-->

Kronik Toggle

Galang Press Tolak Terbitkan Buku George Aditjondro

Jakarta – Penerbit PT Galangpress menolak menerbitkan buku-buku yang ditulis sosiolog George Junus Aditjondro. Penolakan tersebut terkait dengan pernyataan George dalam diskusi “Membedah Status Sultan Ground dan Pakualaman Ground dalam Keistimewaan Yogyakarta” di Auditorium Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada akhir November lalu yang dinilai menyinggung perasaan warga Yogyakarta.

“Ini persoalan bisnis. Kami tidak ingin hal itu berimbas bagi usaha kami dan melukai semua,” kata Direktur Galangpress, Julius Felicianus Tualaka, saat ditemui di kantornya, Rabu 14 Desember 2011.

Dalam diskusi itu George menyatakan Keraton Yogyakarta jangan disamakan dengan Kerajaan Inggris, melainkan hanya kera yang ditonton. Pernyataannya itu mengundang kemarahan elemen-elemen propenetapan di Yogyakarta. Julianus sendiri merupakan salah satu aktivis propenetapan.

Hingga saat ini sudah ada tiga judul buku tulisan George yang diterbitkan Galangpress. Di antaranya tulisan bersama penulis lain yang berjudul Misteri Kekuasaan Soeharto serta buku Gurita Cikeas jilid 1 dan 2.

“Meskipun nanti Pak George sudah minta maaf, kami dari redaksi sepakat tidak menerbitkan lagi,” kata Julius.

Julius mengklaim bahwa selama ini hanya Kota Yogyakarta yang bersedia menerima keberadaan George. Sedangkan kota-kota lain menolak terkait dengan kritikan-kritikan George. Julius menilai George gemar mengkritik, tapi tidak mau mengkritisi diri sendiri.

“Baru kepada Pak Sultan, Pak George mau minta maaf. Sebelumnya, kepada Pak Harto (Presiden ke-2 RI Soeharto), Ramadhan Pohan, tidak mau,” kata Julius.

George saat dihubungi mengaku tidak mengetahui soal sikap pihak Galangpress tersebut. “Saya belum tahu karena belum dapat surat dari pimpinan Galangpress,” kata George melalui pesan pendek kepada Tempo.

Julius mengakui bahwa penolakan tersebut adalah sikap sepihak dari Galangpress tanpa memberitahukan kepada George. Namun Julius menyatakan tidak akan memusnahkan buku-buku yang pernah ditulis George dan diterbitkan Galangpress.

“Biarkan itu menjadi sejarah bagi Pak George dan Galangpress,” kata Julius yang berjanji tetap memberikan royalti kepada George.

Sementara itu, kelompok propenetapan yang melaporkan George ke Polda DIY, Mbah Gondo, mendesak George meminta maaf kepada masyarakat DIY. Bukan hanya kepada Sultan sebagai Raja Yogyakarta. “Yang merasa sakit atas pernyataan George adalah masyarakat Yogyakarta,” kata Mbah Gondo.

George pun meminta agar masyarakat menunggu hasil pertemuannya dengan Sultan sebagai pimpinan masyarakat Yogyakarta. “Bukankah sampai saat ini Sri Sultan adalah Sultan dan Gubernur masyarakat Yogyakarta?” kata George balik bertanya.

Sejumlah pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bulaksumur Sleman juga mengklarifikasi bahwa HMI Cabang Bulaksumur bukan sebagai penyelenggara acara diskusi di Fakultas Teknologi Pertanian UGM tersebut. Menurut mereka acara digelar oleh Komisariat Fisipol UGM.

“Itu diadakan segelintir oknum kader HMI yang mengatasnamakan institusi kami dan tidak pernah berkoordinasi dengan kami,” kata Ketua Umum HMI Cabang Bulaksumur, Dwi Nuswaantara.

PITO AGUSTIN RUDIANA

*)tempo.co 14 desember 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan