-->

Kronik Toggle

Frankfurt Book Fair 2011

Buku sebagai salah satu sumber informasi mulai mengalami perubahan signifikan terkait dengan teknologi dan kebiasaan konsumen. Perubahan buku menjadi buku digital dan buku elektronik (e-book) merupakan proses alami yang diistilahkan oleh Bob Stein, Co-editor The Institute for the Future of the Book, sebagai ”proses menguap” setelah selama ini industri buku ”mendidih”. Perubahan ini dihiasi pula dengan media sosial yang merupakan cara baru untuk mendekati konsumen.

Frankfurt Book Fair (FBF)—peristiwa akbar setiap tahun sejak lebih dari 63 tahun lalu—yang berlangsung di Frankfurt, Jerman, tahun ini diselenggarakan pada 12-16 Oktober. Acara ini diikuti 7.384 peserta dari 106 negara dan dikunjungi lebih dari 280.194 orang, meningkat 1 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Peserta pameran bukan hanya penerbit, agen naskah, dan percetakan, melainkan juga pelaku industri lain yang terkait, seperti film, komputer, dan teknologi informasi, termasuk pernak-pernik kaki lima.

Semua penerbit buku di dunia berkumpul dan mempelajari perkembangan yang terjadi di industri buku, seperti tren tema buku, teknologi terbaru, desain, serta cara pemasaran.

Dan, tidak banyak lagi menjadi ajang ”jual beli” hak cipta sebab, berkat teknologi baru internet, ”jual beli” hak cipta berlangsung di luar arena sebelumnya.

FBF sejak beberapa tahun ini menjadi sekadar kesempatan bertemu muka dengan kolega perbukuan setelah setiap saat hanya berhubungan melalui internet.

Di tengah kelesuan ekonomi dunia saat ini, pengunjung FBF 2011 masih meningkatkan masukan uang sebesar 1 persen dibandingkan dengan tahun lalu. ”Saat ini adalah awal baru dan industri buku sedang dalam semangat positif untuk memulai kebangkitan,” ujar Juergen Boos, Direktur FBF.

Industri buku cetak memang sedang menghadapi tantangan baru, seperti juga dialami surat kabar dan majalah. Perkembangan teknologi internet dan perkembangan alat pembaca buku (book reader), seperti Kindle, komputer tablet, dan smartphone, menjadi salah satu penyebab menurunnya industri buku cetak.

Laporan AC Nielsen tahun ini menyebutkan, beberapa negara mengalami penurunan penjualan buku cetak: Irlandia 8,7 persen, Inggris 6,1 persen, Amerika Serikat 5,7 persen, Spanyol 2,3 persen, dan Denmark 0,5 persen.

Hanya Italia yang mengalami kenaikan 0,6 persen.

Menurut Jonathan Nowell dari AC Nielsen, hal itu mungkin disebabkan e-book belum banyak digunakan. Sementara di Jepang, industri buku tahun ini mengalami penurunan pendapatan sebesar 1,5 persen walaupun penjualan buku naik 1 persen.

”Pemain baru”

Industri buku saat ini mulai dikuasai oleh para ”pemain baru” di media internet melalui penjualan buku elektronik dan buku cetak. Philip Downer, mantan CEO Border di Inggris, menyarankan penerbit dan toko buku bekerja sama untuk membentuk penjualan alternatif menghadapi pemain baru tersebut, seperti Apple, Amazon, dan Google.

Dia menambahkan, di Inggris, Amazon telah menguasai 30 persen penjualan buku cetak dan buku elektronik.

Di sisi lain, kehadiran buku elektronik sebenarnya merupakan kesempatan baru bagi penerbit untuk dapat memperluas pasar. Apalagi, media sosial seperti Facebook dan Twitter juga membantu penerbit menemukan konsumen.

Namun, banyak penerbit yang masih takut-takut untuk masuk lebih jauh. Hal ini disebabkan, antara lain, oleh masalah keamanan produk dan permasalahan hak cipta, seperti disampaikan beberapa penerbit dari Perancis. Umumnya para penerbit buku di sana baru dalam tahap mencoba penjualan buku elektronik.

Tampaknya pemasalahan perbukuan di Barat hanya terletak pada perpindahan media cetak ke media digital. Dan, saat ini mereka siap menghadapi era digital. David Young, CEO dari Hachette Book Group, mengatakan, penerbit harus mampu menjalankan kedua media buku, cetak dan digital, sehingga dapat membawa karya penulis kepada pembaca yang lebih luas dalam semua format.

Hal ini berbeda dengan permasalahan perbukuan di Indonesia yang masih berkutat pada minimnya minat baca dan diperparah perkembangan media digital (internet, buku elektronik, televisi, dan sebagainya). Dengan demikian, dunia perbukuan di Indonesia masih belum dapat berkembang sepesat di negara-negara lain.

Menurut data Ikatan Penerbit Indonesia, pada tahun 2010 Indonesia menerbitkan 25.000 judul buku, Malaysia 16.000 judul, dan China 189.295 judul buku baru.

Fenomena baru dalam dunia penerbitan adalah penerbitan buku independen (self-publishing), yakni penulis sekaligus menjadi penerbit. Dalam versi lain, ini berupa provider, pun menjadi penerbit.

Amazon, misalnya, tidak hanya mengunggah naskah buku ke internet, tetapi juga menjadi penerbit buku. Perkembangan ini mulai meningkat di Jerman dan Amerika Serikat.

Didukung berkembangnya buku elektronik, penulis dapat dengan mudah menerbitkan karyanya. Penulis Amanda Hocking dan John Locke bahkan dapat menjual jutaan buku melalui penerbitan buku independen.

Buku elektronik

Meningkatnya penjualan buku elektronik disikapi dengan baik oleh teknologi cetak konvensional. Menurunnya penjualan buku cetak tidak membuat mereka putus asa karena mesin-mesin ofset berkapasitas besar menjadi sangat tidak efisien. Mereka menawarkan mesin-mesin cetak digital yang mampu mencetak dalam jumlah sedikit, tetapi efisien.

Selama pameran yang berlangsung di pusat kota dagang Frankfurt ini, para produsen cetak digital mencoba membuka mata penerbit (yang sedang kesulitan menghadapi menurunnya penjualan buku cetak) akan keunggulan cetak digital. Mereka memberikan gambaran melalui poster dan brosur bagaimana tidak efisiennya cetak massal jika melihat tren menurunnya penjualan buku cetak. HP malah mengadakan tur bagi para penerbit di Korea untuk mengunjungi beberapa percetakan digital yang telah berhasil di Eropa.

Gairah penerbit-penerbit di Asia Timur sangat menonjol dalam pameran kali ini, seperti Jepang, China, dan Korea. Mereka tampil atraktif memperkenalkan buku-buku yang ternyata banyak diminati penerbit-penerbit lain di dunia. Penerbit-penerbit Asia Selatan, khususnya India, tampak sudah lebih profesional. Mereka sudah lebih berpengalaman dalam menjual buku-buku berbahasa Inggris.

Demikian pula beberapa negara Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia. Malaysia sangat gencar mempromosikan karya-karya penerbit dengan banyak mengadakan talk show dan seminar perbukuan.

Bagaimana Indonesia? Stan Indonesia kali ini diwakili oleh Ikapi Pusat serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. ”Kami pun sedang bersiap untuk menjadi tamu kehormatan (guest of honor) Frankfurt Book Fair 2015 nanti,” ujar Hawignyo bin Sumadi dari Divisi Penerbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebuah kerja besar yang tidak hanya membutuhkan anggaran besar, tetapi juga dukungan dari penerbit-penerbit di Indonesia.

Tamu kehormatan Frankfurt Bookfair 2011, Eslandia, tampil sangat menawan. Rangkaian acara yang mereka tampilkan tersusun rapi. Mereka menampilkan semua potensi yang ada, seperti dunia perbukuan, keindahan alam, kekayaan budaya, dan pariwisata.

Para penerbit di Eslandia sadar, kegiatan ini merupakan kesempatan besar bagi mereka dan Eslandia untuk dapat mempromosikan negara mereka. Tentunya, ini menjadi masukan bagi Indonesia untuk menjadi tamu kehormatan 2015. Sebagai tamu kehormatan tahun 2012, terpilih Selandia Baru dengan slogan ”While you are sleeping”.

Akankah kondisi ”menguap” yang sekarang terjadi di dunia perbukuan akan menjadi awan pekat kemudian ”selamat tinggal buku cetak”? Seperti dunia industri koran cetak, buku dalam bentuk kertas akan turun oplahnya, tetapi tetap ada keyakinan bahwa buku cetak tetap abadi!

(PATRICIUS CAHANAR Anggota Staf Penerbit Buku Kompas)

Sumber: Kompas, 9 Desember 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan