-->

Kronik Toggle

Krisis Dunia Riset

Oleh: Nawa Tunggal

Riset menyuguhkan keunggulan, daya saing, dan kesejahteraan sosial. Sayangnya, riset di Indonesia masih miskin penerapan. Dari tahun ke tahun, perhatian pemerintah justru kian menyusut dengan indikasi dana riset yang kian minim.

Laporan Pembangunan Manusia (Human Development Report) 2010 Program Pembangunan PBB (UNDP) mendudukkan Indonesia pada peringkat ke-110. Dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, Indonesia kalah unggul. Singapura peringkat ke-27, Malaysia (57), Thailand (92), dan Filipina (99).

Survei Indeks Pertumbuhan Daya Saing Global (Global Growth Competitiveness Index) 2011 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-46, Singapura (2), Malaysia (21), dan Brunei (28). Survei mencakup inovasi, telematika, dan transfer teknologi.

Kedua hasil itu mengindikasikan Indonesia kalah unggul, daya saing, dan kesejahteraan sosial. Penerapan hasil-hasil riset sangat rendah.

Situasi terkini

Nani Grace Berliana, peneliti pada Pusat Penelitian dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Pappiptek) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menggambarkan situasi terkini seiring terus menyusutnya dana riset di Indonesia.

Tahun 1969-1970, anggaran riset/penelitian dan pengembangan (litbang) sebesar 2,03 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Empat puluh tahun kemudian, pada 2009, anggaran litbang menyusut dari 2,03 persen menjadi 0,21 persen dari APBN.

Secara absolut, angka nominalnya memang meningkat 420 kali. Namun, itu jauh lebih rendah dibanding peningkatan nominal APBN yang naik 4.000 kali.

Peneliti Pappiptek lainnya, Erman Aminullah, menyertakan data intensitas riset nasional yang merosot. Pada 1990 sebesar 0,13 persen, tahun 2010 menjadi 0,08 persen. Pada periode sama produk domestik bruto (PDB) naik 30 kali lipat.

Di sinilah yang menarik. Erman menyimpulkan, peningkatan ekonomi di Indonesia bukan bersumber pada inovasi dari kegiatan riset.

”Ekonomi tumbuh bersumber pengalaman informal, bukan kegiatan ilmiah formal,” katanya.

Pembelajaran diperoleh dari pengalaman pemakaian peralatan pada sistem produksi. Interaksi dengan pengguna lain, pemasok, dan perusahaan induk menjadi pembelajaran, bukan riset formal.

Berbagai produk yang diproduksi atau dirakit di dalam negeri, seperti sepeda motor, memang mengalami inovasi. Namun, inovasinya dari kegiatan riset perusahaan-perusahaan induk di luar negeri.

Komposisi pelaku

Komposisi sumber daya manusia litbang tahun 2009 sebanyak 62.995 orang, meliputi 58 persen peneliti, 23 persen teknisi, dan 19 persen staf pendukung. Belanja litbang Rp 4,72 triliun, terbagi 42,8 persen untuk lembaga litbang pemerintah, 38,5 persen untuk perguruan tinggi negeri, dan 18,7 persen untuk industri.

Ini mengindikasikan rendahnya peran swasta dalam hal belanja litbang yang hanya 18,7 persen. Dominasi belanja litbang oleh pemerintah ini berbanding terbalik dengan Malaysia.

Pemerintah Malaysia hanya memegang 15 persen untuk belanja litbang, disusul Singapura 36,6 persen dan Thailand 55 persen. Itu pun swasta di Indonesia lebih memprioritaskan belanja litbang untuk promosi 46 persen dan belanja lisensi 50 persen. Hanya 4 persen untuk riset.

Menurut Nani Grace, semua itu dapat dipahami karena manufaktur di Indonesia secara umum berteknologi rendah dengan urutan terbesar di bidang makanan dan minuman, pakaian jadi, tekstil, furnitur, karet, serta bahan galian.

Selama ini, sektor swasta kerap dikejar agar meningkatkan kontribusi dana litbang. Kenyataannya, swasta tak butuh aktivitas litbang yang tinggi.

Selama 10 tahun (2001-2011), riset kedokteran (clinical medicine) yang terbanyak dimuat jurnal ilmiah internasional, yaitu 1.020 jurnal.

Ironisnya, menurut Guru Besar Farmakologi Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Iwan Dwiprahasto, meski jadi kajian terbanyak masuk jurnal ilmiah internasional, obat-obatan masih bergantung pada bahan baku impor 96 persen. Hasil riset obat-obatan dan kedokteran banyak.

”Hanya saja, penerapan risetnya masih kurang,” kata Iwan.

Terbengkalai

Kepala LIPI Lukman Hakim mengamini ketika riset disebut miskin penerapan. Bahkan, ia mengakui banyak produk riset ilmiah formal terbengkalai.

Baru-baru ini LIPI mengekspos 130 produk riset yang umumnya tanpa sambutan dalam penerapannya. Hingga kini buntu cara optimalisasi penerapannya.

Hasil riset LIPI dikelompokkan dalam 12 kluster. ”Yang dibutuhkan pemasaran hasil-hasil riset itu,” kata Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta.

Gusti mencontohkan, hasil riset Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI berupa radar kelautan dengan jangkauan 30 kilometer yang disebut Indonesian Sea Radar (Isra). Lisensi komersialisasinya dibeli badan usaha milik negara, PT Inti. ”Belum ada yang menggunakan radar kelautan ini sebagai produk dalam negeri,” kata Lukman Hakim.

Menristek Gusti sampai mengungkapkan, pemanfaatan hasil riset hingga menjadi produk dalam negeri perlu setengah dipaksa. Namun, itu baru wacana.

Tanpa terobosan dan kemauan superkuat, potensi riset yang solutif tak akan berbuah apa-apa. Seperti tahun-tahun yang lewat.

Sumber: Kompas, 14 Desember 2011, “Riset-riset Minus Penerapan”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan