-->

Lainnya Toggle

Hikayat Pegawai Bahasa

Oleh Kasijanto Sastrodinomo

Ini bukan tulisan tentang karyawan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, melainkan kisah sekelompok sarjana dan pegawai negeri Belanda yang menekuni bahasa-bahasa Nusantara. Sekadar untuk refleksi. Dalam versi aslinya mereka disebut taal- ambtenar, seperti termaktub dalam risalah W Ph Coolhaas yang bertajuk menjulur, ”Van koloniale geschiedenis en geschiedenis van Indonesië, van historici en taalambtenaren”. Termasuk dalam pegawai bahasa itu adalah para ahli sastra lama atau filolog.

Mereka bekerja di pemerintahan kolonial di Hindia Belanda setelah menempuh pendidikan Indologie, ilmu tentang bahasa dan kebudayaan Indonesia, di negeri asalnya. Waktu itu pendidikan indologie diadakan di dua perguruan tinggi ternama di Negeri Belanda, Universitas Leiden dan Universitas Utrecht, menyusul pembentukan Koninklijk Instituut voor Taal, Land- en Volkenkunde atau Lembaga Bahasa, Geografi dan Etnologi pada 1851 dan masih bertahan sampai sekarang. Pada awalnya lembaga itu dimaksudkan sebagai tangki pemikiran bagi pemerintah kolonial menjalankan politik jajahan.

Tak heran jika muncul prasangka bahwa kedudukan para pegawai bahasa itu seperti aparat pemerintah yang lain: sebagai alat rezim kolonial. Meski demikian, Coolhaas yang mantan guru besar Universiteit van Indonesië menilai bahwa mereka telah menunjukkan diri sebagai ”pegawai yang berani dan bersikap bebas, yang memberi penjelasan tentang bahasa sedemikian rupa sehingga seluruh kebudayaan orang Indonesia tercakup di dalamnya”. Mereka meneliti beragam bahasa Nusantara sehingga menguak aspek budaya yang lebih luas.

Beberapa di antara mereka yang karyanya dikenal di sini adalah JLA Brandes, ahli sumber sastra klasik, Pararaton dan Nagarakrtagama, yang disebut ”cerita orang-orang jahat” oleh orang Belanda. Ahli Sansekerta H Kern mengkaji bahasa menelusuri tanah asal bangsa Melayu-Polynesia. Dari khazanah sastra Jawa, CC Berg menulis ulang sejarah Jawa ”dari dalam.” Letak keberanian mereka dalam latar kekuasaan kolonial ketika itu adalah mengakui arti penting sumber pribumi untuk memahami sejarah dan kebudayaan Nusantara, bukan sejarah penguasa asing, yang lebih baik ketimbang orang Eropa.

Mereka juga kritis terhadap penguasa. Herman van der Tuuk, seorang misionaris, adalah contoh menarik. ”Sebagai manusia, ia kasar, pendendam, dan tak bisa dihormati,” tulis R Nieuwenhuys, tetapi ia seorang honnête homme, moralis penentang politik Sistem Tanam Paksa. Lahir di Malaka pada 1824, ia kemudian dikenal sebagai bahasawan generasi pertama di negeri kolonial dan pernah bertugas sebagai wakil kuasa di Tanah Batak hingga sempat menyusun tata bahasa Toba. Orang Batak menyapa dia ”Toean Dertik”.

Masih banyak sarjana yang pernah bekerja di tanah jajahan seperti Roorda (sastra), Krom (arkeologi), Boeke (ekonomi), Van Leur (sejarah), Ter Haar (hukum adat), dan Snouck Hurgronje (Islamologi). Namun, jumlah mereka terus menyusut seiring dengan pudarnya kolonialisme. Tambahan lagi, kata Coolhaas, ”karena jabatan pegawai bahasa tidak lagi memberi kepastian hidup yang layak”.

KASIJANTO SASTRODINOMO Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Sumber: Kompas, 9 Desember 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan