaya Indonesia.

Sempat Sumbang Obat Panti Jompo

Dari Sidoarjo,suasana duka memayungi rumah tipe 54 warna putih di Perum Pondok Maspion,Desa Pepelegi, Kecamatan Waru,Kabupaten Sidoarjo.Hanya dua wanita yang menunggu rumah novelis Jawa Timur Lan Fang yang meninggal dunia,Minggu (25/12),karena kanker hati. Dari raut wajahnya,dua pembantu Lan Fang,Bu Min dan Jeminah tergurat kesedihan.“Ibu itu orangnya baik.

Saya tidak menyangka akan secepat itu dipanggil Yang Maha Kuasa,”ujar Bu Min sembari menata tumpukan buku dan novel milik majikannya tersebut.Bu Min mengisahkan,penyakit Lan Fang mulai kambuh sekitar 40 hari lalu hingga akhirnya meninggal dunia. Selama ini majikannya tidak pernah mengeluh sakit dan beraktivitas seperti biasanya. Keseharian Lan Fang,jika tidak mengikuti kegiatan amal biasanya sibuk menulis.Ibu tiga anak itu bisa seharian berada di dalam kamar menulis novel.

“Kalau sudah masuk kamar, biasanya minta jangan diganggu,”ujar Bu Min,asal Singosari,Malang yang sudh ikut Lan Fang delapan tahun.Bu Min bercerita,ketika Lan Fang mengeluhkan sakit didada dia berobat jalan ke RS Mitra Keluarga.Ketika penyakitnya mulai parah,Lan Fang dirawat inap di RKZ Surabaya, kemudian RS Adi Husada,dan akhirnya berobat ke RS Mount Elizabeth Singapura. Meski kondisi penyakitnya sudah parah,wanita yang bernama lengkap Go Lan Fang berpesan kepada Bu Min dan Jeminah agar menyumbangkan obat untuk dua panti jompo di Surabaya.

” Itu terus ditanyakan ibu. Cepat kamu berikan sumbangan itu,kasihan mereka membutuhkan,”ujar Jeminah menirukan pesan majikannya. Beberapa hari lalu,sumbangan itu sudah diberikan kepada dua panti jompo di Surabaya. Sebanyak 156 paket yang sudah dibungkus dan diberikan langsung kepada masing-masing manula di panti jompo yang dimaksud. “Kondisi ibu sudah parah,tapi beliau masih ingat dengan sesama yang membutuhkan,” tambah Bu Min.

Beberapa hari sebelum ajal menjemput,Lan Fang berpesan kepada Bu Min agar dibawakan salah satu novel kesukaannya “Ciuman di Bawah Hujan”.Karena selama ini novel itu selalu dibawa kemanamana. Namun,saat sakit belum sempat dibawakan ke rumah sakit.“Saya masih mencarinya,tapi belum ketemu.Padahal,novel itu pesan terakhir ibu agar dibawakan sekalian,”aku Bu Min.

OKTALIA ARY-ABDUL ROUF
Surabaya-Sidoarjo

*) Sindo, 27 Desember 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan